Gunung Semeru : Jalan Panjang Menuju Puncak Tertinggi di Jawa [Part 3 Selesai]

Malam Gemuruh Menuju Summit Attack

Hari mulai gelap suasana di Kalimati mulai hening, suara angin cukup gemuruh diluar sana, gw hanya bisa membayangkan apakah malam ini gw bisa tidur, atau malah terjaga terus hingga malam menuju summit attack. Gw berusaha memjamkan mata sebisa mungkin namun tetap terjaga, Irul yang ada disebelah gw terlihat sudah menjemput malam karena tak ada gerakan maupun suaranya. Di tenda sebelah hanya terdengar suara dengkuran yang terakhir gw tau itu adalah Mas Nikkow.

Suara angin diluar sana masih sama, gw terbayang sesuatu yang tidak enak, namun gw hilangkan semua pikiran-pikiran negatif yang hadir saat itu. Malam berlalu dan gw terbangun kaget pukul 23.00 wib, ahhh gw tadi itu ternyata tidur walaupun sebentar, angin masih kencang dan Irul ada diluar tenda sedang memasak air panas. Sebelum tidur gw sudah siapkan pakaian yang akan gw kenakan untuk summit attack, terutama celana hehe, sehingga agar mudah dan cepat jika malam-malam seperti ini. Barang-barang yang akan gw gunakan seperti headlamp, kaos kaki, sarung tangan, snack, air dll. Sudah gw packing sore tadi.

Di luar tenda gw melihat cuaca cukup cerah cahaya bintang yang sama terangnya dengan cahaya bulan purnama. Mas anky, mas risky, mas nikow, sutan dan kang luki bersiap siap di luar, Kang Luki yang memasak roti bakar yang cukup enak malam itu cukup untuk bekal kami menuju puncak. Dalam menuju puncak atau perjalan manapun pastikan untuk “menyelamatkan” diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain, bawalah kebutuhan pribadi yang dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri sebelum bergantung dengan kebutuhan orang lain. Yap, disini gw menyarankan membawa bekal air dan makanan yang cukup untuk memenuhi diri sendiri dahulu, dan kuasai dirimu. 

Kami berdoa dipimpin Kang Luki, berdoa menurut agama dan kepercayaan kami masing-masing, doa-doa untuk bisa kembali dengan selamat, doa untuk semesta mendukung langkah-langkah kecil kami untuk menuju Mahameru, doa untuk keselamatan kami semua hingga kembali nanti. Setelah selesai dengan formasi seperti biasa, dimana Irul di depan diikuti Kang Luki, Mas Rizky, Mas Nikkow, Mas Anky, Sutan dan gw.

Dari kejauhan terlihat samar-samar cahaya lampu headlamp pendaki diantara pepohonan dan batas vegetasi, jalan tanah berubah menjadi sedikit menanjak dan berkerikil kecil. Cahaya rembulan menembus pepohonan menyamarkan cahaya lampu headlamp, udara dingin terhalang hangatnya kami berjalan dibawah pepohonan. Kami berjalan beriringan, langkah kami pelan namun tetap berjalan, namun disini gw melihat Sutan sepertinya tidak dalam kondisi yang baik untuk summit attack. Tiga puluh menit berjalan dari tenda, ia terlihat menahan perutnya yang sepertinya ingin buang air besar atau diare atau I don’t know man :D, yap karena ia berjalan pelan namun inilah kesabaran yang benar kami butuhkan untuk kita bersama hingga puncak nanti.

Kurang lebih satu jam perjalanan kami mulai memasuki batas vegetasi, gelap malam membuat bayangan gw di kanan kiri kami adalah seperti jurang, kami seperti melewati jalan kecil yang jika salah berpijak kami akan terperosok ke jurang tersebut. Beberapa pendaki telah terlihat di depan, berjalan pelan pelan, begitu juga dibelakang kami beberapa rombongan pendaki mulai memasuki batas vegetasi. Jalan kami penuh tenaga, penuh usaha, pijakan pertama pun sia-sia ketika pijakan kaki harus dibalas oleh pasir-pasir itu untuk turun tiga pijakan. Langit cerah awan angina pun perlahan mereda, tak ada tanda jika angina akan bertiup kencang malam itu.

Cahaya putih bergerak dibawah sana berjejer saling menyalip sesekali cahaya merah kelap-kelip diantara cahaya putih lampu senter. Kami masih mendaki perlahan, Mas Nikkow yang mulai mual dan kehausan lebih sering berhenti dan meminum air pun Mas Anky yang hanya membawa perbekalan minum satu botol air mineral 600 ml yang tak akan cukup jika melihat cara minum airnya seperti itu, sutan yang selangkah berhenti selangkah berhenti butuh motivasi selain perutnya yang sedang bermasalah malam itu. Mas Rizky, Kang Luki dan Irul ada didepan kami walau tak jauh di mata, kami masih bisa melihat tanda mereka diantara pendaki-pendaki lainnya yang malam itu seolah teman kita semua. Ketinggian mulai bertambah dari 2900 mdpl menjadi 3000-an mdpl.

Stop….!!! Awas batu…kata-kata yang sering terucap menuju puncak selain kata-kata penyemangat AYoo….!!! Sebentar lagi kita sampai. Iya, tantangan menaiki puncak Gunung Semeru adalah pasir dan batu yang tak stabil jika tak sengaja terinjak akan jatuh dengan kecepatan yang tak tanggung-tanggung jika mengenai bagian tubuh kita akan mengakibatkan cedera. Maka dari itu disarankan tidak tidur pada saat pendakian ke puncak selain menghindari jatuhan batu juga hipotermia.

 

Mahameru Sang Guru

Energi dan semangat kami mungkin mulai luntur didera letih dan kantuk yang menerjang selain persediaan air mineral yang berkurang. Mentari mulai samar-samar menjingga di ufuk timur, jam menunukkan masih sekitar pukul 5.00 wib. Tampak jajaran bebatuan yang orang bilang adalah labirin, menandakan puncak Mahameru sedikit lagi. Suara samar-samar kegembiraan masuk ke telinga membesit semangat kami untuk segera samai di puncak, mungkin 50 atau 100 langkah lagi kami akan sampai di puncak Mahameru. Gw mulai menghitung langkah berjalan pelan tanpa berhenti dan suara-suara itu makin jelas hingga akhirnya sampai pada ujung tanjakan berubah menjadi bebatuan dengan kontur datar. Lima puluh meter dari tempat gw berdiri berkibar bendera merah putih dan orang-orang berphoto mencium bendera dan bersujud menghempas bahagia atas perjuangannya. Gw melihat jajaran pegunungan Samudra hindia nun jauh disana dan angin menghempas wajah, ingin gw tahan haru itu namun air mata bahagia tak tertahan untuk keluar. Gw berjalan pelan menuju puncak Mahameru dan lepaslah airmata itu, rasa yang bercampur lelah, bahagia, haru yang tak bisa digambarkan dalam bentuk kata-kata. Tiga menit berselang Mas Anky berjalan menuju puncak Mahameru dan kamipun berpelukan bahagia melepaskan haru. Kami enam orang yang mencoba mendaki salah satu puncak tertinggi di Jawa dengan segala kekurangan pengaturan perjalanan yang akhirnya sampai di puncak Bersama-sama tanpa satupun kami tinggalkan.

Photo bareng 🙂

 

Dan ini gw eheheh

Mahameru terima kasih atas perjalanan dan pelajaran yang engkau berikan kepada kami maupun pendaki yang berusaha singgah untuk bertemu mencumbumu di puncak. Kaki kaki kecil kami berjalan terus untuk berada Bersamamu diatas sana, terima kasih telah mengajarkan kami arti berbagi, motivasi dan toleransi. Terima kasih Mahameru, entah berapa ribu pendaki telah kau ajarkan arti pertemanan, persahabatan melalui kasihmu. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan Mahameru, walau nanti kami hanya sekedar bertamu sampai dipelataranmu (Ranu Kumbolo).

 

Wijayaryputu.

Advertisements

Gunung Semeru : Jalan Panjang Menuju Puncak Tertinggi di Jawa [Part 2]

Menuju Ranu Pane

Dari basecamp Kaldera Adventure di Malang, gw dan Mas Anky berbagi tugas dimana gw membeli memory yang diminta Kang Luki di salah satu toko handphone di Malang dan mencari spritus untuk untuk kompor Trangia gw sedangkan Mas Anky membeli perlengkapan logistik seperti air mineral, indomie dll.

