OPERASI ACL PAKE BPJS?? KENAPA TIDAK.

Hai, kembali lagi ke blog gw, udah kurang lebih 3 bulan dari tulisan gw terakhir, karena akhir2 ini lagi banyak kerjaan dan lagi males nulis. Oya, judul kali ini enggak biasa dari yang biasanya, yang sebenanya gw angkat karena banyaknya pertanyaan di group diskusi Whatapp mengenai bagaimana jika operasi ACL menggunakan BPJS. Oya, apakah BPJS bisa? itu pertanyaan.. hemm tentu saja bisa. Apa sih itu BPJS ? iya BPJS merupakan badan penyelenggara jaminan sosial yang dibentuk pemerintah untuk memberikan jaminan kesehatan untuk masyarakat, yang merupakan salah satu program pemerintah. Operasi Anterior Cruciate Ligament (ACL) itu sangat “mahal” (bagi kebanyakan orang) kareana hingga menyentuh 120 juta (kasus teman di group whatsapp), nah terus ketika kita tidak ada biaya, pupuslah harapan kita yang ingin lagi untuk berolahraga high impact :(.

Okay, disini gw akan sharing-sharing tulisan mengenai bagaimana operasi ACL dengan fasilitas BPJS, dimana tulisan ini adala resume dari Mbak Rahayu (Semarang) yang melakukan operasi ACL dengan BPJS.

Pengalaman sy pake BPJS

Jd ceritanya sy jatuh di jumat siang, dan sore hari baru dibawa ke IGD krn sblm nya nyoba tukuang urut dlu. Sy pikir hnya keseleo. Smpe sore, angkel kiri sy makin bengkak dan lutut kiri makin bengkak dan hampir tdk kuat sy gerak kan. Apa lg utk ngangkat, goyang dikit aja duuh sakitnya amit dah. Bgtu liat kaki sy yg bengkak, dokter IGD langsung merujuk sy utk foto ronsen. Hasilnya sy ada fraktur di ujung tulang tibia tepat di persendian lutut. Dikasih obat pereda nyeri dan disuruh pulang. Antra bingung dan panik. Trnyata dokter ortho tdk bs memangani mlm itu. Esok harinya sy disuruh kembali ke poli dg membawa rujukan BPJS utk mengantisipasi pembiayaan tindakan2 berikutnya. Nah, yg bs sy ingat perjalanan BPJS sy spti ni.

  1. Datang ke faskes, smpekan pd dokter ttg keluhan kita lalu minta rujukan ke RS yg dr.ortho nya kita pilih. Dokter akan mberi rujukan stlh liat kondisi kita
  2. Bw rujukan ke RS yg dipilih dilengkapi (ftcopi KK, fc ktp, fc krtu BPJS)
  3. Jika diperlukan MRI dokter akan mberi rujukan.
  4. Utk kasus sy, stlh 2x ktmu dokter spesialis diRSUD dokter mberi rujukan ke RSUP dkarenakan peralatan RSUD blm memadai
  5. Bwa rujukan RSUD kw RSUP dg kelengkapan yg sama spt no.2

Ktika di RSUP, smua penanganan gratis ditanggung BPJS. Obat, fisio dan tindakan arthroscopy. Yg tdk dicover adl alat bantu gerak spti kruk, walker dan brace. Dan *whaslap* kt temen2 😂 tp sy dpt kmren. Ouh ya, krn dokter di faskes adl dokter umum suami sy smpt kesulitan mnyampaikan kondisi sy. Smpe akhirnya dokter nyamperin sy ke mobil utk ngecek kondisi kaki sy. Baru deh beliau kasih rujukan ke RS. Sy mmg memutuskan ga masuk ke klinik faskes krn sakitnya aampuuun.. Mkin yg perlu dipersiapkna temen2 adl kesabaran. Hehee krn pasien BPJS yg sngt banyak, berbagai pelayanan mengharuskan kita antri. Misal utk MRI aja sy antri lbh dr 1minggu. Lalu jadwal dokter yg hnya 2x praktek dlm sminggu. Tp tetap semangat, in syaa Alloh BPJS bs membantu meringankan beban pembiayaan kita. Jd kita fokus aja utk sembuh, tdk terlalu terforsir pembiayaan. Oke panjang bgt curhat nya. Kl da yg kurang2 temen2 lain mkin bs menambhakan pengalaman nya ato bs ditanyakan ke sy jg. Mksih mas putu.. smga bermanfaat utk temen2. Semangat dan salam lutut sehat

 

Demikian kira-kira gambaran, teman2 jika mempunyai masalah dengan lutut. Saran gw adalah, ketika mempunyai masalah dengan lutut hal yang pertama dilakukan adalah kenali dulu rasanaya, untuk ACL biasanya akan terasa perih, dan cidera terjadi karena terplintirnya lutut (twisting) disertai atau dirasakan dengan bunyi krek, krek, krek ( 3 kali, pengalaman gw) kemudian lutut akan bengkak karena cairan di meniscus. Kompres dengan es, dan plis jangan terburu-buru untuk di urut, karena bisa jadi memperparah. Pergilah ke dokter orthopedi, minta rujukan untuk MRI dan setelah hasil MRI keluar berkonsultasilah dengan dokter spesialis orthopedi dan setelah itu baru putuskan pakah operasi atau tidak.

Ada beberapa dokter yang fasih dengan cidera ini sepert dr. andre pontoh, dr. sapto, dr. febry dan lainnya.

