Catatan Perjalanan Annapurna Base Camp [Part 1]

Hai, kembali lagi ke blog ini sekitar dua bulan belum gw update tulisan disini, dan tulisan kali ini adalah salah satu tulisan yang setiap ketikan kata yang gw tulis adalah kenangan dan pengalaman selama perjalanan gw dari Indonesia ke Nepal. Dan semoga tulisan ini bias bermanfaat buat lo semua yang mau berangkat trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) di Nepal.

Perjalanan gw ke Nepal adalah salah satu bentuk “target dan hadiah” setelah banting tuluang untuk mengerjakan thesis dan  keberhasilan lulus pasca sarjana, jadi ini adalah salah satu bentuk penyemangat gw untuk cepet-cepet selesai beresin thesis. Dan tiket untuk perjalanan pergi dan pulang dari Indonesia ke Nepal sudah gw pesan sejak bulan November 2016 dengan rajin mantengin harga tiket dari hari ke hari sehingga dapet harga Indonesia ke Nepal dengan transit di Malaysia adalah di harga Rp. 3,500,000,-. Sekilas ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani perjalanan Indonesia ke Nepal, salah satunya adalah Malindo Air, awalnya gw sangsi dan ragu sama maskapai ini, karena ada logo si singa yang citranya kurang baik di Indonesia dengan delay dll. nya hehehe.. namun Malindo Air menurut gw cukup baik untuk dengan harga tersebut karena ada LCD ada film Hollywood, Bollywood, Thamel, Indonesia dll. Dan juga dapet makan baik dari Indonesia ke Malaysia dan Malaysia ke Napal. Cukup rekomen untuk naik maskapai ini.

Seperti perjalanan gw yang udah-udah, gw cuman jalan sendiri dan sempet posting di Backpakcer Indonesia (BPI) tentang rencana perjalanan ini, namun tanggal nya tidak pas, selisih sehari. Jadi gw putuskan untuk jalan sendiri saja, dengan beberapa persiapan yaitu peta, global positioning system (GPS), obat pribadi, jacket dll.

13 April 2017 (Day 1)

Hari yang ditunggu telah tiba, penerbangan dari Indonesia – Malaysia – Nepal, taksi dari kantor (daerah Sudirman) mengantar gw ke bandar udara Soekarno – Hatta, supir taksi dengan rasa penasaran melihat apa yang gw bawa bertanya “Mau ke mana mas?”, hem gw jawab mau jalan-jalan pak hehe.. “Itu bawaannya banyak yak?”, iya pak, mau ke gunung eheh… l!@#&^%!@#*!&^@# dan obrolan berlanjut sepanjang perjalanan sampai bandara. He was a nice driver 😀 .

Penerbangan dari Soekarno-Hatta menuju Malaysia cukup lancar dan tepat waktu oleh maskapai ini, di dalam pesawat pramugari yang ramah dan tentunya makanan yang ditunggu-tunggu :D, penerbangan 2.5 jam ini tak akan terasa bosan karena ada hiburan yang disediakan. Sampai di bandar udara Kuala Lumpur (Malaysia) gw lanjut ke gate selanjutnya untuk penumpang transit, di kejauhan gerbang keberangkatan tersebut terlihat ramai dengan orang-orang Nepal yang terlihat seperti orang India.

Menunggu penerbangan Malaysia ke Nepal, gw bertemu dengan tiga orang yang wajahnya terlihat asing yang sepertinya ia adalah pendaki senior atau orang terkenal di bidang pendakian gunung. Terang saja setelah mengobrol dengan salah satu dari mereka ialah Mas Iqbal, seorang dokter yang akan ikut dalam ekspedisi ke Yala Peak di Nepal. Obrolan berlanjut, ia adalah Muhammad Gunawan atau Kang Ogun, seorang pendaki senior Indonesia yang telah berjuang melawan cancer dan akan melakukan pendakian ke Gunung Everest tahun depan (2018). Gw bersyukur bertemu orang-orang hebat dalam perjalanan ini, dan nanti di Kathmandu gw akan bareng dengan rombongan Kang Ogun di hostel hingga akan berpisah untuk keberangkatan ke Annapurna.

Penerbangan dari Malaysia ke Kathmandu kurang lebih 4 jam, perjalanan lancar sedikit sekali bouncing akibat cuaca kurang baik, diluar terlihat hanya kelap kelip lampu dari ketinggian. Mata terpejam dan terbangun lagi, dan gw masih di atas sini, hingga ketinggian perlahan menurun dan mendaran di Tribuvan Airport Kathmandu (Nepal). Benar kata orang bijak, bandar udara adalah gerbang pertama untuk melihat bagaimana maju atau tidaknya negara tersebut, hal tersebut gw rasakan ketika tiba di Tribuvan, jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta atau Ngurah Rai, kita sedikit berbangga, karena bandar udara kita jauh lebih baik (Balinese Pride).