Berangkat menuju Desa Tumpang terlebih dahulu untuk menjemput teman-teman lainnya dan photocopy bebrapa persyaratan yang dibutuhkan seperti KTP, surat sehat dll., ternyata surat sehat yang kami bawa tidak berlaku di Ranu Pane, penjelasan berikutnya. Menuju Desa Tumpang merupakan melting pot para pendaki sebelum ke Ranu Pane. Di desa tumpeng kita akan mencari jeep dan membeli sembako untuk pendakian. Oya, guide pendakian adalah Irul seorang mahasiswa tingkat akhir yang mengambil studi Pendidikan luar sekolah (gw bingung sih ini, belajarnya apaan), ia sempat cuti kuliah 2 tahun dan sekarang sedang melanjutkan tugas akhirnya, semoga sukses ya bro.

Menuju Desa Tumpang dari Malang menggunakan angkot (Irul yang pake topi)

Sesampai di Desa Tumpang kami turun dari angkot dan mempersiapkan kebutuhan tambahan seperti sayur, buah dll., dan berpindah dari angkot menggunakan Jeep sewaan menuju Ranu Pane. Obrolan dari driver jeep, jika sekarang surat sehat untuk pendakian Semeru maksimal adalah H-1, yang berarti surat sehat yang kami bawa dari Jakarta sudah tidak berlaku semua, jadi solusinya gimana?, ada beberapa klinik yang bisa dirujuk sebelum menuju Ranu Pane atau bisa cek kesehatan di Ranu Pane. Pilihan kami diantar ke klinik menuju Ranu Pane, dengan jika tidak salah Rp. 15,000/orang, yang dicek adalah tinggi badan dan tensi darah, kebetulan tensi darah gw agak tinggi karena masih kena efek belum tidur dari semalam.

Jeep dari Desa Tumpang menuju Ranu Pane (Kami berhenti sejenak untuk cek kesehatan)

Cek kesehatan yang merupakan salah satu syarat untuk mendaki Gunung Semeru

Perjalanan menuju Ranu Pane dari Desa Tumpang mengingatkan gw waktu bawa motor dari Malang menuju Bromo malam di bulan September 2017. Jalur yang sama, udara dingin angin nyiur menampar wajah dan gw berusaha untuk memejamkan mata selama perjalanan menuju Ranu Pane dan terbangun karena beberapa kali mobil melewati jalan berlubang, disebelah kiri terlihat kaldera gunung bromo dan hamparan pasir bagai film The Martian (Mars Expedition) dan di depan mata puncak berwarna abu-abu yang kita sebut sebagai Mahameru menanti kami disana.

Gunung Bromo

Sampai di desa Ranu Pane jeep kami menepi di tanah yang berdebu, bruk sepatu menginjak tanah dengan debu berterbangan terbawa angin, tas-tas carrier dan perlengkapan makanan diturunkan. Para pendaki sibuk dengan kelompoknya masing-masing pun begitu kami yang sibuk menurunkan barang-barang dan akan memeprsiapkannya di pos Ranu Pane diatas sana. Selain ditemani oleh pendaki, kami membawa dua orang porter yaitu Mas Sapu dan Mas Gocel. Mas Sapu dari penampilan agak berisi (gemuk) dan ini pertama kalinya dia sebagai porter, karena biasanya dia adalah guide baik Gunung Semeru maupun Bromo. Sementara Mas Gocel adalah partner dari Mas Sapu. Penampilan mereka berdua asik, mas sapu dengan rambut pirangnya begitu juga mas gocel, dan mereka asyik sih untuk diajak ngobrol dll. Kebetulan nyambung sama Mas Sapu karena sama-sama suka musik punk.

Setelah mengurus semua perlengkapan administrasi di pos Ranu Pane, kami bergegas mengepak barang-barang pribadi maupun kelompok yang dibantu oleh Mas Sapu dan bersiap untuk mengikuti briefing yang dipresentasikan oleh dua orang relawan Gunung Semeru. Dimana beberapa peraturan-peraturan dan larangan dibahas, baik mengenai jalur pendakian ke puncak ataupun larangan seperti tidak menggunakan tisu basah, kesehatan, membung sampah dan mengambil tanaman di oro-oro ombo hingga penggunaan drone di gunung semeru. Briefing itu cukup membantu gw ataupun teman-teman pendaki yang baru pertama kali ke Gunung Semeru, karena cukup informatif dan memberikan sedikit senyuman bagi kami.

Menuju Ranukumbolo

Dari pos Ranu Pane kami berangkat sekitar pukul 17.00 wib mungkin terlalu sore untuk memulai pendakian menuju Ranu Kumbolo, Irul guide kita memulai dengan doa semoga dalam perjalanan ini berjalan lancar, sementara Mas Sapu dan Gocel telah berangkat lebih dahulu karena harus mendirikan tenda dll. Berjalan menuruni jalan beraspal yang di kanan dan kiri kami terdapat hijaunya pepohonan dan tanaman kol yang lurus membentuk rangkaian pola garis-garis indah.

Gw dan Mas Anky yang kurang cukup tidur di kereta mungkin saat itu menjadi orang yang paling lemah, kepala berasa pusing dan berjalan pun dengan rasa kantuk, bingung mengatasinya, cita-cita gw hari ini adalah segera sampai di Ranu Kumbolo dan menyeruput teh dan kopi hangat sembari duduk di dalam tenda adalah khayalan semu gw saat itu. Menuju Ranu Kumbolo diperlukan waktu kurang lebih 3.5 – 4 jam perjalanan dan melewati empat pos, morfologi pun naik, turun dan mendatar. Dibutuhkan kesabaran untuk sampai Ranu Kumbolo.

Menuju Ranu Kumbolo kita akan melewati empat buat pos atau shelter yang dapat digunakan pendaki untuk beristirahat atau membeli cemilan seperti semangka, gorengan ataupun minuman hangat. Bapak ataupun Ibu penjual pun dengan ramah melayani para pendaki yang silih berganti beristirahat di shelter. Sebelum menuju pos 4 terdekat dengan Ranu Kumbolo, jam telah mununjukkan pukul 8 malam, hanya terlihat bintang dan bunyi binatang malam kala itu, halimun malam pun mulai muncul menyelami pekatnya malam, lampu headlamp menyinari jalan setapak kami. Dibalik pepohonan mulai terlihat lampu-lampu kecil yang menyala dibalik tenda warna-warni dan pantulan cahaya bulan yang merambat di danau Ranau Kumbolo.

Mas Anky yang terlihat lelah di depan gw, dengan jalan yang mulai menyeret kaki karena kelelahan dan kurang tidur di kereta mulai sedikit menggerutu, “Masih jauh gak ya tenda kita?” gumamnya, di depan mas itu udah kelihatan. Jalan menurun dari Pos 4 memberi sedikit harapan, karena ada beberapa tenda telah berdiri dibawah sana, jadi kami pun berpikir bahwa tenda dibangun Mas Sapu disana namun harapan dan perut lapar kami pupus karena tenda dibangun di dekat shelter Ranu Kumbolo. Masih diperlukan kurang lebih 15 menit untuk menuju shelter Ranu Kumbolo.

Yuk mas, bentar lagi kita sampai, coba menyemangati. Jujur efek dari kurang tidur itu masih ada di badan gw, yang rasanya jalan sempoyongan dan susah kepala pusing. Semakin berjalan tenda semakin membesar, suara-suara pendaki semakin terdengar dan kami mendekat dengan tenda kami malam itu. Ada tiga tenda telah dibangun kapasitas 3-4 orang. Mas Sapu telah memasak nasi sebelumnya, namun lauk dll. Belum kita masak. Teman-teman yang baru sampai mengeluarkan barang-barang dalam carriernya, mengeluarkan matras. Irul, berinisiatif untuk memulai menyalakan kompor, memasak air untu membuat kopi dan teh panas, dan gw memasak mie instant kuah dengan sayur wortel. Perut lapar kami masih bisa bernegosiasi dikondisii ini.

Tak ada perbincangan ngalor-ngidul malam hari seperti yang biasa gw atau pendaki lain lakukan malam itu, karena lelah dan untuk recovery tenaga untuk melanjutkan perjalanan esok hari menuju Ranu Kumbolo. Gw setelah membersihkan peralatan makan, sisa makanan dll., masuk tenda dan entah tiba esok hari.

Pagi di Ranukumbolo dan Kalimati Yang Sepi (Hari ke 2)

Semalam gw hampir tak ingat apapun, ingatan terakhir adalah ketika gw menarik sleeping bag dan memasukan badan kedalamnya. Tenda terasa hangat, mentari samar terlihat dibalik tenda, sebuah bulatan terang yang susah untuk ditatap berlama-lama, ketika itu baru jam 06.10 wib dan sudah terasa terik. Irul yang tidur di sebelah gw sudah ada diluar tenda memasak air dan persiapan sarapan. Resleting pintu tenda terbuka dan menghirup udara dan hangatnya mentari pagi itu di Ranukumbolo sebuah kenikmatan sendiri, dengan pemandangan danau dan embun-embun pagi yang terbang melintas terbawa angin.

