OPERASI ACL PAKE BPJS?? KENAPA TIDAK.

Hai, kembali lagi ke blog gw, udah kurang lebih 3 bulan dari tulisan gw terakhir, karena akhir2 ini lagi banyak kerjaan dan lagi males nulis. Oya, judul kali ini enggak biasa dari yang biasanya, yang sebenanya gw angkat karena banyaknya pertanyaan di group diskusi Whatapp mengenai bagaimana jika operasi ACL menggunakan BPJS. Oya, apakah BPJS bisa? itu pertanyaan.. hemm tentu saja bisa. Apa sih itu BPJS ? iya BPJS merupakan badan penyelenggara jaminan sosial yang dibentuk pemerintah untuk memberikan jaminan kesehatan untuk masyarakat, yang merupakan salah satu program pemerintah. Operasi Anterior Cruciate Ligament (ACL) itu sangat “mahal” (bagi kebanyakan orang) kareana hingga menyentuh 120 juta (kasus teman di group whatsapp), nah terus ketika kita tidak ada biaya, pupuslah harapan kita yang ingin lagi untuk berolahraga high impact :(.

Okay, disini gw akan sharing-sharing tulisan mengenai bagaimana operasi ACL dengan fasilitas BPJS, dimana tulisan ini adala resume dari Mbak Rahayu (Semarang) yang melakukan operasi ACL dengan BPJS.

Pengalaman sy pake BPJS

Jd ceritanya sy jatuh di jumat siang, dan sore hari baru dibawa ke IGD krn sblm nya nyoba tukuang urut dlu. Sy pikir hnya keseleo. Smpe sore, angkel kiri sy makin bengkak dan lutut kiri makin bengkak dan hampir tdk kuat sy gerak kan. Apa lg utk ngangkat, goyang dikit aja duuh sakitnya amit dah. Bgtu liat kaki sy yg bengkak, dokter IGD langsung merujuk sy utk foto ronsen. Hasilnya sy ada fraktur di ujung tulang tibia tepat di persendian lutut. Dikasih obat pereda nyeri dan disuruh pulang. Antra bingung dan panik. Trnyata dokter ortho tdk bs memangani mlm itu. Esok harinya sy disuruh kembali ke poli dg membawa rujukan BPJS utk mengantisipasi pembiayaan tindakan2 berikutnya. Nah, yg bs sy ingat perjalanan BPJS sy spti ni.

  1. Datang ke faskes, smpekan pd dokter ttg keluhan kita lalu minta rujukan ke RS yg dr.ortho nya kita pilih. Dokter akan mberi rujukan stlh liat kondisi kita
  2. Bw rujukan ke RS yg dipilih dilengkapi (ftcopi KK, fc ktp, fc krtu BPJS)
  3. Jika diperlukan MRI dokter akan mberi rujukan.
  4. Utk kasus sy, stlh 2x ktmu dokter spesialis diRSUD dokter mberi rujukan ke RSUP dkarenakan peralatan RSUD blm memadai
  5. Bwa rujukan RSUD kw RSUP dg kelengkapan yg sama spt no.2

Ktika di RSUP, smua penanganan gratis ditanggung BPJS. Obat, fisio dan tindakan arthroscopy. Yg tdk dicover adl alat bantu gerak spti kruk, walker dan brace. Dan *whaslap* kt temen2 😂 tp sy dpt kmren. Ouh ya, krn dokter di faskes adl dokter umum suami sy smpt kesulitan mnyampaikan kondisi sy. Smpe akhirnya dokter nyamperin sy ke mobil utk ngecek kondisi kaki sy. Baru deh beliau kasih rujukan ke RS. Sy mmg memutuskan ga masuk ke klinik faskes krn sakitnya aampuuun.. Mkin yg perlu dipersiapkna temen2 adl kesabaran. Hehee krn pasien BPJS yg sngt banyak, berbagai pelayanan mengharuskan kita antri. Misal utk MRI aja sy antri lbh dr 1minggu. Lalu jadwal dokter yg hnya 2x praktek dlm sminggu. Tp tetap semangat, in syaa Alloh BPJS bs membantu meringankan beban pembiayaan kita. Jd kita fokus aja utk sembuh, tdk terlalu terforsir pembiayaan. Oke panjang bgt curhat nya. Kl da yg kurang2 temen2 lain mkin bs menambhakan pengalaman nya ato bs ditanyakan ke sy jg. Mksih mas putu.. smga bermanfaat utk temen2. Semangat dan salam lutut sehat

 

Demikian kira-kira gambaran, teman2 jika mempunyai masalah dengan lutut. Saran gw adalah, ketika mempunyai masalah dengan lutut hal yang pertama dilakukan adalah kenali dulu rasanaya, untuk ACL biasanya akan terasa perih, dan cidera terjadi karena terplintirnya lutut (twisting) disertai atau dirasakan dengan bunyi krek, krek, krek ( 3 kali, pengalaman gw) kemudian lutut akan bengkak karena cairan di meniscus. Kompres dengan es, dan plis jangan terburu-buru untuk di urut, karena bisa jadi memperparah. Pergilah ke dokter orthopedi, minta rujukan untuk MRI dan setelah hasil MRI keluar berkonsultasilah dengan dokter spesialis orthopedi dan setelah itu baru putuskan pakah operasi atau tidak.

Ada beberapa dokter yang fasih dengan cidera ini sepert dr. andre pontoh, dr. sapto, dr. febry dan lainnya.

 

 

Advertisements

Catatan Perjalanan Annapurna Base Camp (ABC) [Part 2]

Okay, mari kita lanjutkan cerita gw kemarin di Nepal, setelah kemarin gw posting perjalanan bagian pertama  sekarang gw mau lanjutin cerita bagian ke dua, semoga cerita gw ini memberikan secercah semangat untuk jalan jauh ke Nepal :D. Sik… aku tak nyeduh kopi dulu yhaa, maklum nulisnya baru bisa jam pulang kantor alias midnight :D.

Photo gw ketinggalan, ini di lakeside Pokhara yah

17 April 2017 (Day 5) ~ Long walk (New Bridge – Jhinu – Chomrong – Sinuwa – Bamboo)

Semalam heningnya malam membawa badan jatuh ke alam tidur dan pagi dingin kala itu di New Bridge, di kasur sebelah ada Tim yang masih tidur dengan nyenyaknya. “Morning Call” yang tiap pagi selalu membawa ke toilet masih normal seperti biasa, cuman sedikit ga enak adalah airnya yang terlalu dingin untuk “itu” hehe. Sinar matahari tipis-tipis terlihat dikejauhan mewarnai salju di gunung sana, ketika awan itu tersapu dibalik bendera warna-warni itu Annapura II dengan gagahnya berdiri, memanggil setiap manusia pencintanya untuk segera mendekat. Indahnya saat itu.

Sarapan pagi dengan Black Tea dan Chappati cukup untuk pagi ini, dan kita sikat untuk makan siang yang lebih enak. Obrolan sarapan pagi dengan Tim adalah perjalanan kita akan berlanjut dan lebih jauh hari ini yaitu dari New Bridge – Jhinu – Chomrong – Sinuwa – Bamboo. Hemm.. gw gelar peta di meja makan, huft man.. it will be a long walk mate, yang akan menjadi tantangan di sini adalah jarak yang panjang selain itu adalah trekking akan naik turun naik turun naik dan turun lagi. Seperti itulah kira-kira jika dilihat dari kontur di peta.