Apa saja yang diurus ketika di Bandara?

  1. Pertama urus Visa Nepal, visa di Nepal adalah Visa On Arrival (VOA) jadi langsung bisa diurus ketika di bandara, biaya tergantung lama visa yang diajukan. Gw bayar $25 USD untuk 15 hari. Untuk apply visa dengan dua cara, yaitu isi formulir di kertas atau isi formulir di personal computer yang telah disediakan. Yang harus disiapkan adalah foto ukuran paspport dan jangan lupa pasa passport yah.
  2. Setelah selesai, Visa disetujui, lanjut ke bagasi
  3. Di bandara ini juga bisa langsung menukarkan USD kamu ke NPR (Nepal Rupee), ada yang bilang rate di bandara lebih bagus ketimbang di luar. Pengalaman gw kemarin, gw ga nuker dollar di bandara, karena sudah di jemput mbak vita. Rate di Kathmandu leih baik dari Pokhara. Di Kathmandu 112 npr per 1usd, di Pokhara 100 npr per 1 usd.

Sampai keluar bandara, gw bareng dengan tim Kang Ogun, dimmana Mbak Vita (Istri Kang Ogun) telah menunggu di sedari tadi. Wah gw merasa beruntuk diselamatkan di Kathmandu dengan orang-orang baik ini. Dari bandara menuju ke Shakti Hotel di daerah Thamel (pusat backpakcer di Nepal), dan kebetulan saat itu sedang bertepatan dengan tahun baru kelender Nepal, jalanan sunggu ramai, penuh klakson, pesta dan debu tentunya hehe.

Oya, untuk reservasi hotel gw menggunakan http://www.booking.com

Kang Ogun dan Team 😀

 

14 April 2017 (Day 2) ~ Ngurus TIMS  dan ACAP

Hari ke dua di Kathmandu, pagi yang sangat cerah awan biru terlihat dari celah jendela hotel gw. Rencana hari ini adalah pergi ke Nepal Tourism Board (NTB) untuk mengurus izin (permit) untuk trekking di Nepal. Pagi itu gw dan tim kang ogun, mbak vita, mas Iqbal dan pak Frans sarapan pagi bersama di hostel, lempar cerita-cerita dan pengalaman mereka tentang tujuan pendakian kang ogun, dan mbak vita yang menjadi salah satu kartini Indonesia. Gw takjub dan bersyukur bisa berbicara sedekat ini dengan mereka, orang-orang yang sangat sulit dijumpai di Indonesia, dan akhirnya bisa sedekat ini dengan mereka.

Setelah sarapan pagi gw pergi untuk mengurus permit, berbekal informasi dari petugas hostel dan peta yang disediakan di hostel. Permit yang harus di urus di NTB adalah Trekker’s Information Management System (TIMS) dan Annapurna Conservation Area Permit (ACAP), biasa masing-masing permit adalah 2000 NPR baik untuk TIMS dan ACAP. Apa saja yang diperlukan untuk mengurus permit tersebut, yaitu foto ukuran passport 4×6 warna ataupun hitam putih tidak masalah dan passport, jika diperlukan jangan lupa bawa fotocopy passport ya. Untuk alamat NTB ada di jalan Pradarshani Marg, Kathmandu. Selain di Kathmandu, kantor NTB juga ada di Pokhara jadi tenang aja.

Nepal Tourism Board (NTB), tempat pengurusan permit TIMS dan ACAP

Bagaimana jika gw males ngurus permit?, bagi lo pada yang males ngurus permit lo bisa pake fasilitas yang biasa disediakan oleh hostel baik di Kathmandu atau di Pokhara, dengan biaya 45 usd. Jadi, semua terserah lo, mau urus sendiri atau urus pake jasa hostel.