 

 

10 Bulan Pasca Operasi ACL ~ Getting Better Than Before

Ini cerita 10 bulan setelah operasi ACL dan setelah 10 bulan yang panjang ini gw merasa semakin baik walaupun belum sebaik sebelum cidera hehee…, at least hobby yang gw sering lakukan sebelum cidera bisa gw lakukan seperti biasa sekarang seperti futsal, sepakbola, naik gunung (ini akan gw tulis perjalanan gw ke Annapurna Base Camp) dan jogging. Pasti akan banyak pertanyaan tentang bagaimana operasi, dan latihan hingga 10 bulan ini. Untuk operasi ACL sendiri temen-temen bisa baca di tulisan gw sebelumnya ( http://wp.me/p2YJ5y-b2 ), dan yang paling “berat” adalah pasca operasi ACL, karena setiap orang akan memiliki semangat yang berbeda dalam pemulihan pasca operasi, selain itu tiap orang akan berbeda dalam menaikan masa otot pahanya tergantung dari apakah dia seorang atlet profesional, apakah olahragawan yang bukan profesional, dan menurut gw itu akan memberikan waktu “Pemulihan” yang berbeda-beda.

Namun pertanyaannya, selain latihan hal yang akan membuat kita kembali untuk high impact adalah motivasi dalam diri kita sendiri, gw ingat saat dimana ACL gw putus, suara pop (krek) tiga kali di lutut kiri itu masih bisa dirasakan dan 1.5 bulan masa-masa sebelum operasi adalah masa paling berat, dimana gw harus berjalan pakai dua penopang agar bisa tetap jalan ke kantor, dimana lutut kiri gw membesar karena kemungkinan cairan yang keluar dari meniscus saat dia sobek akibat twisting. Itulah saat dimana gw bertekad untuk kembali lagi seperti semula dan cidera ini adalah awal untuk lebih baik lagi, malah bukan sebaliknya cidera and we’re over. Nope. We have to fight!!!

Latihan yang gw lakukan di awal-awal cidera adalah pumping lutut, dengan meluruskan kaki kiri dan menarik bagian ujung kaki dengan kain dan mengendorkannya, kemudian latihan untuk menekuk lutut (ini yang butuh proses, kira2 hingga 2-3 bulan tergantung dari latiannya). Bulan ke 4-5 mulai latihan beban untuk mengembalikan besar paha yang hilang (kempes) akibat dua graft yang di ambil di bagian paha, proses inilah yang paling berat menurut gw, karena yang harus kita lakukan adalaah latian terus per 12 jam untuk membentuk masa otot, jadi bisa latian pagi 4 set dengan 10 kali, kemudian di lanjutkan sore hari, begitu terus hingga besar. Setelah itu latian sepeda statis, kenapa? untuk membiasakan lutut bergerak lagi, mau jogging? untuk tahap awal, jika ada kolam renang lebih baik latian jalan ditempat di kolam renang karena lutut bisa menahan beban tubuh kita lebih ringan di dalam air dan coba lari di dalam kolam. Setelah itu jika mau jogging, cobalah dahulu di treadmill, karena treadmill lebih aman selain bagian bawah treadmill tidak keras (dibandingkan lari di lapangan atau aspal) juga baik untuk lutut. Di bulan ke 6 gw uda mencoba main futsal (karena kaki gatel hehe) namun masih pelan-pelan, kemudian naik gunung Gede di Jawa Barat, dan dari situlah mulai terus melanjutkan hobby seperti biasa.

Salah satu link bacaan yang sangat membantu dalam proses menentukan gw operasi atau tidak adalah salah satu forum tentang cidera lutut di kaskus ( https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014791494/penderita-cidera-lutut-acl-pcl-dsb-masuk-sini/150 ), dari beberapa postingan sungguh membantu, namun karena ada kendala waktu untuk melihat thread di kaskus, gw putuskan untuk membuat group Whatsapp untuk penderita cidera lutut dengan tujuan mempermudah komunikasi teman-teman penderita cidera lutut. Sekian sharing pengalaman 10 bulan ini setelah operasi, semoga dapat membantu temen-temen semua untuk kembali :D, salam lutut sehat.

Sharing Session di Institut Teknologi Medan (ITM)

Pagi rintik kecil di kota Medan 27 Februari 2017, hari dimana kali pertama berkunjung ke Institut Teknologi Medan (ITM) dan juga kali pertama menginjakkan di tanah Batak ini. Kota yang panas dengan makananya yang tak henti membuat kita tambah dan tambah lagi (Babi Panggang Karo). Dapot seorang mahasiswa angkatan 2014 pagi itu menjemput dan dia menjadi pemandu gw selama di Medan, dari menjemput di bandara Kualanamu hingga sampai di Medan. Acara sharing session di ITM ini gw beri tema tentang “Introducing Fault Seal Analysis” atau bahasa kerennya “Pengenalan Analisis Sekatan Sesar”.

Menuju kampus ITM yang terletak di jantung kota Medan bak melawan kemacetan pagi itu yang tak ubahnya Jakarta di pagi hari sibuk yang macetnya membuat kita hampir gila. Suara klakson mobil, motor, betor mengaum di udara beserta asap-asap yang dengan mudahnya menyelinap ke sela-sela bulu hidung ini. Suara hardikan samar terdengar di lampu merah pagi itu. Kurang lebih 20 menit Dapot meliuk di jalanan menuju kampus ITM dan akhirnya sampai dengan menahan perut yang “perih” menahan ritual pagi.

Medan tak ubahnya seperti Jakarta untuk urusan macet jalannya.

Medan tak ubahnya seperti Jakarta untuk urusan macet jalannya.