New Bridge (1340 mdpl) ke Jhinu (1780 mdpl) –> Perjalanan dari New Bridge ke Jhinu kurang lebih 1.5 jam, dengan trek menanjak terus, sedikit mendatar ketika menemukan perkampungan di jalan setapak menuju Jhinu. Tak usah khawatir kehabisan air disini, karena sepanjang jalan dari New Bridge ke Jhinu ada beberapa tempat bisa untuk kita mengisi air (ingat bawa botol pribadi ya dan jangan buang sampah sembarangan). Setelah bertemu sungai, jalan mulai menanjak terus hingga kita bertemu lodge yang cukup asri, dan itulah Jhinu. Nah, di Jhinu ini terdapat pemandian air panas (hot spring) yang jaraknya kurang lebih 15 menit perjalanan menurun dari Jhinu (jangan lupa beli tiket untuk ke hot spring), tapi gw akan ke hot spring sekembalinya dari ABC.

Di Jhinu terdapat beberapa lodge dengan biaya sewa sekitar 180 – 200 npr per malam, dengan fasilitas kasur yang lumayan, dan kamar mandi di luar, dan di halaman hostel terdapat bebrapa weed atau ganja yang tumbuh liar dengan hijaunya. Sepuluh menit beristirahat di Jhinu menunggu Tim yang sedang bingung karena kebelet modol hehe.

Jhinu ke Chomrong (2170 mdpl) –> Eaaakkk… ini salah satu juga yang bikin lutut kiri gw bergeter (waktu itu 10 bulan pasca operasi ACL), bagaimana tidak dari bawah hingga ke Chomrong tak satupun menemukan jalan datar, hingga mendekat ke lodge di Chomrong. Tangga-tangga tersusun dari bebatuan metamorf, dari analisis makroskopis bisa dilihat jika itu adalah mineral mika, yang berkelap kelip ketika terkena sinar matahari. Dari Jhinu ke Chomrong cukup memakan waktu kurang lebih 1.5 jam perjalanan, siap-siap yah lutut, dan tetap berjalan walaupun pelan. Tips dari gw sih tetap jalan, hitung langkah kaki misal 100 langkah kemudian istirahat 1 sampai 2 menit, kemudian lanjut lagi, sehingga ritme nafas kita tetap on the track.

Jhinu ke Chomrong

Chomrong merupakan salah satu check point untuk permit ACAP, jadi jika di ringkas seperti ini. Permit untuk TIMS check point dilakukan di Nayapul sebelum masuk pertigaan Gandrukh dan Grophani, kemudian untuk permit ACAP akan dilakukan di Chomorong, tepatnya setelah turun tangga akan menuju ke Sinuwa. Itu sedikit informasi untuk di Chomrong, gw tiba sekitar pukul 11.30 dengan cuaca yang cerah sekali, hampir tidak ada awan siang itu, sehingga langit biru terampang nyata di depan mata dan jauh disana terlihat Annapurna South, beruntungnya gw melihat avalanche dikejauhan (bisa kebayang pendaki-pendaki gunung 7,000an ke atas jika terkena avalanche). Gw dan Tim berisitirahat makan siang di Chomrong dan bertemu dua bule Italy (cowo) dan bule UK (cewe) dan mereka solo traveler, obrolan demi obrolan menghiasi siang itu, gw pesen fried noodles dan lemon tea yang harganya kira-kira 200-an npr total. Untuk porsi jangan khawatir, bagi lo yang makan banyak, menurut gw makanan sepanjang Annapurna trek cukup banyak kaya porsi tukang, jadi ga masalah kelaparan, tapi inget bawa duit yang cukup yak haha.

Chomrong (2170 mdpl) ke Upper Sinuwa (2360 mdpl) –> Setelah makan siang, baju kering dan mengisi air minum kita lanjutkan perjalanan ke Upper Sinuwa. Dari Chomrong Upper Sinuwa terlihat sungguh dekat, paling juga kalo ditarik lurus ga sampe 1 km, hanya saja, ke dua tempat ini dipisahkan oleh sungai, sehingga kita harus turun dulu kemudian naik lagi haha. Seperti yang sudah gw jelaskan tadi, ketika turun menuju Sinuwa, sekitar 100 meter, kita harus check point permit ACAP, dengan menunjukkan permit dan petugas akan menuliskan nama dan asal kita (Indonesia).

Pemandangan dari lodge di Chomrong (Kelas Banget ini) hehe

Menjelang lodge di Chomrong

Tangga-tangga menurun yang berjejer tampak tiada akhirnya, lutut yang mencoba menahan beban ketika turun sungguh sedikit tersiksa, nah di Chomrong bagian bawah nanti kita akan ketemu warung yang jualan snickers, rokok, energy drink dll., namun harganya sedikit mahal bagi gw hehe.. Lanjut jalan, hingga sampai di jembatan menuju Upper Sinuwa. Nah, dari sini mulai nanjak lagi, tanjakannya mirip-mirip kaya dari Jhinu ke Chomrong, namun sedikit lebih sejuk :D, dari Chomrong ke Upper Sinuwa kira-kira 2 jam perjalanan, karena Sinuwa sendiri dibagi menjadi dua, yaitu Lower Sinuwa dan Upper Sinuwa. Siang cukup panas, haus dan kantuk hufftt… tim yang berjalan lebih cepat sepertinya sudah sampai di Upper Sinuwa. Jam 14.30 akhirnya gw sampai di Upper Sinuwa, karena ngantuk banget didukung oleh angin semilir-semilir, gw tertidur di salah pojok salah satu lodge siang itu dan terbangung sekitar 15.00.

Gw bertanya pada Tim, “Should we go now? or will we overnight here”? Tim jawab, ayo lanjut ke Bamboo…!!!!

Upper Sinuwa (2360 mdpl) ke Bamboo (2310 mdpl) –> Okay Tim, let’s go!! Kebetulan jika dilihat dari peta, Upper Sinuwa itu 2360 mdpl dan Bamboo 2310 mdpl, jadi jalan ke Bamboo akan menurun, perkiraan 1 sampai 1.5 jam untuk sampai ke Bamboo. Ternyata kenapa namanya Bamboo adalah karena menjelang lodge di Bamboo, banyak pohon bambu di pinggir jalan. Tim memutuskan untuk jalan terlebih dahulu, karena takut tidak kebagian lodge di Bamboo, kerena bulan April adalah salah satu high season pendakian di Nepal, karena cuaca yang cukup mendukung (Spring) untuk trekking. Jika, trekkers yang menggunakan jasa guide, biasanya lebih aman, karena guide mereka biasanya melakukan pemesanan kamar terlebih dahulu sebelum pendakian. Jadi, kalo kaya gw ga pake guide sama porter, jadinya harus usaha sendiri nyari kamar.