Trekker’s Information Management System

Annapurna permit atau ACAP

Hari ini gw sempetin untuk cari kartu lokal namanya NCell, untuk biaya beli kartu dan paket internet 1GB harganya 1000 npr, dengan terlebih dahulu mengisi formulir dan foto di lembar isian. Beda dengan di Indonesia, yang lo ga usah isi formulir data diri, yang kebanyakan hanya sekedar ngisi aja hahaha. Keliling seputaran Thamel yang merupakan salah satu pusat backpacker di Nepal, sepanjang jalan yang gw liat adalah toko-toko yang menjual keperluan pendakian seperti down jacket, trekking pole, botol minum, celana quick dry, kompor dll. tapi merek tersebut kebanyakan KW atau ga asli, ada The North Face (paling banyak di palsuin), Archteryx, Mammut, Marmot, Columbia dll. Namun, jika mau cari yang asli juga ada, ada 3 atau 4 counter yang menjual barang-barang original di sekitar Thamel, ada 2 counter The North Face, 1 Marmot, 1 Black Yak, 1 Moutain Hardware tinggal pilih mau masuk kemana haha. Untuk harga, gw gak shock ketika masuk ke counter The North Face, sepatu yang di Jakarta harganya 4.2 juta bisa disana harganya 2.6 juta (separuh harga) dengan model yang sama, begitu juga dengan kacamata Julbo harganya lumayan dibandingkan di Indonesia. Hehe.. kalo mau belaja silahkan hehe.

Pagi itu di Thamel

Besok hari gw rencana untuk berangkat dari Kathmandu ke Pokhara, dimana untuk trekking di ke Annapurna Base Camp (ABC) kota terdekat untuk menuju Nayapul adalah dari Pokhara. Untuk ke Pokhara ada dua pilihan moda transportasi yaitu darat (bis) dan udara. Untuk tiket bis berkisar antara 600-900 npr dan pesawat kira-kira 80 usd (informasi temen). Nah, untuk bis ke Pokhara gw pesen di hotel dengan harga 700 npr yang akan berangkat dari Kantipath road jam 07.00 pagi, lewat dari itu sudah ga ada bis lagi. Selain beli di hostel, lo juga bisa beli langsung di Kantipath road, pastikan lo dateng agak pagi sekitar jam 06.00 am lo uda disana.

 

15 April 2017 (Day 3) ~ Bis tipu-tipu dan Ketemu Tim

Pagi ini gw bangun lebih dulu dari pada alarm hp gw, mungkin karena berasa semangat dari semalem. Mandi dan sarapan gw berangkat dari hostel kira-kira jam 06.15, dengan estimasi jalan kaki kurang lebih 10 menit. Di Kantipath road, pagi itu sudah berjejer bis-bis yang akan menuju Pokhara, kurang lebih ada 20 bis yang akan berangkat ke Pokhara pagi itu. Gw tunjukin tiket gw ke salah satu pengemudi bis dan bertanya bis gw kira-kira sebelah mana, dengan gesture yang bisa gw baca (kepala geleng-geleng), dia berkata “No bus…”, okay gw masi terima, gw jalan lagi ke supir berikutnya, sama dengan gesture geleng-geleng, satu supir lagi di bilang “Perhaps two or three bus from here”, oke gw masih jalan dan akhirnya dari ujung ke ujung dan balik lagi ke ujung bisnya ternyata ga ada, what the f*ck, the hostel guy lied to me. Dan pas itu juga gw telpon si hostel tempat gw nginep, dan baru ngomong “ Hallo good morning… “ pulsa gw abis. Anjir lah… Dan solusi terakhir adalah gw beli tiket bis lagi untuk ke Pokhara dengan harga 600 npr, lebih murah 100 npr dari pada di hostel. Khan taiiikk…

Di dalem bis, gw masih belum bisa terima dengan kejadian ini, dan gw berjanji balik ke Kathmandu, hal yang pertama gw lakukan adalah dating ke hostel itu dan minta duit gw dibalikin!!!. Tepat sekitar jam 07.00 bis mulai berangkat, bis disini dilengkapi AC dan kipas angin haha.. jadi kalo lagi musim panas AC dipake, kalo lagi musim dingin lo cukup idupin kipas angin aja. Asyiknya sejam perjalanan kita sering dapet “break” untuk buang air kecil, dan lunch break. Total 4 kali break untuk sampe di Pokhara.

Salah satu tempat istirahat bus menuju Pokhara

Jalan menuju Pokhara akan ditempuh kurang lebih 8 jam perjalanan, dengan pemandangan perbukitan dan latar belakang pegunungan beratapkan salju di kejauhan. Sepanjang perjalanan gw perhatiin berapa kali truk yang berpapasan atau yang disalip, bentuknya unik dan dengan gambar-gambar dewa (siwa, ganesha) atau symbol-simbol Hindu, dan mayoritas truk yang gw liat mereknya Tata Motors, pabrikan India.