Sampai di ITM dimana bangunan bertingkat berbaur anak SMA dan Mahasiswa (karena ITM berada pada yayasan yang sama dengan SMA itu), beberapa mahasiswa geologi dengan ciri khasnya dengan jaket kebanggaanya (jaket himpunan) berwarna oranye, rambut gondrong, muka agak sangar tanpa perawatan, dan beberapa mahasiswi geologi datang menyapa. Selamat datang Pak/Bang di ITM dengan melempar senyumnya. Gw merasakan kehangatan mahasiswa/i disini rasa kekeluargaan yang erat antar mahasiswanya. Acara seminar akan dilangsungkan di gedung itu bang, di lantai empat, seru seorang mahasiswa. Damn… *dalam hati gw bergumam, lutut gw kuat kan naik ke lantai empat hahaha…

Pemandangan dari lantai 4 gedung kuliah ITM.  Lutut gw berasa :D

Pemandangan dari lantai 4 gedung kuliah ITM. Lutut gw berasa 😀

Satu persatu mahasiwa berdatangan, hingga kurang lebih 50 orang mahasiswa hadi di dalam kelas. Hemm… sedikit nervous untuk mengawali presentasi pagi ini, karena presentasi sendiri gw siapkan malam hari kemarinnya, dan mudah-mudahan tidak mengecewakan.

Sharing Session Fault Seal Analysis

Sharing Session Fault Seal Analysis

Sharing session mengenai Fault Seal Analysis ini gw bagi menjadi empat series, yaitu pertama mengenai Seals mencakup membrane seals, kemudian tentang Juxtaposition, Fault Mechanism, Fault Stress dan terakhir adalah studi kasus aplikasi Fault Seal Analysis di industri oil and gas. Jalan dari presentasi cukup lancar dan diskusi berjalan dengan baik. Dan ternyata mahasiswa yang hadir bervariasi dari Semester 1 hingga Semester 6 yang artinya ada mahasiswa yang belum mendapatkan kuliah Geologi Struktur dan mahasiswa yang telah mendapatkan mata kuliah Geologi Struktur. Dan semoga dari 100% materi yang gw presentasikan, minimal 50% bisa diterima :D, karena Fault Seal sendiri jarang didapatkan di bangku kuliah.

Akhir dari acara ini adalah photo session dan pemberian cinderamata berupa kain ulos..yeayyy.. thanks mate.. Terima kasih atas undangannya dan sempai bertemu di lain waktu dan kesempatan.

Salam Toba .. viva la Toba 😀

 

*Terima kasih gw ucapkan untuk Dapot Nainggolan, Alwin (Rolas) Nainggolan yang telah mengantar jalan-jalan malamnya di Medan, untuk tongkrongan di mie aceh nya, dan teman-teman di ITM.

 

Thanks to Dapot  Nainggolan

Thanks to Dapot Nainggolan

 

 

 

7 Months Post ACL Surgery

Hai balik lagi di blog gw 😀 dan sedikit sumringah hari ini karena abis maen bola (lapangan besar), hal yang lama ga gw lakukan sejak ACL gw putus. Oya, tepat kemarin 7 Januari 2017 ACL baru gw berumur 7 bulan dan banyak peningkatan dari recovery selama ini. Gw ingin share beberapa hal yang gw lakukan selama proses recovery ini hingga bulan ke 7, semoga temen-temen yang sedang berjuang dengan cidera ACL tetap semangat, karena gw paham proses recovery ini memerlukan mental yang kuat, jika tidak kita akan kesusahan untuk melakukannya.

My ACL progress

My ACL progress

Untuk awal bulan setalah operasi ACL gw tulis di blog gw juga, silahkan di baca di link ini https://wijayaryputu.wordpress.com/2016/07/01/rehabilitasi-acl-1/

Kemudian untuk bulan ke 5 hingga ke 7, latian yang gw lakukan adalah jogging, memperkuat quadriceps. Nah yang terakhir ini yang terpenting selain jogging atau berlari. Dimana, setelah pasca operasi, paha kita yang cidera dimana di ambil ototnya akan mengecil yang berbeda besarnya dengan yang normal. Oleh karena itu saran dari dokter sport injury gw adalah membuat paha di lutut gw yang cidera (lutut kiri) agar sama besarnya dengan yang kanan. Untuk membersarkannya, di bulan ke lima gw menemukan caranya, setelah membaca di beberapa website dan youtube, hal terbaik dan tercepat untuk membersarkan quadriceps, hamstring adalah dengan melakukan leg press dan squat. Yang biasa gw lakukan adala Leg press dimulai dengan beban kecil (pertama kali melakukan leg press) hingga beban yang sekarang (45 kg). Untuk leg press, biasanya dilakukan dengan dua kaki, namun gw melakukannya dengan satu kaki dimulai dari yang kiri kemudian dilanjutkan dengan yang kanan, masing-masing 10 kali dengan 4 set.

Leg Press

Leg Press

Kemudian yang kedua adalah squat, ini juga membantu untuk membesarkan quadriceph kita, sema seperti leg press, disini gw 4 set dengan 10 kali repetisi. Hampir dua bulan gw melakukan ini dan paha gw sekarang sudah sama besarnya. Kenapa perlu dibesarkan? karena dengan quadriceps dan hamstring yang sama atau kuat maka akan membantu menjaga ACL kita. Oleh karena itu kenapa pemain bola tidak pernah melewatkan “Legs Day”, karena itu menurut saya sangat penting. Dan juga, jangan lupa untuk pemanasan sebelum melakukan aktivitas baik itu jogging, main bola atau apapun.