Pagi di Ranukumbolo

Hari ini merupakan hari ke 2 pendakian menuju Mahameru, perjalanan hari ini akan dilanjutkan hingga Kalimati dan bermalam sebelum pendakian ke puncak Mahameru. Waktu tempuh menuju Kalimati kurang lebih 3 hingga 4 jam perjalanan melewati beberapa pos yaitu Cemoro Kandang, Pos Jambang dan Pos Kalimati. Perjalanan dari shelter Ranukumbolo kami mulai pada pukul 09.00 wib yang didahului dengan doa. Tanjakan Cinta ada didepan kami, sebuah tanjakan yang mitosnya jika kalian sedang bersama kekasih melalui tanjakan tersebut, janganlah berhenti dan melihat kebelakang, jika berhasil melewati tanjakan cinta makan cinta kalian atau pasangan tersebut akan abadi. Sebuah mitos yang berkembang dan masuk didalam novel karya Donny Dirgantoro.

Foto bersama dengan latar Tanjakan Cinta (Nikkow, Luki, Sutan, Rizky, Gw, Anky)

Jalur Tanjakan Cinta bisa dibilang “cukup lebar”, jika dari cerita pada waktu briefing kemarin jika dari di pos ranupane adalah booming pendakian menuju Gunung Semeru sejak “meledaknya” film 5 CM. Sehingga ledakan semeru tak sebanding dengan konservasi dan kesadaran para pendaki untuk menjaga lingkungan di sekitar Ranukumbolo dan Taman Nasional pada umumnya. Ini mungkin stereotip namun perlu kesadaran penuh bagi pendaki untuk menjaga alam disana.

Oro Oro Ombo

Menuju Cemoro Kandang

 

Oro Oro Ombo

 

Landskap Oro-oro Ombo

 

Menuju oro-oro ombo yang teletak dibalik Tanjakan Cinta seperti melihat suatu scene film yang berbeda. Melihat oro-oro ombo yang terletak di lembah dengan warna ungu luas dan hamparan “savanna” dengan latar belakang puncak Gunung Semeru yang masih samar-samar. Angin bertiup menerpa wajah diikuti diikuti hawa sejuk yang mengantar langkah untuk melewati oro-oro ombo menuju Cemoro Kandang. Turun menuju oro-oro ombo dibalik semak-semak tak jarang melihat muda-mudi yang sedang membuat video blog (vlog) ataupun sekedar mengamadikan moment mereka berdua, gw pun hanya tersenyum melihat pasang muda dimana si mbak yang meminta mas cowo untuk mengambil photo untuk kali kesekian, ahh apa mungkin photo tadi tak laik untuk dipasang dikolom aplikasi Instagram.

Gw sungguh menikmati perjalanan di oro-oro ombo, sementara masih di atas sana Kang Luki sedang menerbangkan dronenya untuk mengambil video dan kami tetap berjalan menuju cemoro kandang untuk menunggu Kang Luki. Tak sampai satu jam waktu diperlukan dari Ranu Kumbolo menuju Cemoro Kandang mungkin jika berjalan terus bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Di Cemoro Kandang banyak vegetasi pohon pinus yang bila tertiup angin akan ada suara seperti “badai”, di pos ini pun ada masih ada yang jualan, jadi tak usah khawatir jika kalian dahaga.

Terus berjalan pukul 12.20 wib kita sampai di Kali Mati, hanya beberapa tenda berdiri di tempat kami istirahat untuk melihat tempat memasang tenda. Tak berselang Mas Sapu gan Gocel sampai dan istirahat sejenak sebelum mendirikan tenda. Posisi tenda kami cukup strategis, agak sedikit jauh dari jalur menuju shelter dan pemandangan di depan pintu tenda adalah puncak semeru. Mas Sapu, Irul mulai memasak makanan untuk makan siang dan persiapan makan malam, sarden, indomie, telor, nasi dll., adalah menu kami untuk makan siang.

Pos Jambangan 

 

Pos Kalimati

Udara dan suasana di Kalimati saat itu sungguh suasana yang memang gw harapkan dan mungkin orang-orang harapkan. Pergi dari hiruk pikuk keramaian kota meninggalkan dering handphone ataupun notifikasi surel yang masuk mengingatkan pekerjaan ataupun suara umpatan orang-orang di jalan. Udara sejuk, pemandangan puncak gunung semeru dan saut-saut suara pendaki dikejauhan. Gw duduk beralaskan matras melihat puncak Gunung Semeru yang seolah-olah bergradasi hijau menuju abu-abu, yang menandakan batas vegetasi diatas sana, sembari melihat jalur menuju puncak yang orang-orang bilang sangat susah dibandingkan dengan Gunung RInjani. Hayalan gw masuk lebih dalam membayangkan saat summit nanti terbangun malam hari, dan terkadang berkhayal tentang pendaki-pendaki yang tersesat dan meninggal pada saat summit attack menuju Mahameru. Ahhh hayalan gw saat itu membuat adrenaline gw meninggi yang gw jaga dalam diri gw sendiri.

Teman-teman lainnya sedang tidur di dalam tenda siang itu selepas makan siang, gw mencoba untuk tidak mengambil jatah tidur karena takut tidak bisa tidur malam nanti. Mas Anky dan Irul duduk sembari menatap puncak Mahameru, gw datang membawa kopi aceh gayo tubruk hangat untuk diseruput, dan kemudian diikuti kang luki yang ikut bergabung. Obrolan kami cair dari a hingga ke z, sampai kami berdiskusi mengenai rencana summit Mahameru. Irul selaku guide kami dan Mas Sapu yang juga adalah “guide” memberikan gambaran untuk rencana summit attack. Dikarenakan ada beberapa rombongan yang akan  tiba di Kalimati maka mereka menyarankan untuk memulai pendakian pada pukul 00.00 wib malam hari agar tidak “bertabrakan” dengan pendaki lain, selain itu juga untuk aspek keselamatan. Dan oborolan sore itu kami tutup untuk kembali menuju tenda masing-masing untuk bersiap.

Puncak Semeru dari Kalimati

 

Gunung Semeru : Jalan Panjang Menuju Puncak Tertinggi di Jawa [Part 1]

Debu terik berganti gumpalan awan mengepal erat dilangit biru Jakarta pada bulan Maret 2018, orang berlalulalang sibuk dengan layar beberapa inchi di depan mukanya. Hari-hari kebelakang maupun kedepan sepertinya akan sama seperti biasanya, kerja, main bola dari senin sampai dengan hari minggu begitu terus berulang sejak 11 bulan terakhir, setelah pendakian terakhir gw ke Annapurna Base Camp (ABC), bukan karena tidak mau jalan namun teman-teman gw yang biasa naik bareng sudah pada berkeluarga (dilema usia “muda’) dan menjalani hidup masing-masing. Sejak itulah gw sibuk dengan organisasi dan main bola saja, terkadang jikapun ada niat trekking seperti ke Gunung Gede, ternyata masih ditutup atau lagi musim hujan. Begitulah gejolak hidup.

Siang itu Mas Anky (salah satu temen gw yang getol main bola) ngirim whatsapp (WA) yang isinya bukan ngajakin main bola (tumben sih ini) namun ngajakin naik Gunung Semeru, wahh tanpa pikir panjang gw mengiyakan ajakan Mas Anky, kerena kebetulan tanggal tersebut adalah hari kejepit nasional juga waktu hari buruh.

Singkat cerita keberangkatan pada awalnya adalah sekitar 9 orang, namun karena sesuatu kesibukan jadilah kita berangkat 6 orang yaitu gw, mas anky, mas rizky, mas nikkow, pak luki dan sutan. Mas anky, risky dan nikkow adalah teman seperkantoran dulunya, namun risky dan nikkow pindah kantor, sedankan pak luki adalah teman mas anky di geotrek dan sutan adalah anak dari teman istri pak luki (rada ruwet dikit) dan gw adalah teman mas anky doang. Jadi, empat orang yang ada dalam pendakian semeru adalah orang baru dalam perpendakian gw. So, it’s gonna be a good day tho.