Upper Sinuwa

Sampai jam 17.30 di Bamboo, Tim yang tergopoh menghampiri gw yang baru sampai di Bamboo, “Putu, no room, but an american guy pleased to share his room to us” huftt.. untung aja bareng Tim jalan, selain bisa sharing cost juga dia gesit banget haha.. Nah, disini perasaan gw udah ga enak, kaki pegel banget, lutut kiri gw kerasa nyeri dan tebel, kepala terasa pusing. Masih bingung antara AMS atau kecapean, tapi ga mungkin juga sih kena AMS karena elevasinya masih 2600 mdpl di Bamboo. Oya, gw dan tim sempat berdebat dengan pemilih lodge disini, karena esok hari kita akan berangkat lebih awal sekitar jam 5.30, sehingga besok kita tidak pesan sarapan pagi, namun pemilik lodge dengan nada agak tinggi berkata “You sleep here, you dinner and breakfast here” woooowwww.. chill pak.. chilll… If you don’t order breakfast, I will charge you double for the room, What the fuck!!!.. Disini gw kesel banget sama bamboo, selain uda capek, pegel ditambah lagi bapak ini ngeselin. Okay, tomorrow we’ll be leaving at 6.00, can you serve our breakfast at 5.45 ? , akhirnya gw dan tim cuman pesen satu chapati dan itu pun kita bagi dua hahahaha..

Bamboo , salah satu pemilik lodge yang complain

Disini gw ketemu sama rombongan trekkers Korea yang usianya kira-kira 40-an rata-rata, duduk berkumpul melingkar berbagi beer, dalam hati gw cuman bisa melihat, betapa segaranya jika bisa menenggak segelas beer saja.. haalaaahh dasar koe kere putu (gumam gw dalam hati). Selain itu rombongan korea juga sedikit heboh, karena mereka membawa makanan mereka sendiri dari korea.. kaya film-film korea bro.. haha.. rame banget. So far, malam itu adalah malam yang ga enak, selain kamar sedikit sempit, karena 3 kasur dalam satu kamar, dan kepala yang pusing. Okay, good night mate, see you tomorrow.

18 April 2017 (Day 6) ~ ABC Yang Gagal (Bamboo – Dovan – Himalaya – Deuralli) 

Pagi ke berapa yah hari itu, gw hampir lupa dengan namanya hari, yang gw ingat adalah trekking trekking dan trekking. Seperti yang kita diskusikan dengan pemilik lodge yang jutek itu, chapati cheese pagi sudah siap dengan black tea (pesenan gw paling black tea black tea dan black tea). Packing selesai, dan lanjut trekking… udara segar pagi itu merupakan penyemangat melangkahkan kaki, dan rencana hari ini adalah Bamboo – Dovan – Himalaya dan Deuralli.

Bamboo (2310 mdpl) ke Dovan (2520 mdpl) –> Bamboo menuju Dovan bisa gw bilang trek teringan dari sebelumnya, di peta kira-kira kita akan tempuh sekitar 1 jam, namun karena saking semangatnya, kita bisa tempuh 45 menit saja. Melewati perkebunan, sungai dan pemandangan indah tentunya. Salju masih tampak di kejauhan, masih jauh sepertinya untuk bisa menggengam salju untuk pertama kalinya. Tas carrier deuter vario 50+10 L gw ini terasa berat dan tidak bertambah ringan, mungkin saran gw bawalah seperlunya, jika memang mengharuskan lo bawa carrier besar (kaya pendaki-pendaki di Indonesia), bawalah daypack ukuran 30-45 liter, karena sangat membantu sekali. Tidak usah semua di bawa sak isi omahe di lebokno neng tas mu, malah mengko mesake banget lhoo. Oiyaa .. lanjut cerita yaa.. di dovan gw cuman numpang lewat aja ga sempet berhenti untuk sekedar minum air, so lanjut ke Himalaya bro.

Kondisi Dovan pagi itu

Dovan (2520 mdpl) ke Himalaya (2920 mdpl) –> Lanjut Dovan ke Himalaya yah.. ini bukan Himalaya yang Everest itu yakk.. cuman lodge atau kampung itu namanya Himalaya. Dari Dovan ke Himalaya trek mulai mendaki lagi, kira-kira 1.5 jam perjalanan jika dilihat dari estimasi yang ada di papan informasi. Pemandangan hampir sama dari Bamboo menuju Dovan, pepohonan, suara gemuruh sungan di bawah sana, batuan metamorf yang sepanjang jalan terlihat di tebing-tebing dipinggir jalan. Namaste adalah salah satu kata yang sering kita ucapkan ketika bertemu atau berpapasan dengan pendaki lainnya, baik yang turun maupun yang naik. Begitu juga dengan porter-porter yang bertemu di jalan, gw sesungguhnya ga kuat jika melihat bagaimana porter itu bekerja. Dengan beban yang ga kira-kira, bisa sampai 80 kg, sembako yang terisi di dalam keranjang bahkan terkadang tabung gaspun mereka bawa naik. Sungguh berat pekerjaaan mereka… Lha kok malah ngelantur 😀 . Ngelantur gini, ga kerasa malah udah sampe aja di Himalaya. Disini, cuman istirahat bentar, foto-foto dan isi botol air, kira-kira waktu itu jam 09.00-an.

Selamat Datang di Himalaya

Kalo lo liat kaya gini, berarti antara masih jauh atau uda deket hahaha

Himalaya (2920 mdpl) ke Deuralli (3200 mdpl) –> Lha iki.. baru joss sekarang,,, terus naik dan naik terus.. kayanya 2 jam perjalanan menuju ke Deuralli dari Himalaya,, nambah sekitar 300 mdpl untuk sampai di Deuralli. Trek ini adalah trek favorit gw kalo boleh jujur, nanjak terus tapi ga kaya dari Jhinu ke Chomrong atau Chomrong ke Sinuwa, masih mending cuman agak panjang dikit. Selain itu pemandangan disini juga baguuuuss banget, salah satunya adalah foto terfavorit gw. Disinilah gw pertama kali ketemu salju, wah ga kerasa ketika pertama kali kaki gw menginjak salju. Horaaii nya itu luar biasa.. senyum senyum sendiri, megang megang salju, remes-remes dikit, raup-raupin ke muka.. ahh noraaakk banget tu haha..

Dari tempat pertama liat salju, di kejauhan keliatan kampung, dan gw yakin itu adalah Deuralli. Terlihat dekat sih, namun masih sejam lebih perjalanan menuju kesana. Jalan aja terus, jangan berhenti, tips lagi yah, banyakin beli makanan manis kaya snickers di kota (Pokhara), karena harganya lebih murah dibandingkan disini. Semakin tinggi tempat kita, semakin mahal harga makanan. Oleh karena itu, hemat-hemat yahh, kalo budgetnya terbatas kaya gw. Kalo, misal budgetnya sedikit berlebih gpp, makannya yang enakan dikit bisa kita dapat disini, dari western food, korean food, sampai nepali’s food.

Oya, di jalan menuju Deuralli ini gw papasan sama nenek yang umurnya kalo terawangan gw sekitar 65-an mendekati 70, tapi bro, ini nenek jalannya selow tapi jalan terus ga berhenti-berhenti, dan beberapa kali nyalip gw dan bilang ” Come on young man!! move your ass off”, jleg dalah hati gw dicengin nenek-nenek. Eh tau-taunya sampe Deuralli, kita malah ngobro bertiga sama tim sambil makan siang. Yap, dia adalah nenek petualan asal Brazil, yang sedang bertualan menjelajah India, belajar Yoga, belajar Geologi satu semester doang dan apalagi yah, nenek yang pengen ke Indonesia untuk mendaki Cartenz dan she’s nice person :D, ciao grandma..