Squat

Squat

 

Hingga bulan ke tujuh, saya sudah bisa latihan futsal lagi seperti biasa, naik gunung gede dan jogging, tetap semangat untuk teman-teman yang sedang di masa pemulihan.

Naik Gunung Gede-Pangrango

Naik Gunung Gede-Pangrango

maen-bola

Sepak bola di GOR Sumantri

 

salam

wijayaryputu

5 Bulan Berlalu (Post ACL Reconstruction)


Ada harapan ketika kandas.

Telat lima bulan sudah semenjak operasi besar pertama kali dalam hidup gw itu. Sore di tanggal 7 Juni 2016 ketika lampu-lampu kamar operasi, monitor, kabel-kabel dan suara Jazon Mraz mengantar hibernasi selama beberapa jam. Tepat lima bulan juga lutut kaki bagian kiri menyokong berat badan ini dengan upaya ekstra. 

Tak ada perayaan di lima bulan ini, perayaan terindah saat ini adalah ketika dokter mengijinkan untuk mulai berlari kecil. Terbayang masih diingatan pertama kali memakai kembali sepatu lari dan melirik sepatu futsal di sebelahnya. Lutut terasa bersemangat untuk kembali merasakan aspal, namun terkadang terbesit tak selaras nya kaki dengan truma cidera kemarin. Memang lutut sekarang masih tebal rasanya karena masih terpengaruh anestesi. 

Hingga bulan ke lima pasca operasi hal yang dilatih oleh dokter carmen adalah penguatan otot paha. Bulan pertama latian angkat paha (liat tulisan sebelumnya), bulan kedua masih sama di tambah dengan beban, bulan ke tiga berdiri satu kaki dengan memejamkan mata kemudian bulan ke empat masih untuk besarkan paha, namun dokter sudah membolehkan untuk melakukan jogging, melatih gerakan dinamis dengan menggunakan Agility Ladder. Semangat terkadang mulai menurun di bulan ke dua atau ke tiga, wajar sih karena melihat hamstring yang membesarnya pelan sekali. Dengan datang kelapangan bola, tempat futsal memotivasi untuk segera bisa sembuh kembali. 

Beberapa kali menonton video di youtube untuk melihat variasi latihan pasca operasi ACL. Salah satu yang menginspirasi adalah video dari Thiago Alcantara dan Rafinha, kakak beradik yang mempunyai jenis cidera hampir sama. 

Untuk temen-temen yang cidera ACL baik yang sudah di operasi, akan operasi atau memutuskan tidak operasi, bersemangatlah karena ini bukan akhir, tapi baru saja dimulai. ACL baru dari hamstring 😊 ada dua lagi. Untuk yang belum pernag cidera lutut, pemanasan yang baik sebelum latihan ataupun pertandingan dan jika merasa kena cidera di lutut saran untuk berpikir dua kali di bawa ke tukang urut, kasian ligamen nya ketika kena partial ACL tear kalo di bawa ke tukang urut yang tidak paham malah totaly ruptured (jangan sampe kejadian ya). 

Salam 

Wijayaryputu

Rehabilitasi ACL (1)

Hai balik lagi nih, gw mau laporan ahaha… Gw mau sharing perkembangan pasca operasi rekonstruksi ACL gw tanggal 7 Juni 2016 kemarin. Hari ini (1 Juli 2016) hampir 1 bulan setelah operasi ACL, lutut gw baru bisa nekuk 110 derajat, terkadang masi terasa nyeri pada lutut. 

Runtutan pasca operasi ACL itu adalah konsultasi dokter dan fisiotheraphy. Di RSPI sendiri untuk fisiotheraphy dengan dr. Carmen yang merupakan specialist sport injury. 

Sore ini Jakarta terlihat lengang, hingga debu dan polusi pun enggan muncul sepanjang toll jorr menuju RSPI. Mbak Karen seperti biasa menunggu di pendaftaran dan tampaknya ia mulai hafal dengan pasien satu ini (gw). Hai ka  Putu gimana lututnya? Sapanya dengan ramah, biasa aja mbak udah mulai lancar jalan tapi agak nyeri aja kadang kadang. Oya, dr.Carmen sudah ada, tunggu bentar ya ka, kita tensi dulu. Masuk ruangan ukur tensi hasilnya 120/70, dan gw nolak untuk timbang berat badan hahaha…. (Ga usah di timbang mbak, saya udah tau kok berat saya berapa hahaha).

Masuk ke ruangan dr. Carmen, ruangan cukup luas, sekitar 7 x 7 m mungkin, dengan peralatan olahraga seperti sepeda statis, trampolin, treadmill dll. Dr. Carmen ini ternyta wanita toh, gw pikir bapak-bapak. Ia sangat ramah, menanyakan asal, progress lutut dll. Dan hari ini pertama kali gw fisiotheraphy setelah opersi kemarin. 

Nah, yang pertama dilakukan adalah mengukur lingkar paha gw antara kanan kiri, hasilnya paha kiri bagian bawah lebih kecil 1.2 cm dan atas 1.75 cm (kaya KFC). Jadi, kata dr. Carmen target gw adalah latian agar besar lutut kiri dan kanan itu sama, dan setelah itu boleh untuk jogging (yeeeaaaahhh….)

Latian untuk ‘besarin paha’ ini sendiri ada beberapa jenis, kurang lebih ada lima. Pertama adalah pumping, quadriceps, straight leg, side lying leg lift, prone hip dan stretching lutut. Dan harus rutin yah Putu, biar cepet kembali ukuran pahanya. 