Pemandangan perjalanan menuju Pokhara

Disalah satu tempat “break” secara tidak sengaja gw melihat seseoarang dengan sandal jepit Ando dan tshirt “Rip Curl Bali” berwarna hitam duduk di tangga ketika gw selesai buang air kecil. Gw sapa orang itu, “Hey.. is it flip-flop from Indonesia?”, orang itu terkejut dan langsung membalas “ How do you know?”, I’m from Indonesia mate. Awal obrolan itu berlanjut dengan berkenalan, dan ia adalah Tim, seorang Karibia yang tinggal di Bali karena bapaknya kerja di Timor Leste, Ibu bekerja di green school Ubud, dan dua adiknya sekolah di Green School Ubud. What the fuck mate, world so closed, so you’re living in Bali now, yes I’am. Cerita-cerita dia baru balik dari Everest Base Camp (EBC) dan mau leyeh-leyeh di Pokhara dan ga mau trekking lagi (itu kata dia sih), eh see you Tim, bis gw mau jalan.

Sampe di terminal bus di Pokhara, lo akan ketemu banyak “cab” atau taksi, yang ukurannya mini dibandingkan taksi-taksi di Indonesia. Saking mininya mungkin maksimal 4 orang jika ditambah tas carrier lo, bakalan desek-desekan didalem. Dari terminal bis ke Lakeside Pokhara (pusat nya Pokhara) paling jalan kurang lebih 2.6 km, kalo naik taksi lo bayar sekitar 400 npr, jadi coba cari barengan jadi lebih murah. Gw dapet barengan 3 bule cewe, jadi share bayar 100 npr per orang. Hehe…

Hostel gw di Pokhara namanya Peace Eye hostel yang uda gw booking sebelumnya di booking(dot)com, harganya 700 npr per malam, jadi mayan lah hehehe, ga mahal-mahal amat. Sembari duduk-duduk nunggu kamar gw dibersihin, ga sengaja gw ketemu lagi sama Tim yang lagi cari hostel. Hey Tim, see you again :D, wahh obrol dan obrol akhirnya kita akan bareng ke ABC, tapi besok setelah TIMS dan ACAP doi selesai diurus sekitar jam 10 am. Alright, jadi besok ke ABC gw ga sendiri, jadi jalan bareng Tim, yeah.. :D.

Tampak depan Peace Eye hostel

Kamar denga 2 bed, 700 npr dan kamar mandi di luar

 

16 April 2017 (Day 4) ~ Fcuk ATM and Going to New Bridge

Wahh pagi yang cerah di Pokhara, gw terbangun jam 5.30 am. Ketika pintu gerbang hostel pun belum terbuka. Gw inisiatif untuk ambil kamera dan keliling pagi2 di sekitaran danau di Pokhara. Masih sepi, dan beberapa turis sudah siap-siap dengan carrier nya untuk pergi trekking atau malah balik ke Kathmandu. Udara disini boleh di bilang kaya di bedugul segernya, banyak pepohonan dan sangat berbeda dengan di Kathmandu yang berdebu itu hahaha…  Menjelang sarapan pagi, gw bertemu dengna Tim di café kopi namanya AM/PM Coffee, ngobrol-ngobrol tentang rencana untuk hari ini yaitu, Tim ambil duit di ATM, nungguin permit dan les gho.

Menjelang jam 10 am, permit Tim sudah ditangan, namun masih kendala dengan mesin ATM yang ada di Pokhara, kata Tim, mesin ATM disini terlalu tua untuk kartunya, jadi hampir semua mesin ATM di Lakeside yang dimasuki tidak bisa diambil uangnya, jadilah kita muter-muter hingga akhirnya salah satu ATM ketika menuju Nayapul berhasil ditarik.

Menuju Nayapul dari Pokhara akan ditempuh 1.5 jam perjalanan dengan taksi, namun jika naik bis local estimasi kurang lebih 3-4 jam, karena banyak berhenti dan istirahat. Perjalanan ke Nayapul di kejauhan lo bisa liat Annapurna II dengan gagahnya, dan ini pertama kali gw liat langsung gunung ditutupin salju hehehe. Oya, tarif taksi dari Pokhara ke Nayapul itu 2000 npr, lo bisa tanya ke hostel untuk pesen taksi, dan tarif taksi fixed price.

Way to Nayapul

Sampai di Nayapul, matahari sungguh terik, beberapa jeep dan taksi ngetem di warung dimana gw dan tim turun. Trekking gw kali ini adalah langsung ke ABC dan tidak ke Poonhill, karena gw berfikir karena waktu yang gw punya tidak cukup untuk trekking ke Poonhill kemudian lanjut ke ABC. So,let’s go to ABC, target hari ini adalah bermalam di New Bridge.