One of my best spot

This is my first time to see and touch snow

Di Deuralli, kita dapet kamar yang tanpa harus berbagi dengan trekkers lain. Kamar kecil dengan dua tempat tidur yang nyaman (dibuat nyaman sih), ada wifi juga (tapi bayar), gw coba-coba nyolong wifi tapi ketauan kayanya karena di bill keesokan harinya ada tulisan wifi charge (shit….). Mie goreng disini enak banget, pedesnya walaupun ga sesuai sama lidah gw, tapi tetep juara sih. Pelayanannya juga ramah ga kaya di Bamboo. Oya, gw di Deuralli bawah, karena ada juga lodge di Deuralli atas. Siang itu abis makan siang gw dan tim berencana untuk lanjut langsung ke ABC (Jadi kalo ini sampe ABC, kira kira kita akan ke ABC dalam waktu 2,5 hari saja), tapi setelah 45 menit jalan kaki, awan mulai naik menyusuri lembah menuju ABC, shit, it would be hard up there Tim (kata gw). So, kita memutuskan untuk kembali lagi ke Deuralli dan ke ABC esok pagi hari. Di lodge, kita habiskan waktu membaca buku, ngobrol dengan trekkers lainnya hingga gelap menjelang.

Okay.. lanjut tulisan berikutnya yah.. gw udah ngantuk nih… njir besok kudu bangun pagi lagi (kantor man) … siii yaaahh..

 

Folded metamorphosed sedimentary rocks …

Gw ga pake sempak di luar yak

Estimasi perjalanan yang tiap lodge selalu ada

Segeerrr

Ini waktu dari Dovan ke Himalaya.. hello Tim, haha

 

 

Catatan Perjalanan Annapurna Base Camp [Part 1]

Hai, kembali lagi ke blog ini sekitar dua bulan belum gw update tulisan disini, dan tulisan kali ini adalah salah satu tulisan yang setiap ketikan kata yang gw tulis adalah kenangan dan pengalaman selama perjalanan gw dari Indonesia ke Nepal. Dan semoga tulisan ini bias bermanfaat buat lo semua yang mau berangkat trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) di Nepal.

Perjalanan gw ke Nepal adalah salah satu bentuk “target dan hadiah” setelah banting tuluang untuk mengerjakan thesis dan  keberhasilan lulus pasca sarjana, jadi ini adalah salah satu bentuk penyemangat gw untuk cepet-cepet selesai beresin thesis. Dan tiket untuk perjalanan pergi dan pulang dari Indonesia ke Nepal sudah gw pesan sejak bulan November 2016 dengan rajin mantengin harga tiket dari hari ke hari sehingga dapet harga Indonesia ke Nepal dengan transit di Malaysia adalah di harga Rp. 3,500,000,-. Sekilas ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani perjalanan Indonesia ke Nepal, salah satunya adalah Malindo Air, awalnya gw sangsi dan ragu sama maskapai ini, karena ada logo si singa yang citranya kurang baik di Indonesia dengan delay dll. nya hehehe.. namun Malindo Air menurut gw cukup baik untuk dengan harga tersebut karena ada LCD ada film Hollywood, Bollywood, Thamel, Indonesia dll. Dan juga dapet makan baik dari Indonesia ke Malaysia dan Malaysia ke Napal. Cukup rekomen untuk naik maskapai ini.

Seperti perjalanan gw yang udah-udah, gw cuman jalan sendiri dan sempet posting di Backpakcer Indonesia (BPI) tentang rencana perjalanan ini, namun tanggal nya tidak pas, selisih sehari. Jadi gw putuskan untuk jalan sendiri saja, dengan beberapa persiapan yaitu peta, global positioning system (GPS), obat pribadi, jacket dll.

13 April 2017 (Day 1)

Hari yang ditunggu telah tiba, penerbangan dari Indonesia – Malaysia – Nepal, taksi dari kantor (daerah Sudirman) mengantar gw ke bandar udara Soekarno – Hatta, supir taksi dengan rasa penasaran melihat apa yang gw bawa bertanya “Mau ke mana mas?”, hem gw jawab mau jalan-jalan pak hehe.. “Itu bawaannya banyak yak?”, iya pak, mau ke gunung eheh… l!@#&^%!@#*!&^@# dan obrolan berlanjut sepanjang perjalanan sampai bandara. He was a nice driver 😀 .

Penerbangan dari Soekarno-Hatta menuju Malaysia cukup lancar dan tepat waktu oleh maskapai ini, di dalam pesawat pramugari yang ramah dan tentunya makanan yang ditunggu-tunggu :D, penerbangan 2.5 jam ini tak akan terasa bosan karena ada hiburan yang disediakan. Sampai di bandar udara Kuala Lumpur (Malaysia) gw lanjut ke gate selanjutnya untuk penumpang transit, di kejauhan gerbang keberangkatan tersebut terlihat ramai dengan orang-orang Nepal yang terlihat seperti orang India.

Menunggu penerbangan Malaysia ke Nepal, gw bertemu dengan tiga orang yang wajahnya terlihat asing yang sepertinya ia adalah pendaki senior atau orang terkenal di bidang pendakian gunung. Terang saja setelah mengobrol dengan salah satu dari mereka ialah Mas Iqbal, seorang dokter yang akan ikut dalam ekspedisi ke Yala Peak di Nepal. Obrolan berlanjut, ia adalah Muhammad Gunawan atau Kang Ogun, seorang pendaki senior Indonesia yang telah berjuang melawan cancer dan akan melakukan pendakian ke Gunung Everest tahun depan (2018). Gw bersyukur bertemu orang-orang hebat dalam perjalanan ini, dan nanti di Kathmandu gw akan bareng dengan rombongan Kang Ogun di hostel hingga akan berpisah untuk keberangkatan ke Annapurna.

Penerbangan dari Malaysia ke Kathmandu kurang lebih 4 jam, perjalanan lancar sedikit sekali bouncing akibat cuaca kurang baik, diluar terlihat hanya kelap kelip lampu dari ketinggian. Mata terpejam dan terbangun lagi, dan gw masih di atas sini, hingga ketinggian perlahan menurun dan mendaran di Tribuvan Airport Kathmandu (Nepal). Benar kata orang bijak, bandar udara adalah gerbang pertama untuk melihat bagaimana maju atau tidaknya negara tersebut, hal tersebut gw rasakan ketika tiba di Tribuvan, jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta atau Ngurah Rai, kita sedikit berbangga, karena bandar udara kita jauh lebih baik (Balinese Pride).

Apa saja yang diurus ketika di Bandara?

  1. Pertama urus Visa Nepal, visa di Nepal adalah Visa On Arrival (VOA) jadi langsung bisa diurus ketika di bandara, biaya tergantung lama visa yang diajukan. Gw bayar $25 USD untuk 15 hari. Untuk apply visa dengan dua cara, yaitu isi formulir di kertas atau isi formulir di personal computer yang telah disediakan. Yang harus disiapkan adalah foto ukuran paspport dan jangan lupa pasa passport yah.
  2. Setelah selesai, Visa disetujui, lanjut ke bagasi
  3. Di bandara ini juga bisa langsung menukarkan USD kamu ke NPR (Nepal Rupee), ada yang bilang rate di bandara lebih bagus ketimbang di luar. Pengalaman gw kemarin, gw ga nuker dollar di bandara, karena sudah di jemput mbak vita. Rate di Kathmandu leih baik dari Pokhara. Di Kathmandu 112 npr per 1usd, di Pokhara 100 npr per 1 usd.