Udah mulai sore dan ternyata lengangnya tol jorr sore tadi hanya halusinasi karena di sudirman macet nya ampun haha.. Demikian sharing fisioterapi lutut gw bagian pertama, ikuti dan saksikan terus update nya, hahaha uda kek nonton VLOG haha…

See yah

Akhirnya Operasi Rekonstruksi ACL (Anterior Cruciate Ligament)

Hai, balik lagi ke blog gw dan kali ini bukan tentang traveling atau geosains, namun tentang hal yang sedikit membuat semangat hidup gw ada di titik terendah. Kejadian yang sedikit membuat gw sedikit menyesal dan ingin membalikan mundur waktu tiga puluh menit sebelum kejadian. Namun apapun itu, ini telah terjadi yang ada hanyalah hadapi kenyataan, berjuang dan bersemangat. Oke, kali ini gw akan bercerita tentang cedera lutut yang terjadi 1 bulan lebih yang lalu ketika pertandingan futsal di kompetisi salah satu organisasi di planet futsal (kawasan epicentrum) pada tanggal 23 April 2016. Gw coba mengurai cerita kejadian untuk sekedar berbagi tentang proses yang gw jalani sejak cedera hingga proses operasi. semoga temen-temen yang baca (yang sedang berkutat dengan cedera ACL) ada sesuatu yang bisa di petik dari cerita gw ini :D.

Sabtu, 23 April 2016

Pagi itu gw bangun sedikit lebih pagi dari biasanya karena gw juga salah satu panitia di kompetisi futsal itu dan mempersiapkan perlengkapan seperti rompi tim dan wasit untuk pertandingan nanti. Tak ada firasat buruk apapun ketika berangkat ke lapangan futsal itu. Gw bertemu dengan panitia lainnya untuk mempersiapkan venue dan kelengkapan pertandingan dan pukul 09.00 wib, pertandingan pertama di mulai dan kebetulan tim gw main pertama dan gw sendiri masih mempersiapkan beberapa kelengkapan pertandingan di lapangan sebelah. Pertandingan telah dimulai dan tim gw ketinggalan 2-0, tak banyak pemanasan yang gw lakukan disini, hanya sedikit stretching lutu dan lari kecil.

Babak ke dua dimulai, tim kami mulai ketinggalan lagi dan “petaka” itu pun terjadi, disaat gw melakukan man-marking tiba-tiba kaki kiri terpeleset dan ‘twisting’ yang gw rasa ada bunyi krek… krek…krek (3 kali) dan dan langit berubah menjadi hitam sekejap, perih dan nyeri menjadi satu, gw mati rasa, lutut kiri gw membesar akibat memar.  Gw mengerang kesakitan, umpatan-umpatan dan sesalan menyeringai  ke udara dan gw tau cedera ini akan berat. Gw menyeret badan gw ke pinggir lapangan dan di beri kompres es batu.

Pukul 10.30 wib diantar oleh Prihatin, Aldis dan Rifai ke Rumah Sakit di daerah Semanggi dekat Universitas Atma Jaya untuk melakukan x-ray, namun dari hasil x-ray tidak ditemukan adanya patah tulang ataupun retak pada pada betis kiri gw dan hanya diberikan obat inflamasi untuk meredakan pembengkakan. Dari rumah sakit itu, kami lanjut beranjak ke tukang urut tradisional di daerah Cilandak dan mungkin kalian sudah tau ini tukang urutnya siapa (cukup terkenal), disini kami bertiga (gw, Pri dan Aldis) melakukan pijat/pengobatan tradisional. Ketika nomer antrean gw mulai mendekat, dan duduk berhadapan dengan bapak terapis (dari logatnya orang sunda), ia bertanya, dek yang sakit yang mana? kejadiannya seperti apa? dan seketika dia berdiri mengangkat kaki kiri gw dan menekuknya hingga 145 derajat, perihhhhh.. sakit… klek…fiuuuhhh sakitnyaaa….. iya kata dia tempurung gw (patela) sedikit bergeser dan sudah dikembalikan keposisinya  semula.

Sesaat lutut gw di urut yang sakit nya minta ampun ahahaha

Sesaat setelah lutut gw di urut yang sakit nya minta ampun 

 

Trio FGMI (ki-ka), Aldis, Prihatin dan gw

Trio FGMI (ki-ka), Aldis, Prihatin dan gw

Sepanjang perjalanan hati kecil masih banyak bertanya, apakah emang tempurung lutut yang geser atau ada ligament yang putut… ahh.. sudahlah percaya dulu dengan pengobatan tradisional, toh cedera lutut kanan gw pernah sembuh di bapak itu (umpat gw dalam hati).

27 April 2016

Empat hari berselang setelah kejadian itu, lutut kiri gw masih bengkak, dan rencana gw hari ini adalah mencari tau apakah ada ligament gw yang bermasalah akibat kejadian Sabtu kemarin. Gw memutuskan kembali ke rumah sakit yang sama sebelumnya untuk melakukan scan MRI (Magnetic Resonance Imaging), namun untuk melakukan MRI harus mendapat surat rujukan dari dokter spesialis orthopedi (tulang), jadilah gw bertemu dengan dokter ortho di rumah sakit itu. Gw menjelaskan kronologi kejadiannya dan tak banyak yang ia beri tahu hanya surat untuk pengajuan MRI yang ia berikan, jadilah gw MRI yang kurang lebih 40 menit, untuk biaya MRI di rumah sakit itu Rp. 2,200,000,- dan untuk keluar hasil MRI dan konsultasi baru bisa dilakukan pada hari senin 2 Mei 2016.