Drama Pendaftaran Pendakian

Setelah pendakian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru resmi dibuka pada tanggal 4 April 2018 dan beberapa slot pendakian pada tiap harinya adalah sekitar 600 orang. Kang Luki mendaftarkan semua nama kami plus Mas Alwi yang batal untuk ikut ke Gunung Semeru. Waktu berjalan dan merasa aman karena telah didaftarkan namun sedikit berubah menjadi baper bagi gw dan hampir memutuskan untuk tidak jadi ikut mendaki dengan rombongan tersebut karena 3 hari sebelum pendakian ternyata pembayaran 7 pendaki belum terbayarkan, come on… gw udah beli ini itu tiket dan segala blah blah blahnya ahaha,, siap-siap barang-barang pendakian namun malah belum dibayarkan. Kenapa merasa tidak aman? Karena dengan beberapa peraturan baru di Gunung Semeru yaitu pembayaran tiket pendakian dilakukan selama 3 hari setelah pendaftaran online, yang berarti jika 3 hari belum dilakukan pembayaran maka status pendaftaran kami akan hangus dan akan masuk ke status tersedia untuk yang lain.

Siang itu mood gw tiba-tiba turun dan udah hampir 90% untuk tidak ikut dalam pendakian itu, karena ada beberapa wacana untuk go show dan ke Ranu Pane,, hemm..  But, I don’t know how sehari sebelum keberangkatan database kami masi “nyangkut” di sistem pendaftaran Gunung Semeru, jadi gw jadi berangkat walau mungkin nanti jika ketemu dengan teman-teman baru akan sedikit canggung akibat drama tersebut. Ya sudahlah, toh kita akan mendaki bareng-bareng.

Kereta Ekonomi Yang Ga Ekonomi Banget

Keberangkatan ke Malang menggunakan kereta Ekonomi AC yang gw beli dengan harga Rp. 260,000,- mungkin karena libur panjang hitungannya dan beberapa penerbangan ke Malang menggunakan pesawat langsung terlampau mahal menurut gw, mungkin karena ga mampu akakakak. Nah, untuk keberangkatan ke Malang, gw dan mas anky menggunakan kereta api dari stasiun senin, sementara Mas Risky, Mas Nikkow, Kang Luki dan Sutan menggunakan pesawat keesokan harinya.

Hari Jum’at sebelum istirahat makan siang, gw izin untuk setengah hari kerja dan langsung menuju Stasiun Senen, dimana Mas Anky sudah tiba terlebih dahulu disana. Keberangkatan gw dari Stasiun Senen adalah pukul 13.00 wib dan diperkirakan tiba di Malang sekitar pukul 02.00 wib dinihari. Kereta berangkat tepat waktu, gw ada di gerbong 1 (depan) sementara Mas Anky ada di gerbong 2. Suasana di dalam kereta menurut gw cukup nyaman dengan air conditioner (AC), duduk dengan kursi tegak berhadapan (4 orang) dan pemandangan di sisi jendela. Teman duduk gw adalah seorang pekerja konstruksi yang kebetulan pernah merantau di Tarakan, Kalimantan Utara. Obrolan gw dengannya cukup nyambung karena pernah sama merantau di Tarakan walau dengan tahun yang berbeda. Dihadapan gw ada seorang mbak-mbak yang sedikit dangdut, dengan muka khas jawa dengan medhoknya, favorit musiknya itu adalah remix lagu-lagu koplo yang disetel dengan stereo loudspeaker hingga gw pun harus mendegarkan music gw hahaha. Semetara itu ada Mbak Farida yang bekerja di Cikampek, seorang jebolan Teknik Universitas Indonesia. Mereka bertiga akan turun di Semarang dan melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Suasana di dalam kereta ekonomi AC

Mencoba tidur di kereta adalah perjuangan yang paling berat menurut gw, beberapa kali mencoba tidur namun tetap tak bisa memejamkan mata untuk menjemput mimpi walau 1 jam saja. Mungkin karena gw bisa tidur sedikit lelap jika kaki harus diselonjorkan dan kepala merebah disandarkan. Sampai lupa berapa kali sudah kereta berhenti di stasiun-stasiun seperti Cirebon dan gw lupa ahhaha… waktu yang singkat itu digunakan bagi penghisap tembakau untuk sebatang hingga dua batang untuk sekedar mengasapi paru-paru mereka. Memang sekarang pihak kereta api memberikan tindakan tegas bagi meraka yang kedapatan merokok di gerbong kereta yang sedang berjalan, tidak main-main bagi penumpang yang kedapatan merokok maka akan diturunkan pada stasiun berikutnya. Kebayangkan lo kalo lo mau ke Malang, trus kedapatan merokok dan diturunkan di stasiun yang sepi dan susah akses angkutan umum ahahahahaha.

Nasi campur di Stasiun Cirebon – Kereta akan berhenti kurang lebih 10-15 menit, bisa untuk membeli nasi/soto ataupun merokok

 

Hamparan sawah sepanjang perjalanan

Kereta tiba di Malang tepat waktu, pukul 02.00 wib, ketika keluar kereta udara dingin dan sejuk kota Malang menyambut, tak menusuk kulit namun bisa membayangkan bagaimana dinginnya nanti di Ranukumbolo atau puncak Gunung Semeru. Beberapa para pendaki terlihat bernegosiasi dengan para supir angkot yang akan mengantar mereka ke Desa Tumpang. Sementara beberapa ada yang memilih untuk beristirahat di “foodcourt” yang ada di seberang stasiun Malang untuk ngopi atau sembari menunggu teman atau rombongan mereka yang masih dalam perjalanan untuk sampai di Malang. Gw dan mas anky memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di foodcourt itu berharap bisa untuk terlelap walau hanya beberapa jam dan melanjutkan ke tempat mas billy untuk berangkat dengan angkot menuju Desa Tumpang.

Nb: ini adalah pendakian pertama gw menggunakan guide dan porter, ada sedikit perasaan yang aneh ketika lo harus mendaki dan masakan telah jadi atau mendaki dengan “stranger”, but it would be an experience.

 

 

 

Tiga Langkah Mudah Mengurus Perpanjangan Passport

Beberapa bulan lagi passport yaitu di bulan Agustus passport gw akan memasuki masa purna dan oleh karena itu baktinya pun harus diperpanjang. Banyak pertanyaan dalam benak gw tentang gimana ngurus perpanjangan passport, baik itu pertanyaan mengenai apakah daftar online, manual atau katanya ada daftar melalui applikasi pesan Whatsapp, pershyaratan yang dibutuhkan dan lainnya. Awal januari lalu gw googling mengenai cara perpanjangan passport di laman cari banyak sekali tautan yang memberikan informasi baik yang resmi dari imgirasi ataupun dari beberapa situs berita dan blog. Berikut gw coba berbagi pengalaman ketika perpanjangan passport di kantor Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pertama

Hal pertama yang gw lakukan sebelum perpanjangan passport adalah mendaftar online, pendaftaran online dapat dilakukan dengan mengunduh aplikasi imigrasi yang baru tersedia di aplikasi android atau mendaftar melalui website imigrasi untuk mencari tanggal dan jadwal antrian (https://antrian.imigrasi.go.id/). Masuk login ke halaman antrian imigrasi atau daftar terlebih dahulu, setelah itu silahkan pilih imigrasi terdekat atau yang bisa kalian tuju, jika ketika memilih tanggal berwarna abu-abu atau tidak bisa di klik, maka tanggal tersebut kuota sudah penuh. Silahkan mencari tanggal lainnya atau tempat imigrasi yang lain.

 

Kedua

Setelah proses pertama, kita masuk ke proses/tahapan kedua. Jadwal yang gw dapatkan untuk perpanjangan passport untuk antrian online adalah jam 09.-00  hingga 10.00 wib, jadi secara sistem pihak imigrasi telah memberikan kloter-kloter bagi pendaftar online. Dengan sistem tersebut, kita berhak mengambil nomor antrian hanya pada rentang waktu tersebut. Kita belum atau tidak bisa mengambil nomor antrian pada jam 08.00 hingga jam 08.59 misalnya.

Gw datang ke imigrasi di Kelapa Gading kira-kira jam 06.00 wib, dimana sampe sana masih gelap, imigrasi masih tutup. Lokasi kantor imigrasi Kelapa Gading berada di ruko-ruko, dimana dua ruko dijadikan satu kantor, yah cukup untuk menampung orang untuk pembuatan passport baru atau perpanjangan passport.

Sampai disana petugas jaga (satpam) akan menanyakan apakah sudah mencetak formulir pendaftaran online atau belum. Jika belum petugas akan memberikan bantuan cetak formulir, selain itu yang kita bawa adalah photocopy KTP dan Passport dengan ukuran kertas A4 dan tidak digunti dan menunggu nomor antrian anda dipanggilya, dan jangan lupa mengambil lembar formulir berwarna kuning (formulir perpanjangan passport) dan mengisi data diri asli dan dengan materai (jangan kuatir di imigrasi ada jual materai dan jasa photocopy).