Sampai keluar bandara, gw bareng dengan tim Kang Ogun, dimmana Mbak Vita (Istri Kang Ogun) telah menunggu di sedari tadi. Wah gw merasa beruntuk diselamatkan di Kathmandu dengan orang-orang baik ini. Dari bandara menuju ke Shakti Hotel di daerah Thamel (pusat backpakcer di Nepal), dan kebetulan saat itu sedang bertepatan dengan tahun baru kelender Nepal, jalanan sunggu ramai, penuh klakson, pesta dan debu tentunya hehe.

Oya, untuk reservasi hotel gw menggunakan http://www.booking.com

Kang Ogun dan Team 😀

 

14 April 2017 (Day 2) ~ Ngurus TIMS  dan ACAP

Hari ke dua di Kathmandu, pagi yang sangat cerah awan biru terlihat dari celah jendela hotel gw. Rencana hari ini adalah pergi ke Nepal Tourism Board (NTB) untuk mengurus izin (permit) untuk trekking di Nepal. Pagi itu gw dan tim kang ogun, mbak vita, mas Iqbal dan pak Frans sarapan pagi bersama di hostel, lempar cerita-cerita dan pengalaman mereka tentang tujuan pendakian kang ogun, dan mbak vita yang menjadi salah satu kartini Indonesia. Gw takjub dan bersyukur bisa berbicara sedekat ini dengan mereka, orang-orang yang sangat sulit dijumpai di Indonesia, dan akhirnya bisa sedekat ini dengan mereka.

Setelah sarapan pagi gw pergi untuk mengurus permit, berbekal informasi dari petugas hostel dan peta yang disediakan di hostel. Permit yang harus di urus di NTB adalah Trekker’s Information Management System (TIMS) dan Annapurna Conservation Area Permit (ACAP), biasa masing-masing permit adalah 2000 NPR baik untuk TIMS dan ACAP. Apa saja yang diperlukan untuk mengurus permit tersebut, yaitu foto ukuran passport 4×6 warna ataupun hitam putih tidak masalah dan passport, jika diperlukan jangan lupa bawa fotocopy passport ya. Untuk alamat NTB ada di jalan Pradarshani Marg, Kathmandu. Selain di Kathmandu, kantor NTB juga ada di Pokhara jadi tenang aja.

Nepal Tourism Board (NTB), tempat pengurusan permit TIMS dan ACAP

Bagaimana jika gw males ngurus permit?, bagi lo pada yang males ngurus permit lo bisa pake fasilitas yang biasa disediakan oleh hostel baik di Kathmandu atau di Pokhara, dengan biaya 45 usd. Jadi, semua terserah lo, mau urus sendiri atau urus pake jasa hostel.

Trekker’s Information Management System

Annapurna permit atau ACAP

Hari ini gw sempetin untuk cari kartu lokal namanya NCell, untuk biaya beli kartu dan paket internet 1GB harganya 1000 npr, dengan terlebih dahulu mengisi formulir dan foto di lembar isian. Beda dengan di Indonesia, yang lo ga usah isi formulir data diri, yang kebanyakan hanya sekedar ngisi aja hahaha. Keliling seputaran Thamel yang merupakan salah satu pusat backpacker di Nepal, sepanjang jalan yang gw liat adalah toko-toko yang menjual keperluan pendakian seperti down jacket, trekking pole, botol minum, celana quick dry, kompor dll. tapi merek tersebut kebanyakan KW atau ga asli, ada The North Face (paling banyak di palsuin), Archteryx, Mammut, Marmot, Columbia dll. Namun, jika mau cari yang asli juga ada, ada 3 atau 4 counter yang menjual barang-barang original di sekitar Thamel, ada 2 counter The North Face, 1 Marmot, 1 Black Yak, 1 Moutain Hardware tinggal pilih mau masuk kemana haha. Untuk harga, gw gak shock ketika masuk ke counter The North Face, sepatu yang di Jakarta harganya 4.2 juta bisa disana harganya 2.6 juta (separuh harga) dengan model yang sama, begitu juga dengan kacamata Julbo harganya lumayan dibandingkan di Indonesia. Hehe.. kalo mau belaja silahkan hehe.

Pagi itu di Thamel

Besok hari gw rencana untuk berangkat dari Kathmandu ke Pokhara, dimana untuk trekking di ke Annapurna Base Camp (ABC) kota terdekat untuk menuju Nayapul adalah dari Pokhara. Untuk ke Pokhara ada dua pilihan moda transportasi yaitu darat (bis) dan udara. Untuk tiket bis berkisar antara 600-900 npr dan pesawat kira-kira 80 usd (informasi temen). Nah, untuk bis ke Pokhara gw pesen di hotel dengan harga 700 npr yang akan berangkat dari Kantipath road jam 07.00 pagi, lewat dari itu sudah ga ada bis lagi. Selain beli di hostel, lo juga bisa beli langsung di Kantipath road, pastikan lo dateng agak pagi sekitar jam 06.00 am lo uda disana.

 

15 April 2017 (Day 3) ~ Bis tipu-tipu dan Ketemu Tim

Pagi ini gw bangun lebih dulu dari pada alarm hp gw, mungkin karena berasa semangat dari semalem. Mandi dan sarapan gw berangkat dari hostel kira-kira jam 06.15, dengan estimasi jalan kaki kurang lebih 10 menit. Di Kantipath road, pagi itu sudah berjejer bis-bis yang akan menuju Pokhara, kurang lebih ada 20 bis yang akan berangkat ke Pokhara pagi itu. Gw tunjukin tiket gw ke salah satu pengemudi bis dan bertanya bis gw kira-kira sebelah mana, dengan gesture yang bisa gw baca (kepala geleng-geleng), dia berkata “No bus…”, okay gw masi terima, gw jalan lagi ke supir berikutnya, sama dengan gesture geleng-geleng, satu supir lagi di bilang “Perhaps two or three bus from here”, oke gw masih jalan dan akhirnya dari ujung ke ujung dan balik lagi ke ujung bisnya ternyata ga ada, what the f*ck, the hostel guy lied to me. Dan pas itu juga gw telpon si hostel tempat gw nginep, dan baru ngomong “ Hallo good morning… “ pulsa gw abis. Anjir lah… Dan solusi terakhir adalah gw beli tiket bis lagi untuk ke Pokhara dengan harga 600 npr, lebih murah 100 npr dari pada di hostel. Khan taiiikk…

Di dalem bis, gw masih belum bisa terima dengan kejadian ini, dan gw berjanji balik ke Kathmandu, hal yang pertama gw lakukan adalah dating ke hostel itu dan minta duit gw dibalikin!!!. Tepat sekitar jam 07.00 bis mulai berangkat, bis disini dilengkapi AC dan kipas angin haha.. jadi kalo lagi musim panas AC dipake, kalo lagi musim dingin lo cukup idupin kipas angin aja. Asyiknya sejam perjalanan kita sering dapet “break” untuk buang air kecil, dan lunch break. Total 4 kali break untuk sampe di Pokhara.