Dari Nayapul perjalanan berlanjut ke Siwai, mentari sungguh menunjukkan sinarnya tak hentinya, jalanan kerikil sedikit berdebu, pinggir jalan sungai dan beberapa pendaki yang telah turun dari ABC dengan senyum lebar. Jangan lupa, di Nayapul kira-kira 1 km berjalan dari ujung jalan, akan ketemu dengan pos checkpoint untuk TIMS. Sedangkan untuk ACAP akan dilakukan pengecekan di Chomrong. Lanjut berjalan setelah pengecekan permit, beberapa menawarkan untuk naik taksi atau jeep mereka, namun dengan harga yang cukup mahal. Bayangin aja 1000 rupee satu orang untuk ke Siwai, gila aja. Namun idealisme gw sama Tim luluh juga ketika kita bisa nawar harga jeep ke Siwai jadi 400 rupee satu orang, oke mungkin ini jalan terbaik hahah…

Checkpoint TIMS

Siwai adalah tempat terakhir dimana busa, taksi dan jeep mangkal. Kalian bisa naik kendaraan ketika turun dari ABC langsung ke Nayapul atau langsung ke Pokhara. Namun jika naik jeep dan taksi harganya lebih mahal.

Dari Siwai kita mulai berjalan lagi menuju New Brigdge, kurang lebih 3 jam perjalanan menuju New Bridge. Naik dan turun sudah menjadi hal lumrah di trekking ini, pemandangan yang sangat indah awan tipis-tipis, bebatuan metamorf terpajang di dinding bukit, lembah dengan suara deru air sungai mengalir. Masuk pepohonan dengan tangga-tangga batu tersusun rapih untuk pendaki. New Bridge terlihat dari kejauhan di persimpangan jalan menuju Landrukh dengan beberapa lodge disana, tim yang lebih dulu sampai telah memesan kamar untuk kita berdua. Oya, makanan disini enak dan disini gw baru tahu jika kalian mandi, akan kena charge jika make hot water.

Kiri ke ABC via Poonhill, Kanan langsung ke ABC

Lodge di New Bridge, kalo mandi bayar yah hehe

[Singaraja – Bali] Air Terjun Sekumpul

Hai, ini lanjutan perjalana gw selama liburan kemarin di Bali yang sebelumnya hiking ke Gunung Batur melihat indahnya matahari terbit yang tentunya itu keren banget. Di Singaraja (rumah gw) bingung juga mau kemana, temen-temen uda pada gendong anak, bengong sendirian di rumah itu ga enak juga dan kurang produktif. Bangun pagi, ibu pergi ke kantor, bapak pergi, adek pergi ke kampus, dan gw duduk sendirian menatap layar tv yang isinya gossip artis, yang harga beritanya tak lebih dari harian lampu merah.

 Pagi cerah dengan suara burung di depan rumah yang hampir setiap hari berkicau tanpa false sedikitpun, berbeda jauh dengan tempat dimana gw sekarang ‘bertarung’ di Jakarta, tempat dimana hampir seluruh ‘manusia’ mengadu nasib, mencari JODOH dan masa depan di kota ini. Ahh uda deh, lupakan saja bayang-bayang cerita Jakarta sejenak di rumah dimana kasih sayang selalu menyelimuti tiap sisinya. Miss my home 😦

Sebelum pulang ke Bali, gw denger dari temen gw tentang air terjun Sekumpul atau Bahasa inggris nya Air Terjun Sekumpul (air jatuh), nah dari beberapa kali googling liat peta dan lain-lain, jadilah pagi itu jam 10.00 wita gw berangkat menuju Desa Sekumpul, Kecamatan Sawan , Kabupaten Buleleng dan Provinsi Bali, lengkap gw tulis untuk lo pada yang mau kesana, biar ga banyak nanya lagi ahahaha.. piss 😀 .

Perjalanan ke Sekumpul jika normal itu tidak kurang 1 jam-an (tambah 30 menit) dan itu kalo ndak ada masalah apa-apa di perjalanan ya. Start dari rumah gw di Singaraja (Kaliuntu) melalui jalan perkotaan dan bergradasi melihat tanah-tanah gersang dan berganti lagi menjadi dataran tinggi tapi tetap panas (Singaraja terkenal dengan daerah yang panas karena berada di tepi pantai, dan membentuk karakter penduduk keras dan Bahasa bali yang cukup kasar), dikanan kiri jalan tak banyak pemandangan karena tertutup oleh rumah-rumah penduduk, sementara di ujung sana terlihat birunya langit ditemani awan dan hijaunya pepohonan.