Nomor antrian gw dipanggil mbak ‘robot’ yang menyebut nomor antrian dengan mengejanya dan pastikan jika antrianmu berapa lama lagi, agar tidak dipanggil berkali kali (ntar malah gagal pula). Di meja pendaftaran mbak-mbak petugas memeriksa kelengkapan dokumen dan menanayakan beberapa hal, kaya untuk apa perpanjang, alamat, pekerjaan dll. Cuman itu singkat sih, ndak akan butuh waktu lama. Setelah itu kita akan diberikan nomor antrian lagi untuk ke loket berikutnya yaitu sesi photo dan formulir untuk ditandatangani dan melakukan pembayaran. Proses kedua ini tidak terlalu memakan waktu cukup lama.

 

Ketiga

Pembayaran perpanjangan passport pada proses ketiga adalah pembayaran sebesar kurang lebih Rp.355,000,- untuk 48 halaman. Untuk pembayaran dilakukan di bank BNI atau di kantor imigrasi untuk di Kelapa Gading sendiri di lantai 2 tersedia jasa Pos Indonesia dimana kita bisa bayar langsung melalui Pos Indonesia (siapkah uang cash yah, takutnya ga ada mesin EDC) dan juga menyediakan jasa antar passport ketika sudah selesai.

Jasa antar passport dari Pos Indonesia ini memudahkan kita untuk yang sibuk atau berhalangan untuk mengambil passport (5 hari kerja) ke kantor imigrasi, gw kena harga Rp. 22,000,- dan diantar sampai kantor. Cukup isi formulir yang berisikan alamat yang dituju dan nama penerima, fasilitas ini akan diantar satu hari, hari ini selesai hari itu pula akan diantar ke tempat tujuan.

 

Kesimpulan

Dengan adanya reformasi birokrasi yang diterapkan pemerintahan Pak Joko Widodo salah satunya diterapkan baik pembuatan passport atau perpanjangan passport. Jika sebelumnya perpanjangan passport diperlukan beragam persyaratan seperti kartu keluarga (asli dan photocopy)  dan akta kelahiran atau ijazah, dimana persyaratan tersebut akan sedikit memakan waktu bagi orang-orang yang merantau di luar daerah. Coba bayangkan jika kita bekerja di Jayapura dan akan perpanjang passport disana, sedangkan gw missal berdomisili atau rumah keluarga di Banda Aceh, maka gw harus mengirim kartu keluarga asli gw dari Banda Aceh ke Jayapura yang cukup memakan waktu.

Untuk sekarang cukup membawa KTP dan Passport lama untuk melakukan perpanjangan passport. Cukup mudah bukan. Oyaa ngomong-ngomong calo kemana ya? Gw ga liat calo sih, mungkin dengan syarat cukup mudah dan waktu yang tidak begitu lama, jasa calo sudah mulai ditinggalkan hehe..

[ACL Story] Tour Sepak Bola ke Tegal

Hai balik lagi ke blog gw dan kemalasan menulis ini emang penyakit ya, mungkin temen-temen yang lagi skripsi atau yang blogging juga pernah menemui hal yang sama kaya gw. Seolah olah jari yang sudah di atas keyboard ini terasa kaku menekan tuts yang ada adalah menonton youtube. Oya, mohon maaf gw malah ngomel sama diri sendiri ya, but kali ini gw mencoba sharing jika kemarin pertama kali pasca operasi ACL touring main bola dari Jakarta ke Tegal (man jauh amat hahaha). Cerita kembali setelah operasi gw mulai main futsal dan sepak bola lagi dan gw dikenalkan kawan gw ke sebuah klub di daerah Tebet yang latian setiap hari minggu jam 10.00 wib, dan cukup membuat gw betah karena kekeluargaannya itu. Ketika gw masuk gw kaya anak SD baru masuk sekolahan, kawan yang kenal cuman satu, dikenalkan satu2 dan enaknya disini beragam jenis latar belakang, selang dua minggu latihan mereka ada jadwal untuk tour latih tanding ke Tegal (man gw seneng banget) jadinya gw ikutan tour tersebut.

Gengs Berteduh Mencegah Kulit Menghitam

Apa sih yang lo rasain ketika pertama lagi main sepak bola lapangan besar? mungkin itu yang ada di benak temen-temen yang nayain gw kok masih main bola lagi. Wah enak banget, pertama ketika nyium aroma lapangan rumput, dribbling bola wahh itu ga bisa dijelasin deh (walaupun gw bukan pemain semi-pro, but hobby main sepakbola). Cuman ada beberapa hal yang kadang membuat gw trauma, misal kalo lagi dribbling bola ada pressure dari belakang dan tiba-tiba dia tackle (kadang gw kesel nih kalo kaya gini) dan kalo lagi sepak pojok ini menurut gw kondisi agak “berbahaya” karena kita loncat dan ga tau kalo ada orang misal dari depan/belakang/samping yang bisa loncat dan dorong kita sehingga tumpuan kita salah lagi, nah itu terkadang ada rasa sedikit trauma. Cara menghilangkannya? latian terus :D.

Balik tour Tegal, berangkat dari Jakarta (lapangan Tebet) malam itu Jumat pukul 22.30 wib, ceritanya sih biar menghindari macet, tapi gilak banget malam itu 2-3 jam perjalanan, mata gw uda merem melek merem lagi masih di stasiun Bekasi dan baru tau kalo berita siang tadi kalo Pintu Tol Karawang Barat ditutup, jadi ada penumpukan di tol Cikampek, mana ada pembangunan LRT plus elevated tol, ya sudah makin menjadi. Malam itu tim kita berangkat dengan 16 orang, dengan 3 mobil dan dua orang kawan sudah ada di Tegal (dirumahnya), skip skip .. kita tiba tiba Tegal kira-kira jam 6.00 wib di hari Sabtu, dan istirahat di rumah Mas Udin. Kebetulan Mas Udin adalah salah satu bagian tim kita yang asalnya dari Tegal, dan akan melanjutkan perjalanan ke arah Timur Laut untuk pertandingan yang terlebih dahulu bertemu dengan Mas Latief untuk menuju lapangannya.

Nyendok Kuah (Arif), Kupluk Biru (Deni)

Kiri-Kanan (Kinoy, Deni, Arif, Udin)

Tegal sebuah kabupaten yang terkenal dengan warteg-nya (warung tegal) dan akses bahasa jawa ngapaknya, tidak banyak yang gw tau tentang Tegal dan belakangan gw tau terkenal ikan asin sama telur asinnya. Tegal ini sungguh panas, ya karena posisinya tak jauh dari bibir pantai, sehingga terik dan hawanya sungguh humid. Keluarga Mas Udin ini sungguh baik, kita dijamu dengan sangat baik, dan ini yang gw nyaman berada diantara mereka, canda dan tawa selalu ada disetiap perbincangan. Sekitar jam 13.00 wib kita bergegas untuk menuju rumah Mas Latief (gw lupa nama kampungnya) menuju selatan ke dataran tinggi di lereng Gunung Slamet, butuh 2 jam dari rumah Mas Latief sampai ke lapangan tempat kita bertanding, gw kira ini uda tersesat entah kemana, karena dari GPS ini uda mau masuk ke arah Pemalang, man ini mau maen dimana sih sebenernya. haha.. hingga kami sampai kira-kira menjelang pukul 16.30 wib, mungkin terlalu sore.

Berdiri : Udin, WakWaw, Arif, Bos, Roso, Sapto Jongkok : Bang Andi, Achiel, Tyo, Ade, Minto

 

 

Sampai dilapangan melihat calon lawan kita sudah pemanasan dan berseragam lengkap, lapangannya tidak terlalu jelek, terlihat datar dan rumput juga sedikit baik, di gawang ga ada jaringnya, sebelah kiri lapangan ada sekolah SD, sebelah utara lapangan ada warung kecil dan rumah, sebelah selatan ada ladang dan pohon-pohon besar (untuk ga ada sungainya). Babak pertama dimulai, gw yang masih sedikit “car lag” main di babak kedua, karena gw merasa badan gw ringan banget dan kepala sedikit pusing. Babak pertama berjalan cukup “seru” sedikit peluang dari tim gw dan berakhir imbang tanpa gol di babak pertama. Lanjut ke babak ke dua, beberapa pergantian pemain dilakukan termasuk gw ikutan main hahaha… kiper juga ganti, wing back, tengah dll, wasit juga ganti hahahaha. Posisi gw adalah di tengah, bisa sebagai DMF atau AMF tergantung permintaan hahaha. Pertandingan berjalan lancar, mereka begitu menguasai lapangan (karena di babak ini, lapangan ke arah tim gw miring, jadi mereka lebih tau kondisi lapangan, sementara kalo gw nyerang lapangannya nanjak haha), agak sengit sih mainnya babak kedua ini, gol pertama dari tim kita dicetak Mas Latief dan selangnya tendangan bebas melengkung dikit mengecoh penjaga gawang sehingga bola masuk ke gawang dan menuju warung (karena ga ada jaring).