Salah satu tempat istirahat bus menuju Pokhara

Jalan menuju Pokhara akan ditempuh kurang lebih 8 jam perjalanan, dengan pemandangan perbukitan dan latar belakang pegunungan beratapkan salju di kejauhan. Sepanjang perjalanan gw perhatiin berapa kali truk yang berpapasan atau yang disalip, bentuknya unik dan dengan gambar-gambar dewa (siwa, ganesha) atau symbol-simbol Hindu, dan mayoritas truk yang gw liat mereknya Tata Motors, pabrikan India.

Pemandangan perjalanan menuju Pokhara

Disalah satu tempat “break” secara tidak sengaja gw melihat seseoarang dengan sandal jepit Ando dan tshirt “Rip Curl Bali” berwarna hitam duduk di tangga ketika gw selesai buang air kecil. Gw sapa orang itu, “Hey.. is it flip-flop from Indonesia?”, orang itu terkejut dan langsung membalas “ How do you know?”, I’m from Indonesia mate. Awal obrolan itu berlanjut dengan berkenalan, dan ia adalah Tim, seorang Karibia yang tinggal di Bali karena bapaknya kerja di Timor Leste, Ibu bekerja di green school Ubud, dan dua adiknya sekolah di Green School Ubud. What the fuck mate, world so closed, so you’re living in Bali now, yes I’am. Cerita-cerita dia baru balik dari Everest Base Camp (EBC) dan mau leyeh-leyeh di Pokhara dan ga mau trekking lagi (itu kata dia sih), eh see you Tim, bis gw mau jalan.

Sampe di terminal bus di Pokhara, lo akan ketemu banyak “cab” atau taksi, yang ukurannya mini dibandingkan taksi-taksi di Indonesia. Saking mininya mungkin maksimal 4 orang jika ditambah tas carrier lo, bakalan desek-desekan didalem. Dari terminal bis ke Lakeside Pokhara (pusat nya Pokhara) paling jalan kurang lebih 2.6 km, kalo naik taksi lo bayar sekitar 400 npr, jadi coba cari barengan jadi lebih murah. Gw dapet barengan 3 bule cewe, jadi share bayar 100 npr per orang. Hehe…

Hostel gw di Pokhara namanya Peace Eye hostel yang uda gw booking sebelumnya di booking(dot)com, harganya 700 npr per malam, jadi mayan lah hehehe, ga mahal-mahal amat. Sembari duduk-duduk nunggu kamar gw dibersihin, ga sengaja gw ketemu lagi sama Tim yang lagi cari hostel. Hey Tim, see you again :D, wahh obrol dan obrol akhirnya kita akan bareng ke ABC, tapi besok setelah TIMS dan ACAP doi selesai diurus sekitar jam 10 am. Alright, jadi besok ke ABC gw ga sendiri, jadi jalan bareng Tim, yeah.. :D.

Tampak depan Peace Eye hostel

Kamar denga 2 bed, 700 npr dan kamar mandi di luar

 

16 April 2017 (Day 4) ~ Fcuk ATM and Going to New Bridge

Wahh pagi yang cerah di Pokhara, gw terbangun jam 5.30 am. Ketika pintu gerbang hostel pun belum terbuka. Gw inisiatif untuk ambil kamera dan keliling pagi2 di sekitaran danau di Pokhara. Masih sepi, dan beberapa turis sudah siap-siap dengan carrier nya untuk pergi trekking atau malah balik ke Kathmandu. Udara disini boleh di bilang kaya di bedugul segernya, banyak pepohonan dan sangat berbeda dengan di Kathmandu yang berdebu itu hahaha…  Menjelang sarapan pagi, gw bertemu dengna Tim di café kopi namanya AM/PM Coffee, ngobrol-ngobrol tentang rencana untuk hari ini yaitu, Tim ambil duit di ATM, nungguin permit dan les gho.

Menjelang jam 10 am, permit Tim sudah ditangan, namun masih kendala dengan mesin ATM yang ada di Pokhara, kata Tim, mesin ATM disini terlalu tua untuk kartunya, jadi hampir semua mesin ATM di Lakeside yang dimasuki tidak bisa diambil uangnya, jadilah kita muter-muter hingga akhirnya salah satu ATM ketika menuju Nayapul berhasil ditarik.

Menuju Nayapul dari Pokhara akan ditempuh 1.5 jam perjalanan dengan taksi, namun jika naik bis local estimasi kurang lebih 3-4 jam, karena banyak berhenti dan istirahat. Perjalanan ke Nayapul di kejauhan lo bisa liat Annapurna II dengan gagahnya, dan ini pertama kali gw liat langsung gunung ditutupin salju hehehe. Oya, tarif taksi dari Pokhara ke Nayapul itu 2000 npr, lo bisa tanya ke hostel untuk pesen taksi, dan tarif taksi fixed price.

Way to Nayapul

Sampai di Nayapul, matahari sungguh terik, beberapa jeep dan taksi ngetem di warung dimana gw dan tim turun. Trekking gw kali ini adalah langsung ke ABC dan tidak ke Poonhill, karena gw berfikir karena waktu yang gw punya tidak cukup untuk trekking ke Poonhill kemudian lanjut ke ABC. So,let’s go to ABC, target hari ini adalah bermalam di New Bridge.

Dari Nayapul perjalanan berlanjut ke Siwai, mentari sungguh menunjukkan sinarnya tak hentinya, jalanan kerikil sedikit berdebu, pinggir jalan sungai dan beberapa pendaki yang telah turun dari ABC dengan senyum lebar. Jangan lupa, di Nayapul kira-kira 1 km berjalan dari ujung jalan, akan ketemu dengan pos checkpoint untuk TIMS. Sedangkan untuk ACAP akan dilakukan pengecekan di Chomrong. Lanjut berjalan setelah pengecekan permit, beberapa menawarkan untuk naik taksi atau jeep mereka, namun dengan harga yang cukup mahal. Bayangin aja 1000 rupee satu orang untuk ke Siwai, gila aja. Namun idealisme gw sama Tim luluh juga ketika kita bisa nawar harga jeep ke Siwai jadi 400 rupee satu orang, oke mungkin ini jalan terbaik hahah…

Checkpoint TIMS

Siwai adalah tempat terakhir dimana busa, taksi dan jeep mangkal. Kalian bisa naik kendaraan ketika turun dari ABC langsung ke Nayapul atau langsung ke Pokhara. Namun jika naik jeep dan taksi harganya lebih mahal.

Dari Siwai kita mulai berjalan lagi menuju New Brigdge, kurang lebih 3 jam perjalanan menuju New Bridge. Naik dan turun sudah menjadi hal lumrah di trekking ini, pemandangan yang sangat indah awan tipis-tipis, bebatuan metamorf terpajang di dinding bukit, lembah dengan suara deru air sungai mengalir. Masuk pepohonan dengan tangga-tangga batu tersusun rapih untuk pendaki. New Bridge terlihat dari kejauhan di persimpangan jalan menuju Landrukh dengan beberapa lodge disana, tim yang lebih dulu sampai telah memesan kamar untuk kita berdua. Oya, makanan disini enak dan disini gw baru tahu jika kalian mandi, akan kena charge jika make hot water.