Gambar ini di ambil 3 hari setelah kejadian itu

Gambar ini di ambil 3 hari setelah kejadian itu

2 Mei 2016

Pagi hari dengan menggunakan tongkat dan abang gojek gw ke rumah sakit bertemu dengan dokter orthopedi itu yang akan berdiskusi mengenai hasil MRI kemarin itu, dari hasil laporan MRI yang tertulis adalah ACL (Anterior Cruciate Ligament) gw rupture atau bisa dibilang putus, meniscus gw tear atau sobek dan saat baca hasil MRI, hari itu seakan hari kelabu tak ada ruang bagi gw untuk tersenyum melihat hasil MRI itu sebelum gw bertemu dengan dokter spesialis ortho. Setelah satu jam terduduk di dekat loket pengambilan hasil MRI, gw memberanikan untuk bertemu dengnnnya, ia melihat hasil MRI dan melakukan Lachman tes untuk melihat apakah benar ACL gw rupture atau tidak. Dari hasil tes klinis tersebut dia bilang jika ACL gw kemungkinan Partial Tear (atau sobek sedikit) dan meniscus (absorper lutut) gw yang sobek, dia menganjurkan untuk operasi meniscus yang bernilai kurang lebih 50 juta.

Namun gw urungkan niat itu setelah menghubungi orang tua di Bali dan menganjurkan untuk berobat tradisional di Bali yaitu urut (again!!). Dan keesokan harinya (Selasa 3 Mei 2016) gw pulang ke Bali.

Hasil MRI di lutut gw

Hasil MRI di lutut gw

3 Mei 2016

Pagi sekitar pukul 08.00 wita kami bersiap untuk ke tukang urut yang kata Ibu telah mengobati banyak orang patah tulang, gw note sekali lagi ia mengobati banyak orang patah tulang. Tukang urut berlokasi di desa Patemon atau kurang lebih 30 menit dari rumah gw di Lovina. Lokasinya cukup unik bagi yang pertama kali berkunjung untuk berobat, karena rumahnya terletak di belakang kuburan (tau sendiri kalo kuburan di Bali kaya mana) dan banyak patung-patung anggota Dewi Durga disana dari leak, buaya dll., hem… lumayan ‘artistik’ gumam gw dalam hati.

Antrian cukup panjang, namun tak butuh waktu terlalu lama untuk mendapat giliran untuk berobat karena waktu penanganan pasien kurang lebih 5 menit, jadi tak terlalu lama untuk menunggu . Masuk ke ruang terapi  bapak itu, auranya sedikit terasa dengan beberapa “pelangkiran” yang cukup besar di pojok ruangan. Ia mempersilahkan gw duduk, ia bertanya (gw translate ke bahasa indonesia) kaki yang mana sakit?, Kaki sebelah kiri pak, tiang (saya) maen bola dan lutut tiang keplintir… kata dia.. ohhh.. ragane (kamu) diem ya. Ia memegang lutut kiri gw dan merabanya, ini di dalemnya luka juga (kata tukang urut), saya perbaikin tulangnya ya. Ia tekuk lutut gw dengan kaki kanannya, ke dua tangannya ada di lutut (tepat di tempurung lutut) dan brek…brek… anjiii…iiirrr teriak gw, paaakkkkk sakiittttt… sampun gus (sebutan untuk mas di Singaraja).. uda selesai.. fiuhhhh…. rasanya sakit banget hampir sama seperti di Cilandak itu hahaha.

Suasana ketika urut di Patemon (Bali)

Suasana ketika urut di Patemon (Bali)

Kami  pulang ke rumah, sore hari sekitar pukul 5 sore gw coba berjalan tanpa bantuan tongkat … dan gw bisa jalan ..ahahha..hhaa… hem manjur juga si bapak itu. Namun sepertinya itu bukan akhir untuk cedera gw. Karena masih terbayang-bayang oleh hasil MRI dimana ACL gw rupture. Selang 10  hari dari pijet terakhir gw di Bali, gw kembali pulang ke Bali untuk urut ke dua kalinya, karena anjuran dari bapak tukang urutnya untuk kalo bisa bawa kesini lagi setelah 10 hari (7 Mei 2016).

Proses Menuju Operasi ACL 

Selama proses gw berobat tradisional hingga akhirnya gw memutuskan untuk melakukan operasi rekonstruksi ACL, sepanjang itu juga gw rutin mencari informasi tentang cedera lutut dan bertanya kepada sahabat gw di Bali yaitu Yuris yang kebetulan sedang mengambil spesialis orthophedi di Udayana. Selain itu youtube, googling tentang ACL dan pemain-pemain sepak bola yang terkena cedera ACL dan juga yang paling sangat membantu gw untuk memutuskan untuk operasi adalah salah satu forum di kaskus yang berisi temen-temen yang sudah dan sedang terkena cedera lutut. Dari sana gw banyak membaca bagaimana operasinya, metode operasi, dokter ahli lutut, pasca operasi, biaya operasi dll. Hingga dalam suatu kesimpulan memutuskan untuk konsultasi ke salah satu dokter spesialis orthopedi yang paling sering disebutkan namanya di forum yaitu dr. L. Andre Pontoh SpOT., yang bertugas di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI).