 

Tamasya ke Guci 

“Peluit” berakhirnya pertandingan kemarin agak sedikit beda, antara peluit dan adzan maghrib :D, yak ketika mentari sudah mulai menuju peristirahatannya dan malam mulai bangkit dan adzan tanda magrhib berkumandang, pertandingan masi berlangsung karena tim lawan setidaknya ingin mencetak satu gol saja :D, sit…. sitt… adzan sit… waaaahh terdengar teriakan samar-samar bahwa pertandingan “harus” berakhir dengan segera, pertandingan ditutup dengan skor akhir 2-0 untuk kemenangan tim kami yeaayyy…. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke Guci.

Malam ini kami akan bermalam di Guci, sebuah obyek wisata air panas (hot spring) yang terletak di lereng Gunung Slamet, kurang lebih 1.5 jam perjalanan dari lapangan tempat kita bertanding menuju Guci. Banyak cerita di mobil menuju Guci, soal pertandingan tadi, dari tackle dan beberapa insiden di lapangan, lucu sih kalo ingat-ingat pertandingan tadi itu, sangat epic. Oya, di Guci kita akan bermalam di sebuah Villa (rumah warga yang disewakan), dan kegiatannya adalah berendam dan esok harinya akan bermain bola disekitar sana (jika ada lapangan).

Guci ini mirip sama suasana Puncak atau Lembang, udara dingin dan banyak villa, oya juga jalur pendakian ke Gunung Slamet (tiba-tiba pengen ndaki). Yang seru disini mungkin pemandian air panasnya, ada yang gratis dan bayar Rp. 15,000. Tau ndiri kan kalo yang gratis pasti ramai, tapi malam itu tidak terlalu ramai mungkin sudah terlalu malam, jadi kami menikmati sekali malam itu berendam air panas setelah bertanding. Nikmat sekali, otot-otot tadi yang setelah berlari kesana kemarin, menjadi rileks kembali setelah berendam. Malam itu menjadi malam pertama gw merasakan tour main bola setelah beberapa tahun dimana terakhir gw tour sepak bola ketika masih kuliah.

Langit Guci yang cerah menyerbak bintang indahnya, kerlap kerlipnya memberi pesan kepada kami untuk nikmatilah malam ini bersama ‘keluarga’ kalian disini, karena esok hari belum tentu kebahagiaan yang sama akan kalian dapatkan di kesempatan ini. Ciao…

 

 

 

OPERASI ACL PAKE BPJS?? KENAPA TIDAK.

Hai, kembali lagi ke blog gw, udah kurang lebih 3 bulan dari tulisan gw terakhir, karena akhir2 ini lagi banyak kerjaan dan lagi males nulis. Oya, judul kali ini enggak biasa dari yang biasanya, yang sebenanya gw angkat karena banyaknya pertanyaan di group diskusi Whatapp mengenai bagaimana jika operasi ACL menggunakan BPJS. Oya, apakah BPJS bisa? itu pertanyaan.. hemm tentu saja bisa. Apa sih itu BPJS ? iya BPJS merupakan badan penyelenggara jaminan sosial yang dibentuk pemerintah untuk memberikan jaminan kesehatan untuk masyarakat, yang merupakan salah satu program pemerintah. Operasi Anterior Cruciate Ligament (ACL) itu sangat “mahal” (bagi kebanyakan orang) kareana hingga menyentuh 120 juta (kasus teman di group whatsapp), nah terus ketika kita tidak ada biaya, pupuslah harapan kita yang ingin lagi untuk berolahraga high impact :(.

Okay, disini gw akan sharing-sharing tulisan mengenai bagaimana operasi ACL dengan fasilitas BPJS, dimana tulisan ini adala resume dari Mbak Rahayu (Semarang) yang melakukan operasi ACL dengan BPJS.

Pengalaman sy pake BPJS

Jd ceritanya sy jatuh di jumat siang, dan sore hari baru dibawa ke IGD krn sblm nya nyoba tukuang urut dlu. Sy pikir hnya keseleo. Smpe sore, angkel kiri sy makin bengkak dan lutut kiri makin bengkak dan hampir tdk kuat sy gerak kan. Apa lg utk ngangkat, goyang dikit aja duuh sakitnya amit dah. Bgtu liat kaki sy yg bengkak, dokter IGD langsung merujuk sy utk foto ronsen. Hasilnya sy ada fraktur di ujung tulang tibia tepat di persendian lutut. Dikasih obat pereda nyeri dan disuruh pulang. Antra bingung dan panik. Trnyata dokter ortho tdk bs memangani mlm itu. Esok harinya sy disuruh kembali ke poli dg membawa rujukan BPJS utk mengantisipasi pembiayaan tindakan2 berikutnya. Nah, yg bs sy ingat perjalanan BPJS sy spti ni.

  1. Datang ke faskes, smpekan pd dokter ttg keluhan kita lalu minta rujukan ke RS yg dr.ortho nya kita pilih. Dokter akan mberi rujukan stlh liat kondisi kita
  2. Bw rujukan ke RS yg dipilih dilengkapi (ftcopi KK, fc ktp, fc krtu BPJS)
  3. Jika diperlukan MRI dokter akan mberi rujukan.
  4. Utk kasus sy, stlh 2x ktmu dokter spesialis diRSUD dokter mberi rujukan ke RSUP dkarenakan peralatan RSUD blm memadai
  5. Bwa rujukan RSUD kw RSUP dg kelengkapan yg sama spt no.2

Ktika di RSUP, smua penanganan gratis ditanggung BPJS. Obat, fisio dan tindakan arthroscopy. Yg tdk dicover adl alat bantu gerak spti kruk, walker dan brace. Dan *whaslap* kt temen2 😂 tp sy dpt kmren. Ouh ya, krn dokter di faskes adl dokter umum suami sy smpt kesulitan mnyampaikan kondisi sy. Smpe akhirnya dokter nyamperin sy ke mobil utk ngecek kondisi kaki sy. Baru deh beliau kasih rujukan ke RS. Sy mmg memutuskan ga masuk ke klinik faskes krn sakitnya aampuuun.. Mkin yg perlu dipersiapkna temen2 adl kesabaran. Hehee krn pasien BPJS yg sngt banyak, berbagai pelayanan mengharuskan kita antri. Misal utk MRI aja sy antri lbh dr 1minggu. Lalu jadwal dokter yg hnya 2x praktek dlm sminggu. Tp tetap semangat, in syaa Alloh BPJS bs membantu meringankan beban pembiayaan kita. Jd kita fokus aja utk sembuh, tdk terlalu terforsir pembiayaan. Oke panjang bgt curhat nya. Kl da yg kurang2 temen2 lain mkin bs menambhakan pengalaman nya ato bs ditanyakan ke sy jg. Mksih mas putu.. smga bermanfaat utk temen2. Semangat dan salam lutut sehat

 

Demikian kira-kira gambaran, teman2 jika mempunyai masalah dengan lutut. Saran gw adalah, ketika mempunyai masalah dengan lutut hal yang pertama dilakukan adalah kenali dulu rasanaya, untuk ACL biasanya akan terasa perih, dan cidera terjadi karena terplintirnya lutut (twisting) disertai atau dirasakan dengan bunyi krek, krek, krek ( 3 kali, pengalaman gw) kemudian lutut akan bengkak karena cairan di meniscus. Kompres dengan es, dan plis jangan terburu-buru untuk di urut, karena bisa jadi memperparah. Pergilah ke dokter orthopedi, minta rujukan untuk MRI dan setelah hasil MRI keluar berkonsultasilah dengan dokter spesialis orthopedi dan setelah itu baru putuskan pakah operasi atau tidak.

Ada beberapa dokter yang fasih dengan cidera ini sepert dr. andre pontoh, dr. sapto, dr. febry dan lainnya.

 

 

Catatan Perjalanan Annapurna Base Camp (ABC) [Part 2]

Okay, mari kita lanjutkan cerita gw kemarin di Nepal, setelah kemarin gw posting perjalanan bagian pertama  sekarang gw mau lanjutin cerita bagian ke dua, semoga cerita gw ini memberikan secercah semangat untuk jalan jauh ke Nepal :D. Sik… aku tak nyeduh kopi dulu yhaa, maklum nulisnya baru bisa jam pulang kantor alias midnight :D.