Air Terjun Sekumpul

Sekitar 1 jam sudah motor melindas jalan aspal menuju Sekumpul, dan gw tiba di pintu gerbang Sekumpul Waterfall. Biaya tiket disini di bagi menjadi dua satu yaitu tiket (katanya parkir) parkir dan tiket masuk yang kalo tidak salah gw bayar Rp.5000 atau Rp. 10,000,- . Lo ga usah pake guide lokal juga ga masalah kecuali kalo lo emang anaknya males buat jalan, dan males buat navigasi dimana lo berada sekarang 😀 . Jadi disini ga gw cantumin berapa biaya lokal guide ya (karena gw bukan travel agent ahaha) karena lo seharusnya ga usah pake juga sih. Perjalanan masih berlanjut karena dari pintu gerbang selamat datang di Air Terjun Sekumpul masih sekitar 1 – 2 kilometer lagi untuk di tempat gw parkir motor, kalo mobil parkir nya sekitar 200-300 meter dari pintu gerbang atau loket karcis.

Di Air Terjun Sekumpul itu terdapat 6 atau 7 air terjun , dan untuk sampai disana dari parkiran motor harus berjalan kaki menuruni anak tangga yang jumlahnya pernah gw hitung tapi lupa hitungannya di tengah-tengah jalan hahaa…. Yang pasti sedikit ada masalah di lutut lo kalo mau sampe di bawah. Belum lama berjalan dari tempat parkir, gw kaya masuk ke dunia yang berbeda, kalo pernah nonton film nya Indiana Jones yang kurang kurang lebih nya kaya gitu deh. Dari atas sini gw liat 3 air terjun ada di depan gw, mengalir bak lukisan berjalan dengan tampias air yang terbang terbawa angin. Ga sabar nih sampe bawah … let’s go …

Air Terjun Sekumpul

Air Terjun Sekumpul

Sekarang tepat 3 air terjun ada di depan mata gw, suara menderu air yang jatuh dari atas sana menciptakan percikan buih dan bulir-bulir air yang terbang menghantam muka. Air nya terlihat jernih sekali, salah satu sumber air untuk warga Singaraja adalah dari Sekumpul ini (lihat di google map). Kalo dari bebatuannya iseng-iseng sih gw liat, air terjun ini tersusun dari Breksi vulkanik, terlihat dari fragmen-fragment besar yang menyudut, hemm dahulunya bisa jadi ini intrusi, ahh sudah lah hehe… Jadi hal yang bisa lo lakuin di Air Terjun Sekumpul ini adalah mandi, foto-foto selfie, wefie atau apalah namanya dan tempat ini rekomendasi untuk dikunjungi dibandingkan tempat-tempat wisata mainstream di Bali kaya Kuta, Nusa Dua yang sekarang uda macet nya ngimbangin Jakarta. Ehh ini bukan penutup, gw ada mau cerita sedikit tentang ‘masalah’ kecil administrasi pengelolaan air terjun ini dan cerita lucu/unik dari bule prancis :D.

Jalan Menuju Air Terjun

Jalan Menuju Air Terjun

Air Terjun Sekumpul (dari dekat)

Air Terjun Sekumpul (dari dekat)

‘Kerikil” Kecil Air Terjun Sekumpul

Dibalik indah nya Air Terjun Sekumpul ada sedikit kerikil kecil di balik pengelolaan air terjun ini, ini gw sadari ketika gw hendak mengunjungi air terjun lainnya di area Sekumpul Waterfall. Seperti yang uda gw jelasin di atas ada 6 air terjun disini. Nah, ketika gw hendak ke sisi air terjun yang lain, seorang menanyakan hendak kemana, dari percakapan itu ia mengharuskan gw untuk membeli tiket terusan untuk ke tiga air terjun tersebut, lah gw ga mau tau dong, kan gw uda bayar pas masuk tadi. Baiklah dari pada gw buang-buang energy untuk berdebat gw beli tiket terusannya, dengan pernjanjian setelah ini gw mau ngobrol sama bli tadi.

Dari informasi bli tadi, ada yang menarik yaitu secara administratif Air Terjung Sekumpul berada di Desa Lemukih dan Sekumpul hanya mempunyai 1 air terjun yang masuk ke wilayah administratifnya. Namun, para pengunjung yang mempublish tulisannya di web (termasuk gw) menyebut bahwa tempat ini adalah kawasan Air Terjun Sekumpul, so lambat laun nama Sekumpul semakin di kenal. Di lain sisi, dari Desa Sekumpul telah lama mengelola air terjun ini dengan membuat anakan tangga atau akses menuju air terjun dari desanya. Begitu juga dari desa Lemukih yang membuat akses ke air terjun yang sama, jadi namanya mau apa bli? Air Terjun Sekumpul atau Lemukih nih kata gw?, hemm .. dia bingung garuk-garuk kepala.

Papan Pengumuman Air Terjun Lemukih ? atau Sekumpul ?

Papan Pengumuman Air Terjun Lemukih ? atau Sekumpul ?