25 Mei 2016

Jadilah gw siang itu dari kantor mencoba membuka situs jakarta knee center http://www.jakarta-knee-center.com/ yang ada di RSPI. Pelayanan Jakarta Knee Center (JKC) sangat ramah, gw bertanya tentang keluhan dan menjelaskan kronologi kejadiannya, dan perawat menyarankan untuk langsung konsultasi dengan dr. Andre, ternyata jadwal konsultasi baru bisa tanggal 17 Juni 2016, dan hebatnya untuk konsultasi dan operasi dengan dr. Andre harus antri, terkadang kata mbak perawat, biasanya dalam satu bulan sudah full booked jadi kalo daftar sekarang baru bisa bulan depan atau minggu depan setelah telpon. Gw ga keabisan akal, berbekal saran dari temen-temen di kaskus, gw lobi jika ada yang tidak bisa konsultasi bisa selipin nama gw sebagai penggantinya. Dan ternyata bisa, hari Jumat tanggal 27 Mei 2016 gw di telpon pihak JKC jika bisa tanggal 28 Mei 2016 untuk konsul dengan dr. Andre, terima kasiiihh banyak mbak ..hehe..

28 Mei 2016

Sabtu itu gw janjian dengan dr. Andre jam 12.00 siang, pastikan kalo jam 10-an uda di RSPI untuk pengurusan pendaftaran dll. Rumah Sakit Pondok Indah mungkin sama seperti rumah sakit lainnya di Jakarta, tampak luarnya tidak terlalu waah sekali, dan parkir motor ada di basement 3, muter-muter ampe pusing haha. Masuk ke RSPI sepertinya hal baru yang gw temuin jika dibanding dengan RS lainnya di Jakarta. Bukan masalah design interior atau apa namun sistem informasi baik dari pendaftaran pasien di resepsionis yang terhubung dengan bagian lainnya, jadi semua terhubung secara online bagitu juga ketika gw persiapan laboratorium dll. Hasilnya paperless, hasil laboratorium online dll., oke gw salut dengan sistemnya.

Setelah mengurus pendaftaran dll. Gw ditemenin si Putty, seorang “artis” yang katanya lagi banyak yang panggil untuk wawancara dan photo, njirrr… boong kali dia yak hahaha.. peace put. Di ruang tunggu yang nyaman itu, ada sekitar 10 pasien dari beragam usia, dari yang muda (gw) sampe yang tua. Dari hasil obrol-obrol tetangga, ibu-ibu yang periksa ke dr. Andre kebanyakan punya masalah degan meniscus nya atau tandalan yang berfungsi sebagai absorber tulang di lutut kita. Beruntungnya gw hari itu ketemu dengan orang yang udah operasi ACL dua tahun yang lalu, di acerita tentang operasi dan cedera yang dia rasa ketika main basket. He has strong mentality I guess…..

Tiba giliran nama gw dipanggil (waktu itu sekitar pukul 13.30 wib) , masuk ke ruangan dr. Andre yang nyaman. Hasil MRI sudah terpampang tersinari lampu, mungkin dr. Andre sudah melihat hasil MRI terlebih dahulu sebelum gw masuk ke ruangannya.

Ia meminta gw untuk bercerita dan dengan sabar mendegarkan carita dan hal apa saja yang uda gw lakuin untuk menangani cedera ini dari urut di Cilandak, ke dr ortho di rs deket Semanggi itu sampe urut lagi di Bali. Oke, now he’s turn. Kamu rebahan dulu, lutut kiri kan, ia bertanya … Iya dok, jawab gw. Dia melakukan Lachman test lagi, dan sembari tersenyum dia bilang ACL kamu fixed putus dek. Jleeeebbb.. hati gw perih, namun gw uda mempersiapkan memang hasil terburuk untuk siang ini. Berikut sedikit percakapan setelahnya..

Gw         :Oke, kemudian dok?

Dokter  : Jika kamu ga masalah dengan cederamu, ini tidak dioperasi tak masalah kok, ini bukan operasi yang punya urgensi.

Gw         :  Hem namun apa yang terjadi kalo saya ga operasi dok?

Dokter : Jika kamu tidak operasi kamu ga bisa olahraga high impact seperti sepak bola, futsal, naik gunung dll. Karena nanti lutut km tidak stabil. Dan untuk jangka panjang kamu akan mengalami penipisan meniscus, hemmm (ini yang gw denger waktu itu, semoga tidak salah ketik hehe).

Gw         : Jika di operasi dok? Operasinya seperti apa? Butuh berapa lama operasinya? Pasca operasi seperti apa dok dan apa masih bisa main bola dan naik gunung lagi dok?

Dokter : Jika dioperasi, nanti kamu bisa olahraga high impact lagi setelah nanti fisioterapi kurang lebih 8 bulan jika rehabilitasi bener bisa kembali olahraga futsal. Untuk operasi kurang lebih 1 jam-an aja kok, dengan metode double bundle bukan single bundle, dan nanti tulang lutut akan di bor menggunakan plastik bukan titanium, karena jika titanium jika sedang berada di tempat dingin lutut akan ngilu, namun jika yang plastik akan menyatu dengan tulang nantinya.

Gw         : Oke dok, saya pikir-pikir dulu ya dok,

*untuk harga gw belum tanya, namun setelah konsultasi gw menanyakan rincian kisaran harga operasi yang sekitar 75 jt untuk kelas 3 dan 79 jt untuk kelas 2.  (Hari senin harga naik hahahaaha)

Siang itu menjadi jawaban atas semua yang gw cari selama ini, apakah ACL gw putus atau tidak, perlu operasi atau tidak dan akhirnya gw memutuskan untuk operasi lutut ini. Iya, karena gw suka hobby gw, karena gw cinta apa yang gw lakukan selama ini, karena gw cinta sepak bola, cinta berpetualang dan gw ingin itu kembali. Dan senin esok gw akan coba untuk berdiskusi dengan kantor mengenai asuransi dll. Semoga bisa 😀 . Thanks Putty uda nemenin hari ini, dia adalah “miss” Mentawai 2015-2016 sebagai penerang energi terbarukan di Mentawai.. (nih gw sponsorin put biar laku hahahah).