Kiri ke ABC via Poonhill, Kanan langsung ke ABC

Lodge di New Bridge, kalo mandi bayar yah hehe

10 Bulan Pasca Operasi ACL ~ Getting Better Than Before

Ini cerita 10 bulan setelah operasi ACL dan setelah 10 bulan yang panjang ini gw merasa semakin baik walaupun belum sebaik sebelum cidera hehee…, at least hobby yang gw sering lakukan sebelum cidera bisa gw lakukan seperti biasa sekarang seperti futsal, sepakbola, naik gunung (ini akan gw tulis perjalanan gw ke Annapurna Base Camp) dan jogging. Pasti akan banyak pertanyaan tentang bagaimana operasi, dan latihan hingga 10 bulan ini. Untuk operasi ACL sendiri temen-temen bisa baca di tulisan gw sebelumnya ( http://wp.me/p2YJ5y-b2 ), dan yang paling “berat” adalah pasca operasi ACL, karena setiap orang akan memiliki semangat yang berbeda dalam pemulihan pasca operasi, selain itu tiap orang akan berbeda dalam menaikan masa otot pahanya tergantung dari apakah dia seorang atlet profesional, apakah olahragawan yang bukan profesional, dan menurut gw itu akan memberikan waktu “Pemulihan” yang berbeda-beda.

Namun pertanyaannya, selain latihan hal yang akan membuat kita kembali untuk high impact adalah motivasi dalam diri kita sendiri, gw ingat saat dimana ACL gw putus, suara pop (krek) tiga kali di lutut kiri itu masih bisa dirasakan dan 1.5 bulan masa-masa sebelum operasi adalah masa paling berat, dimana gw harus berjalan pakai dua penopang agar bisa tetap jalan ke kantor, dimana lutut kiri gw membesar karena kemungkinan cairan yang keluar dari meniscus saat dia sobek akibat twisting. Itulah saat dimana gw bertekad untuk kembali lagi seperti semula dan cidera ini adalah awal untuk lebih baik lagi, malah bukan sebaliknya cidera and we’re over. Nope. We have to fight!!!

Latihan yang gw lakukan di awal-awal cidera adalah pumping lutut, dengan meluruskan kaki kiri dan menarik bagian ujung kaki dengan kain dan mengendorkannya, kemudian latihan untuk menekuk lutut (ini yang butuh proses, kira2 hingga 2-3 bulan tergantung dari latiannya). Bulan ke 4-5 mulai latihan beban untuk mengembalikan besar paha yang hilang (kempes) akibat dua graft yang di ambil di bagian paha, proses inilah yang paling berat menurut gw, karena yang harus kita lakukan adalaah latian terus per 12 jam untuk membentuk masa otot, jadi bisa latian pagi 4 set dengan 10 kali, kemudian di lanjutkan sore hari, begitu terus hingga besar. Setelah itu latian sepeda statis, kenapa? untuk membiasakan lutut bergerak lagi, mau jogging? untuk tahap awal, jika ada kolam renang lebih baik latian jalan ditempat di kolam renang karena lutut bisa menahan beban tubuh kita lebih ringan di dalam air dan coba lari di dalam kolam. Setelah itu jika mau jogging, cobalah dahulu di treadmill, karena treadmill lebih aman selain bagian bawah treadmill tidak keras (dibandingkan lari di lapangan atau aspal) juga baik untuk lutut. Di bulan ke 6 gw uda mencoba main futsal (karena kaki gatel hehe) namun masih pelan-pelan, kemudian naik gunung Gede di Jawa Barat, dan dari situlah mulai terus melanjutkan hobby seperti biasa.

Salah satu link bacaan yang sangat membantu dalam proses menentukan gw operasi atau tidak adalah salah satu forum tentang cidera lutut di kaskus ( https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014791494/penderita-cidera-lutut-acl-pcl-dsb-masuk-sini/150 ), dari beberapa postingan sungguh membantu, namun karena ada kendala waktu untuk melihat thread di kaskus, gw putuskan untuk membuat group Whatsapp untuk penderita cidera lutut dengan tujuan mempermudah komunikasi teman-teman penderita cidera lutut. Sekian sharing pengalaman 10 bulan ini setelah operasi, semoga dapat membantu temen-temen semua untuk kembali :D, salam lutut sehat.

Sharing Session di Institut Teknologi Medan (ITM)

Pagi rintik kecil di kota Medan 27 Februari 2017, hari dimana kali pertama berkunjung ke Institut Teknologi Medan (ITM) dan juga kali pertama menginjakkan di tanah Batak ini. Kota yang panas dengan makananya yang tak henti membuat kita tambah dan tambah lagi (Babi Panggang Karo). Dapot seorang mahasiswa angkatan 2014 pagi itu menjemput dan dia menjadi pemandu gw selama di Medan, dari menjemput di bandara Kualanamu hingga sampai di Medan. Acara sharing session di ITM ini gw beri tema tentang “Introducing Fault Seal Analysis” atau bahasa kerennya “Pengenalan Analisis Sekatan Sesar”.

Menuju kampus ITM yang terletak di jantung kota Medan bak melawan kemacetan pagi itu yang tak ubahnya Jakarta di pagi hari sibuk yang macetnya membuat kita hampir gila. Suara klakson mobil, motor, betor mengaum di udara beserta asap-asap yang dengan mudahnya menyelinap ke sela-sela bulu hidung ini. Suara hardikan samar terdengar di lampu merah pagi itu. Kurang lebih 20 menit Dapot meliuk di jalanan menuju kampus ITM dan akhirnya sampai dengan menahan perut yang “perih” menahan ritual pagi.

Medan tak ubahnya seperti Jakarta untuk urusan macet jalannya.

Medan tak ubahnya seperti Jakarta untuk urusan macet jalannya.

Sampai di ITM dimana bangunan bertingkat berbaur anak SMA dan Mahasiswa (karena ITM berada pada yayasan yang sama dengan SMA itu), beberapa mahasiswa geologi dengan ciri khasnya dengan jaket kebanggaanya (jaket himpunan) berwarna oranye, rambut gondrong, muka agak sangar tanpa perawatan, dan beberapa mahasiswi geologi datang menyapa. Selamat datang Pak/Bang di ITM dengan melempar senyumnya. Gw merasakan kehangatan mahasiswa/i disini rasa kekeluargaan yang erat antar mahasiswanya. Acara seminar akan dilangsungkan di gedung itu bang, di lantai empat, seru seorang mahasiswa. Damn… *dalam hati gw bergumam, lutut gw kuat kan naik ke lantai empat hahaha…

Pemandangan dari lantai 4 gedung kuliah ITM.  Lutut gw berasa :D

Pemandangan dari lantai 4 gedung kuliah ITM. Lutut gw berasa 😀

Satu persatu mahasiwa berdatangan, hingga kurang lebih 50 orang mahasiswa hadi di dalam kelas. Hemm… sedikit nervous untuk mengawali presentasi pagi ini, karena presentasi sendiri gw siapkan malam hari kemarinnya, dan mudah-mudahan tidak mengecewakan.