Gimana ? Masih kurang bagus ?

Gimana ? Masih kurang bagus ?

Nah, apakah tidak ada upaya mediasi dari ke dua desa ?, dia  menjawab, mediasi telah dilakukan dengan pembagian persentasi dari tiket masuk atau karcis, namun belum ada kata sepakat untuk pembagian hasil satu tiket itu, sehingga itu mengapa ketika gw sudah di bawah harus bayar satu tiket lagi untuk menuju air terjun lainnya yang secara administrative ada di Desa Lemukih. Sedikit kompleks memang, mungkin bisa dirundingkan untuk jalan keluarnya supaya pengunjung tida bingung dengan penarikan dua kali tarif yang berbeda. Astungkara :D.

Si Bule Prancis Yang Ga Mau Rugi

Nah kalo yang satu ini lebih unik dan lucu menurut gw, setelah mengambil foto dan video di air terjun tadi gw jalan untuk pulang, namun awan mendung datang dan rintik hujan pun satu persatu turun membasahi pepohonan. Sejalan dengan itu gw liat pasangan bule yang hendak ke air terjun, namun mengurungkan niatnya karena hujan mulai turun dengan derasnya. Gw ga banyak bicara sama mereka, karena pada waktu yang sama gw coba interview dengan bli penjual karcis masuk itu mengenai masalah pengelolaan air terjun Sekumpul.

Tiga puluh menit berlalu sejak gw duduk di pondokan bersama beberapa pengunjung yang kehujanan, tiba-tiba seorang menepuk pundak gw dan berkata “Hi, can you speak English or Indonesia” dengan akses Prancis nya, gw jawab Ya, gw bisa Bahasa Inggris, Indonesia sama Bahasa Bali, ada yang bisa gw bantu ?, Tanya gw ke dia. Oke, sesi dia curhat nih kayanya,

Bule     : Oke, gini mas, tadi gw beli tiket masuk sama bapak itu, satu tiket harganya Rp. 15,000, dan karena hujan, gw dan cew gw berniat untuk batalain ke air terjun itu.

Gw       : Terus, apa yang bisa gw bantu ?

Bule     : Emmm… gw bisa minta tolong ga sama lo, tolong sampein ke bapak itu, kalo gw batal kesana dan gw minta duit gw balik lagi Rp. 30,000, dan gw akan balikin tiket nya

Gw       : Anjiirrrr , dalam hati gw berkata, faaaakkkk.. come on … Are you serious ? Karena liat muka nya melas banget, ya uda gw coba bantu… ahhhh dasar bule F&$(!*&$@#)$(* . Ya, gw bilang ke bapak nya dengan Bahasa Bali dengan sedikit candaan biar duit nya mau di balikin, dan untungnya bapak itu mau kasi balik duit Rp. 30,0000,- dan si bule kasi balik 2 karcis yang di beli tadi

Bule     : Thanks, mate for your help, (sambil senyum senyum)

Gw       : Ahhhhh… That’s ok kembali kasih .

So, pesan yang ada adalah pertama bule kebanyakan Eropa atau Amerika sangat strict sama yang namanya service , kembalian duit atau apapun lah itu namanya. Kalo misal dia naik taxi dan di argo tertera Rp. 75,500,- mereka bayar Rp.80,000 mungkin mereka akan minta kembalian itu haaha. Kedua, buat cew-cew yang ngefans dengan orang bule, endak semua bule yang dateng ke Indonesia itu tajir, jangan lo anggep dapet bule secara langsung lo bisa hidup aman secara ekonomi. Hemm… gw bilang gitu karena gw jadi ga laku kalo semua cew Indonesia ngejer bule.. hahahahaa….. kamf@#$*!@(#*$&(@&$..

 

Nyaman Jalan Kaki Disini

Nyaman Jalan Kaki Disini

Nebeng nampang dulu lah

Nebeng nampang dulu lah

 

Mt. Papandayan with Tristan and Rebeca

This special my special note, dedicated to Tristan and Rebeca

Friday crazy traffic was horrible for Tristan and Rebeca who’s landed safely last night in Jakarta. That was a great welcoming for them especially for Rebeca’s first coming to Indonesia.

I surprised to see Tristan for second time, he doesn’t looks change a lot since first time I met him 5 years ago in Jogja. He keeps his dred-lock hair (gimbal), charming and very kind. And also now he is traveling with Rebeca, the girl who are very special beside him (always).

Tristan and Rebeca have two weeks’ vacation in Indonesia. Mt. Papandayan will be the first place they visit and followed Bali afterwards. I suggested them to join our trip to Mt. Papandayan because of Independence Day on 17th of August.