Photo gw ketinggalan, ini di lakeside Pokhara yah

17 April 2017 (Day 5) ~ Long walk (New Bridge – Jhinu – Chomrong – Sinuwa – Bamboo)

Semalam heningnya malam membawa badan jatuh ke alam tidur dan pagi dingin kala itu di New Bridge, di kasur sebelah ada Tim yang masih tidur dengan nyenyaknya. “Morning Call” yang tiap pagi selalu membawa ke toilet masih normal seperti biasa, cuman sedikit ga enak adalah airnya yang terlalu dingin untuk “itu” hehe. Sinar matahari tipis-tipis terlihat dikejauhan mewarnai salju di gunung sana, ketika awan itu tersapu dibalik bendera warna-warni itu Annapura II dengan gagahnya berdiri, memanggil setiap manusia pencintanya untuk segera mendekat. Indahnya saat itu.

Sarapan pagi dengan Black Tea dan Chappati cukup untuk pagi ini, dan kita sikat untuk makan siang yang lebih enak. Obrolan sarapan pagi dengan Tim adalah perjalanan kita akan berlanjut dan lebih jauh hari ini yaitu dari New Bridge – Jhinu – Chomrong – Sinuwa – Bamboo. Hemm.. gw gelar peta di meja makan, huft man.. it will be a long walk mate, yang akan menjadi tantangan di sini adalah jarak yang panjang selain itu adalah trekking akan naik turun naik turun naik dan turun lagi. Seperti itulah kira-kira jika dilihat dari kontur di peta.

New Bridge (1340 mdpl) ke Jhinu (1780 mdpl) –> Perjalanan dari New Bridge ke Jhinu kurang lebih 1.5 jam, dengan trek menanjak terus, sedikit mendatar ketika menemukan perkampungan di jalan setapak menuju Jhinu. Tak usah khawatir kehabisan air disini, karena sepanjang jalan dari New Bridge ke Jhinu ada beberapa tempat bisa untuk kita mengisi air (ingat bawa botol pribadi ya dan jangan buang sampah sembarangan). Setelah bertemu sungai, jalan mulai menanjak terus hingga kita bertemu lodge yang cukup asri, dan itulah Jhinu. Nah, di Jhinu ini terdapat pemandian air panas (hot spring) yang jaraknya kurang lebih 15 menit perjalanan menurun dari Jhinu (jangan lupa beli tiket untuk ke hot spring), tapi gw akan ke hot spring sekembalinya dari ABC.

Di Jhinu terdapat beberapa lodge dengan biaya sewa sekitar 180 – 200 npr per malam, dengan fasilitas kasur yang lumayan, dan kamar mandi di luar, dan di halaman hostel terdapat bebrapa weed atau ganja yang tumbuh liar dengan hijaunya. Sepuluh menit beristirahat di Jhinu menunggu Tim yang sedang bingung karena kebelet modol hehe.

Jhinu ke Chomrong (2170 mdpl) –> Eaaakkk… ini salah satu juga yang bikin lutut kiri gw bergeter (waktu itu 10 bulan pasca operasi ACL), bagaimana tidak dari bawah hingga ke Chomrong tak satupun menemukan jalan datar, hingga mendekat ke lodge di Chomrong. Tangga-tangga tersusun dari bebatuan metamorf, dari analisis makroskopis bisa dilihat jika itu adalah mineral mika, yang berkelap kelip ketika terkena sinar matahari. Dari Jhinu ke Chomrong cukup memakan waktu kurang lebih 1.5 jam perjalanan, siap-siap yah lutut, dan tetap berjalan walaupun pelan. Tips dari gw sih tetap jalan, hitung langkah kaki misal 100 langkah kemudian istirahat 1 sampai 2 menit, kemudian lanjut lagi, sehingga ritme nafas kita tetap on the track.

Jhinu ke Chomrong

Chomrong merupakan salah satu check point untuk permit ACAP, jadi jika di ringkas seperti ini. Permit untuk TIMS check point dilakukan di Nayapul sebelum masuk pertigaan Gandrukh dan Grophani, kemudian untuk permit ACAP akan dilakukan di Chomorong, tepatnya setelah turun tangga akan menuju ke Sinuwa. Itu sedikit informasi untuk di Chomrong, gw tiba sekitar pukul 11.30 dengan cuaca yang cerah sekali, hampir tidak ada awan siang itu, sehingga langit biru terampang nyata di depan mata dan jauh disana terlihat Annapurna South, beruntungnya gw melihat avalanche dikejauhan (bisa kebayang pendaki-pendaki gunung 7,000an ke atas jika terkena avalanche). Gw dan Tim berisitirahat makan siang di Chomrong dan bertemu dua bule Italy (cowo) dan bule UK (cewe) dan mereka solo traveler, obrolan demi obrolan menghiasi siang itu, gw pesen fried noodles dan lemon tea yang harganya kira-kira 200-an npr total. Untuk porsi jangan khawatir, bagi lo yang makan banyak, menurut gw makanan sepanjang Annapurna trek cukup banyak kaya porsi tukang, jadi ga masalah kelaparan, tapi inget bawa duit yang cukup yak haha.

Chomrong (2170 mdpl) ke Upper Sinuwa (2360 mdpl) –> Setelah makan siang, baju kering dan mengisi air minum kita lanjutkan perjalanan ke Upper Sinuwa. Dari Chomrong Upper Sinuwa terlihat sungguh dekat, paling juga kalo ditarik lurus ga sampe 1 km, hanya saja, ke dua tempat ini dipisahkan oleh sungai, sehingga kita harus turun dulu kemudian naik lagi haha. Seperti yang sudah gw jelaskan tadi, ketika turun menuju Sinuwa, sekitar 100 meter, kita harus check point permit ACAP, dengan menunjukkan permit dan petugas akan menuliskan nama dan asal kita (Indonesia).

Pemandangan dari lodge di Chomrong (Kelas Banget ini) hehe

Menjelang lodge di Chomrong

Tangga-tangga menurun yang berjejer tampak tiada akhirnya, lutut yang mencoba menahan beban ketika turun sungguh sedikit tersiksa, nah di Chomrong bagian bawah nanti kita akan ketemu warung yang jualan snickers, rokok, energy drink dll., namun harganya sedikit mahal bagi gw hehe.. Lanjut jalan, hingga sampai di jembatan menuju Upper Sinuwa. Nah, dari sini mulai nanjak lagi, tanjakannya mirip-mirip kaya dari Jhinu ke Chomrong, namun sedikit lebih sejuk :D, dari Chomrong ke Upper Sinuwa kira-kira 2 jam perjalanan, karena Sinuwa sendiri dibagi menjadi dua, yaitu Lower Sinuwa dan Upper Sinuwa. Siang cukup panas, haus dan kantuk hufftt… tim yang berjalan lebih cepat sepertinya sudah sampai di Upper Sinuwa. Jam 14.30 akhirnya gw sampai di Upper Sinuwa, karena ngantuk banget didukung oleh angin semilir-semilir, gw tertidur di salah pojok salah satu lodge siang itu dan terbangung sekitar 15.00.

Gw bertanya pada Tim, “Should we go now? or will we overnight here”? Tim jawab, ayo lanjut ke Bamboo…!!!!

Upper Sinuwa (2360 mdpl) ke Bamboo (2310 mdpl) –> Okay Tim, let’s go!! Kebetulan jika dilihat dari peta, Upper Sinuwa itu 2360 mdpl dan Bamboo 2310 mdpl, jadi jalan ke Bamboo akan menurun, perkiraan 1 sampai 1.5 jam untuk sampai ke Bamboo. Ternyata kenapa namanya Bamboo adalah karena menjelang lodge di Bamboo, banyak pohon bambu di pinggir jalan. Tim memutuskan untuk jalan terlebih dahulu, karena takut tidak kebagian lodge di Bamboo, kerena bulan April adalah salah satu high season pendakian di Nepal, karena cuaca yang cukup mendukung (Spring) untuk trekking. Jika, trekkers yang menggunakan jasa guide, biasanya lebih aman, karena guide mereka biasanya melakukan pemesanan kamar terlebih dahulu sebelum pendakian. Jadi, kalo kaya gw ga pake guide sama porter, jadinya harus usaha sendiri nyari kamar.