Sharing Session Fault Seal Analysis

Sharing Session Fault Seal Analysis

Sharing session mengenai Fault Seal Analysis ini gw bagi menjadi empat series, yaitu pertama mengenai Seals mencakup membrane seals, kemudian tentang Juxtaposition, Fault Mechanism, Fault Stress dan terakhir adalah studi kasus aplikasi Fault Seal Analysis di industri oil and gas. Jalan dari presentasi cukup lancar dan diskusi berjalan dengan baik. Dan ternyata mahasiswa yang hadir bervariasi dari Semester 1 hingga Semester 6 yang artinya ada mahasiswa yang belum mendapatkan kuliah Geologi Struktur dan mahasiswa yang telah mendapatkan mata kuliah Geologi Struktur. Dan semoga dari 100% materi yang gw presentasikan, minimal 50% bisa diterima :D, karena Fault Seal sendiri jarang didapatkan di bangku kuliah.

Akhir dari acara ini adalah photo session dan pemberian cinderamata berupa kain ulos..yeayyy.. thanks mate.. Terima kasih atas undangannya dan sempai bertemu di lain waktu dan kesempatan.

Salam Toba .. viva la Toba 😀

 

*Terima kasih gw ucapkan untuk Dapot Nainggolan, Alwin (Rolas) Nainggolan yang telah mengantar jalan-jalan malamnya di Medan, untuk tongkrongan di mie aceh nya, dan teman-teman di ITM.

 

Thanks to Dapot  Nainggolan

Thanks to Dapot Nainggolan

 

 

 

7 Months Post ACL Surgery

Hai balik lagi di blog gw 😀 dan sedikit sumringah hari ini karena abis maen bola (lapangan besar), hal yang lama ga gw lakukan sejak ACL gw putus. Oya, tepat kemarin 7 Januari 2017 ACL baru gw berumur 7 bulan dan banyak peningkatan dari recovery selama ini. Gw ingin share beberapa hal yang gw lakukan selama proses recovery ini hingga bulan ke 7, semoga temen-temen yang sedang berjuang dengan cidera ACL tetap semangat, karena gw paham proses recovery ini memerlukan mental yang kuat, jika tidak kita akan kesusahan untuk melakukannya.

My ACL progress

My ACL progress

Untuk awal bulan setalah operasi ACL gw tulis di blog gw juga, silahkan di baca di link ini https://wijayaryputu.wordpress.com/2016/07/01/rehabilitasi-acl-1/

Kemudian untuk bulan ke 5 hingga ke 7, latian yang gw lakukan adalah jogging, memperkuat quadriceps. Nah yang terakhir ini yang terpenting selain jogging atau berlari. Dimana, setelah pasca operasi, paha kita yang cidera dimana di ambil ototnya akan mengecil yang berbeda besarnya dengan yang normal. Oleh karena itu saran dari dokter sport injury gw adalah membuat paha di lutut gw yang cidera (lutut kiri) agar sama besarnya dengan yang kanan. Untuk membersarkannya, di bulan ke lima gw menemukan caranya, setelah membaca di beberapa website dan youtube, hal terbaik dan tercepat untuk membersarkan quadriceps, hamstring adalah dengan melakukan leg press dan squat. Yang biasa gw lakukan adala Leg press dimulai dengan beban kecil (pertama kali melakukan leg press) hingga beban yang sekarang (45 kg). Untuk leg press, biasanya dilakukan dengan dua kaki, namun gw melakukannya dengan satu kaki dimulai dari yang kiri kemudian dilanjutkan dengan yang kanan, masing-masing 10 kali dengan 4 set.

Leg Press

Leg Press

Kemudian yang kedua adalah squat, ini juga membantu untuk membesarkan quadriceph kita, sema seperti leg press, disini gw 4 set dengan 10 kali repetisi. Hampir dua bulan gw melakukan ini dan paha gw sekarang sudah sama besarnya. Kenapa perlu dibesarkan? karena dengan quadriceps dan hamstring yang sama atau kuat maka akan membantu menjaga ACL kita. Oleh karena itu kenapa pemain bola tidak pernah melewatkan “Legs Day”, karena itu menurut saya sangat penting. Dan juga, jangan lupa untuk pemanasan sebelum melakukan aktivitas baik itu jogging, main bola atau apapun.

Squat

Squat

 

Hingga bulan ke tujuh, saya sudah bisa latihan futsal lagi seperti biasa, naik gunung gede dan jogging, tetap semangat untuk teman-teman yang sedang di masa pemulihan.

Naik Gunung Gede-Pangrango

Naik Gunung Gede-Pangrango

maen-bola

Sepak bola di GOR Sumantri

 

salam

wijayaryputu

5 Bulan Berlalu (Post ACL Reconstruction)


Ada harapan ketika kandas.

Telat lima bulan sudah semenjak operasi besar pertama kali dalam hidup gw itu. Sore di tanggal 7 Juni 2016 ketika lampu-lampu kamar operasi, monitor, kabel-kabel dan suara Jazon Mraz mengantar hibernasi selama beberapa jam. Tepat lima bulan juga lutut kaki bagian kiri menyokong berat badan ini dengan upaya ekstra. 

Tak ada perayaan di lima bulan ini, perayaan terindah saat ini adalah ketika dokter mengijinkan untuk mulai berlari kecil. Terbayang masih diingatan pertama kali memakai kembali sepatu lari dan melirik sepatu futsal di sebelahnya. Lutut terasa bersemangat untuk kembali merasakan aspal, namun terkadang terbesit tak selaras nya kaki dengan truma cidera kemarin. Memang lutut sekarang masih tebal rasanya karena masih terpengaruh anestesi. 

Hingga bulan ke lima pasca operasi hal yang dilatih oleh dokter carmen adalah penguatan otot paha. Bulan pertama latian angkat paha (liat tulisan sebelumnya), bulan kedua masih sama di tambah dengan beban, bulan ke tiga berdiri satu kaki dengan memejamkan mata kemudian bulan ke empat masih untuk besarkan paha, namun dokter sudah membolehkan untuk melakukan jogging, melatih gerakan dinamis dengan menggunakan Agility Ladder. Semangat terkadang mulai menurun di bulan ke dua atau ke tiga, wajar sih karena melihat hamstring yang membesarnya pelan sekali. Dengan datang kelapangan bola, tempat futsal memotivasi untuk segera bisa sembuh kembali. 

Beberapa kali menonton video di youtube untuk melihat variasi latihan pasca operasi ACL. Salah satu yang menginspirasi adalah video dari Thiago Alcantara dan Rafinha, kakak beradik yang mempunyai jenis cidera hampir sama. 

Untuk temen-temen yang cidera ACL baik yang sudah di operasi, akan operasi atau memutuskan tidak operasi, bersemangatlah karena ini bukan akhir, tapi baru saja dimulai. ACL baru dari hamstring 😊 ada dua lagi. Untuk yang belum pernag cidera lutut, pemanasan yang baik sebelum latihan ataupun pertandingan dan jika merasa kena cidera di lutut saran untuk berpikir dua kali di bawa ke tukang urut, kasian ligamen nya ketika kena partial ACL tear kalo di bawa ke tukang urut yang tidak paham malah totaly ruptured (jangan sampe kejadian ya). 

Salam 

Wijayaryputu