Gambar kiri lutut gw yang ACL putus, gambar kanan ACL normal dengan menggunakan MRI

Gambar kiri lutut gw yang ACL putus, gambar kanan ACL normal dengan menggunakan MRI

Senin pagi itu permohonan gw disetujui atasan, jika nanti operasi ada kelebihan atau excess akan ditalangi terlebih dahulu dimana sisanya nanti gw bayar hehe… dan setelah gw telpon JKC gw bisa dapet jadwal operasi di tanggal 7 Juni 2016, yeaahhh… antara semangat dan deg-degan :D.

7 Juni 2016

Semalam gw susah tidur karena kepikiran hari ini mau operasi, harus puasa dari jam 8 pagi hingga operasi nanti. Pagi itu abang gojek sudah menunggu di depan kosan, tas gendong yang isinya laptop, 1 baju, 1 cd dan hasil MRI. Pagi jalan tak terlalu macet dan hari pertama puasa, langit cerah mentari menyambut semua umat manusia untuk bersemangat menjalani hari senin yang penuh harapan.

Pukul 07.20 wib gw sampai di RSPI yang sehari sebelumnya telah dikonfirmasi untuk jadwal operasi hari ini. Setelah mengurus pendaftaran kamar dan gw diantar menuju kamar opnam di kelas 3. Masih ada sekitar 7 jam sebelum operasi. Di kelas 3 ini terdapat 6 bangsal dan AC yang dingin, semua bangsal di sini otomatis, tinggal pencet kalo mau naikin di bagian leher, kaki dll. Haha…

Pukul 15.20 wib, seorang perawat membangunkan gw, Pak I Putu Ary… pak, yuk operasi nya sudah siap. Gw menggosok mata dan terdiam sejenak, apa mbak? Operasi sudah siap pak.. boleh saya ukur tensi dulu… pikiran masih kosong karena dibangunkan tiba-tiba oleh perawat tadi. Berpindah dari ruangan menuju ruangan operasi dimana kita harus ganti baju terlebih dahulu dengan baju model kimono dengan ikatan di belakang (punggung). Di ruangan operasi di bagi menjadi 3 bagian, yang pertama adalah ruang persiapan, ruang operasi dan ruang pemulihan. Pertama gw di bawa ke ruang persiapan, dimana disini diberikan lagi antibiotik (gw ga tau jenisnya apa) dan beberapa kali kebelet ke toilet untuk buang air kecil hingga sebelum gw masuk ke ruangan operasi hehe.. (mungkin karena deg-degan ya).

Gw terbaring di bangsal dorong itu ketika perawat membawa gw menuju ruang operasi. Ruang operasi yang bersih dengan lampu-lampu sorot (gw lupa mereknya) yang besar, sebuah monitor merk Philips yang terintegrasi dengan alat kesehatannya seperti pengukur detak jantung, pengukur tensi otomatis (yang terkadang anginnya kebanyakan sampe lengan gw sakit hahaa). Ditambah nyaman karena ada speakernya yang menyetel musik Beyonce.

Satu persatu orang masuk ke ruang operasi, yang gw inget adalah dr anestesi yang beberapa hari sebelumnya bertemu untuk liat hasil lab darah dan thorax. Dr. Andre datang kemudian beserta asistennya. Mas Putu sudah siap? Sudah bu… bentar lagi tidur yaa… ia menyuntikkan dua kali bius total dan mata mulai kabur dan gw ga inget apa-apa lagi hingga terbangun sekitar pukul 19.30 wib dengan kepala pusing, mata ngantuk dan badan lemas, hanya suara sayup yang memanggil nama gw dan orang-orang yang lalulalang di ruang pemulihan.

Yang pertama gw liat adalah lutut kiri gw yang berbalut brace dan perban hingga ankle, dan meraba-raba bagian bawah, sial gw ternyata ga pake celana,,, Cuma pake cd doang hahaa… dan tertidur lagi.. hingga terbangun di ruang perawatan (kamar opnam) lagi. Apa yang gw rasain selesai operasi, pertama badan lemes banget, mata ngantuk, mual dan males makan. Hari ini siapa yang jenguk ya? Dan ga lupa berkabar ke orang tua di rumah jika operasinya sudah lancar dan sudah selesai, dan mengabarkan jika gw baik-baik aja kok ;D.

Halooo .. I'm Okay :D

Halooo .. I’m Okay 😀

Malam berlalu menggegaskan esok, dini hari tadi Doddy dan Rifai datang (sorry gw lemes banget), gw ga tau gimana caranya dua anak “kholbu” itu bisa masuk membawa sate ayam dan beberapa botol aqua. Thanks mate… kalian baik sekali :D.

Sampai disini cerita gw dari cedera sampe operasi ACL (Anterior Cruciate Ligament) di RSPI Jakarta Selatan. Ucapan terimakasih kepada keluarga di rumah, keluarga di jakarta Pak de,Bu de, Ka Riya, Ko Jimmy dan dua anaknya yang lucu itu 😀 yang selama seminggu gw dilayani seperti saudara sendiri, sahabat-sahabat GDA (Doddy,Fai, Octavika, Gendhy, Mas Ali), mbak nini dan semesta yang selalu baik kepada umatnya. Buat temen-temen yang punya cedera yang sama, ini bukan akhir namun baru saja dimulai. Hidup kita perjuangan jangan pernah menyerah 😀