Upper Sinuwa

Sampai jam 17.30 di Bamboo, Tim yang tergopoh menghampiri gw yang baru sampai di Bamboo, “Putu, no room, but an american guy pleased to share his room to us” huftt.. untung aja bareng Tim jalan, selain bisa sharing cost juga dia gesit banget haha.. Nah, disini perasaan gw udah ga enak, kaki pegel banget, lutut kiri gw kerasa nyeri dan tebel, kepala terasa pusing. Masih bingung antara AMS atau kecapean, tapi ga mungkin juga sih kena AMS karena elevasinya masih 2600 mdpl di Bamboo. Oya, gw dan tim sempat berdebat dengan pemilih lodge disini, karena esok hari kita akan berangkat lebih awal sekitar jam 5.30, sehingga besok kita tidak pesan sarapan pagi, namun pemilik lodge dengan nada agak tinggi berkata “You sleep here, you dinner and breakfast here” woooowwww.. chill pak.. chilll… If you don’t order breakfast, I will charge you double for the room, What the fuck!!!.. Disini gw kesel banget sama bamboo, selain uda capek, pegel ditambah lagi bapak ini ngeselin. Okay, tomorrow we’ll be leaving at 6.00, can you serve our breakfast at 5.45 ? , akhirnya gw dan tim cuman pesen satu chapati dan itu pun kita bagi dua hahahaha..

Bamboo , salah satu pemilik lodge yang complain

Disini gw ketemu sama rombongan trekkers Korea yang usianya kira-kira 40-an rata-rata, duduk berkumpul melingkar berbagi beer, dalam hati gw cuman bisa melihat, betapa segaranya jika bisa menenggak segelas beer saja.. haalaaahh dasar koe kere putu (gumam gw dalam hati). Selain itu rombongan korea juga sedikit heboh, karena mereka membawa makanan mereka sendiri dari korea.. kaya film-film korea bro.. haha.. rame banget. So far, malam itu adalah malam yang ga enak, selain kamar sedikit sempit, karena 3 kasur dalam satu kamar, dan kepala yang pusing. Okay, good night mate, see you tomorrow.

18 April 2017 (Day 6) ~ ABC Yang Gagal (Bamboo – Dovan – Himalaya – Deuralli) 

Pagi ke berapa yah hari itu, gw hampir lupa dengan namanya hari, yang gw ingat adalah trekking trekking dan trekking. Seperti yang kita diskusikan dengan pemilik lodge yang jutek itu, chapati cheese pagi sudah siap dengan black tea (pesenan gw paling black tea black tea dan black tea). Packing selesai, dan lanjut trekking… udara segar pagi itu merupakan penyemangat melangkahkan kaki, dan rencana hari ini adalah Bamboo – Dovan – Himalaya dan Deuralli.

Bamboo (2310 mdpl) ke Dovan (2520 mdpl) –> Bamboo menuju Dovan bisa gw bilang trek teringan dari sebelumnya, di peta kira-kira kita akan tempuh sekitar 1 jam, namun karena saking semangatnya, kita bisa tempuh 45 menit saja. Melewati perkebunan, sungai dan pemandangan indah tentunya. Salju masih tampak di kejauhan, masih jauh sepertinya untuk bisa menggengam salju untuk pertama kalinya. Tas carrier deuter vario 50+10 L gw ini terasa berat dan tidak bertambah ringan, mungkin saran gw bawalah seperlunya, jika memang mengharuskan lo bawa carrier besar (kaya pendaki-pendaki di Indonesia), bawalah daypack ukuran 30-45 liter, karena sangat membantu sekali. Tidak usah semua di bawa sak isi omahe di lebokno neng tas mu, malah mengko mesake banget lhoo. Oiyaa .. lanjut cerita yaa.. di dovan gw cuman numpang lewat aja ga sempet berhenti untuk sekedar minum air, so lanjut ke Himalaya bro.

Kondisi Dovan pagi itu

Dovan (2520 mdpl) ke Himalaya (2920 mdpl) –> Lanjut Dovan ke Himalaya yah.. ini bukan Himalaya yang Everest itu yakk.. cuman lodge atau kampung itu namanya Himalaya. Dari Dovan ke Himalaya trek mulai mendaki lagi, kira-kira 1.5 jam perjalanan jika dilihat dari estimasi yang ada di papan informasi. Pemandangan hampir sama dari Bamboo menuju Dovan, pepohonan, suara gemuruh sungan di bawah sana, batuan metamorf yang sepanjang jalan terlihat di tebing-tebing dipinggir jalan. Namaste adalah salah satu kata yang sering kita ucapkan ketika bertemu atau berpapasan dengan pendaki lainnya, baik yang turun maupun yang naik. Begitu juga dengan porter-porter yang bertemu di jalan, gw sesungguhnya ga kuat jika melihat bagaimana porter itu bekerja. Dengan beban yang ga kira-kira, bisa sampai 80 kg, sembako yang terisi di dalam keranjang bahkan terkadang tabung gaspun mereka bawa naik. Sungguh berat pekerjaaan mereka… Lha kok malah ngelantur 😀 . Ngelantur gini, ga kerasa malah udah sampe aja di Himalaya. Disini, cuman istirahat bentar, foto-foto dan isi botol air, kira-kira waktu itu jam 09.00-an.

Selamat Datang di Himalaya

Kalo lo liat kaya gini, berarti antara masih jauh atau uda deket hahaha

Himalaya (2920 mdpl) ke Deuralli (3200 mdpl) –> Lha iki.. baru joss sekarang,,, terus naik dan naik terus.. kayanya 2 jam perjalanan menuju ke Deuralli dari Himalaya,, nambah sekitar 300 mdpl untuk sampai di Deuralli. Trek ini adalah trek favorit gw kalo boleh jujur, nanjak terus tapi ga kaya dari Jhinu ke Chomrong atau Chomrong ke Sinuwa, masih mending cuman agak panjang dikit. Selain itu pemandangan disini juga baguuuuss banget, salah satunya adalah foto terfavorit gw. Disinilah gw pertama kali ketemu salju, wah ga kerasa ketika pertama kali kaki gw menginjak salju. Horaaii nya itu luar biasa.. senyum senyum sendiri, megang megang salju, remes-remes dikit, raup-raupin ke muka.. ahh noraaakk banget tu haha..

Dari tempat pertama liat salju, di kejauhan keliatan kampung, dan gw yakin itu adalah Deuralli. Terlihat dekat sih, namun masih sejam lebih perjalanan menuju kesana. Jalan aja terus, jangan berhenti, tips lagi yah, banyakin beli makanan manis kaya snickers di kota (Pokhara), karena harganya lebih murah dibandingkan disini. Semakin tinggi tempat kita, semakin mahal harga makanan. Oleh karena itu, hemat-hemat yahh, kalo budgetnya terbatas kaya gw. Kalo, misal budgetnya sedikit berlebih gpp, makannya yang enakan dikit bisa kita dapat disini, dari western food, korean food, sampai nepali’s food.

Oya, di jalan menuju Deuralli ini gw papasan sama nenek yang umurnya kalo terawangan gw sekitar 65-an mendekati 70, tapi bro, ini nenek jalannya selow tapi jalan terus ga berhenti-berhenti, dan beberapa kali nyalip gw dan bilang ” Come on young man!! move your ass off”, jleg dalah hati gw dicengin nenek-nenek. Eh tau-taunya sampe Deuralli, kita malah ngobro bertiga sama tim sambil makan siang. Yap, dia adalah nenek petualan asal Brazil, yang sedang bertualan menjelajah India, belajar Yoga, belajar Geologi satu semester doang dan apalagi yah, nenek yang pengen ke Indonesia untuk mendaki Cartenz dan she’s nice person :D, ciao grandma..

One of my best spot

This is my first time to see and touch snow

Di Deuralli, kita dapet kamar yang tanpa harus berbagi dengan trekkers lain. Kamar kecil dengan dua tempat tidur yang nyaman (dibuat nyaman sih), ada wifi juga (tapi bayar), gw coba-coba nyolong wifi tapi ketauan kayanya karena di bill keesokan harinya ada tulisan wifi charge (shit….). Mie goreng disini enak banget, pedesnya walaupun ga sesuai sama lidah gw, tapi tetep juara sih. Pelayanannya juga ramah ga kaya di Bamboo. Oya, gw di Deuralli bawah, karena ada juga lodge di Deuralli atas. Siang itu abis makan siang gw dan tim berencana untuk lanjut langsung ke ABC (Jadi kalo ini sampe ABC, kira kira kita akan ke ABC dalam waktu 2,5 hari saja), tapi setelah 45 menit jalan kaki, awan mulai naik menyusuri lembah menuju ABC, shit, it would be hard up there Tim (kata gw). So, kita memutuskan untuk kembali lagi ke Deuralli dan ke ABC esok pagi hari. Di lodge, kita habiskan waktu membaca buku, ngobrol dengan trekkers lainnya hingga gelap menjelang.

Okay.. lanjut tulisan berikutnya yah.. gw udah ngantuk nih… njir besok kudu bangun pagi lagi (kantor man) … siii yaaahh..

 

Folded metamorphosed sedimentary rocks …

Gw ga pake sempak di luar yak

Estimasi perjalanan yang tiap lodge selalu ada

Segeerrr

Ini waktu dari Dovan ke Himalaya.. hello Tim, haha