Me, Rebeca and Tristan :D Rock you guys

Me, Rebeca and Tristan 😀 Rock you guys

We started from Kampung Rambutan bus station where another three of my pals were waiting us, they are Andre, Yusi and Martha, while we were fighting against traffic to get there. After pushing around with traffic finally, we got a bus, not really bad but for sure we have our comfort seat to spend 4 hours to Guntur bus station. While on the bus Tristan talked a lot about their life and what he’s doing in Spain and also Rebeca with hers job as an artist, man I’m a lucky one have friends like you guys, time goes by flew me away to a thousand stars to fell asleep.

Along the way to Mt. Papandayan

The sun comes up warm us from the cold morning in Cisurupan, many people walked pass me by, they are on group with seven to eight people with same destination to Mt. Papandayan to celebrate Indonesian’s independence day tomorrow (Sunday, 17th August 2014).  We met another group with 4 persons and later on they are our travel mate to Mt. Papandayan. Started from Cisurupan , We paid Rp.20,000 per person to Camp David and our trip just begun.

Along the way to Camp David I can see what Tristan and Rebeca’s feeling on that time and I said ” Welcome to Indonesia” brotha,, with this trip I’d like to introduce them my beautiful country. Mt. Cikuray stand up like a big hero behind us.

After finished registration, we started hike to Pondok Salada, where Pondok Salada will be our first check-point before summit attack day after. This is my second time hike to Mt. Papandayan, but I thought that I got good feeling with this, talking with them gave me  new perspectives about life, Tristan and Rebeca traveled thousand kilometers from their home to Indonesia, touch our peacefulness, our fresh air, culture and people, you are too lucky mate.

We took two hours of hiking to Pondok Salada, as I predicted before, Pondok Salada fully with people, tents had stood up with nice color, orange, blue, yellow, red etc. Yusi, Andre and Martha took their job preparing our lunch mean while Santo, Riri and I build up our tents. Sky was so blue, cloud make that noon really beautiful.

Mt. Papandayan team

Mt. Papandayan team

 

Sunrise at Tegal Alun

I woke up at 03.00 am and they’re still fell asleep in their dream, the air was really cold outside when I opened up the tent’s door. Thanks to Riri who helped me out for making coffee, not bad, so far it helped to keep us warm.

As my experience, trip to Tegal Alun will take around an hour, we started to hike at 04.00 am and without Rebeca because she got fever L. Cold night but stars stare at us up there, really clear and bit windy until we walked up around an hour, when I looked back, man.. that was so amazing cumulus’s like an ocean and sun shine spread on it. Thanks Indonesia for this beautiful landscapes.

Sunrise at Tegal Alun, Mt. Cikuray stands up like a boss

Sunrise at Tegal Alun, Mt. Cikuray stands up like a boss

Thank you very much Tristan and Rebeca for accompanying me to Mt. Papandayan with my friends and thanks for visiting Indonesia (again). One day I will visit your country and take me to explore Spain.

 

IMG_3137

Indonesian’s flag at Tegal Alun

 

 

 

 

IMG_3045

Thanks mate 😀

IMG_3017

Edelweiss, this flower is endless like I love you lol

 

IMG_3185

Alkaline Trio – What do you think, if we put hotels up there ?

 

 

IMG_3184

Our tent inside

 

Yell yeah, we are at Hutan Mati

Yell yeah, we are at Hutan Mati

IMG_3174

Handsome single guy

 

 

Di Papandayan Kami Tak Sendiri

Senja kala itu mulai menenggelam menjadi gelap dan saat itupun gw masih nungguin taxi di salah satu tempat perbelanjaan di daerah SCBD. Waktu makin sedikit tak punya hati nurani, semakin bergerak tak mengurangi kecepatannya dan taxi pun hanya bagaikan sekelebat sepintas lalu. Karena hari ini gw harus cepat-cepat pulang kost , packing carrier untuk segera ke terminal Kampung Rambutan sebelum jam 10 malam.

Dikala menunggu itu gw bersyukur akhirnya berangkat juga setelah 2 bulan yang lalu dengan rencana yang sama gw batal pergi karena alasan non-teknis. Dimana temen gw membatalkan keberangkatan 2 jam sebelum berangkat, sedikit kesal namun tetap ada hikmah di balik semua ‘masalah’ :D. Dan untuk perjalanan kali ini gw dan tiga orang temen gw yang mereka belum saling kenal akan ikut dalam perjalanan gw kali ini ke Gunung Papandayan. Mereka adalah Panji, Benyamin (Benja) dan Ershanto (Santo), ketiga pria anak manusia ini akan gw pertemukan di suatu perjalanan 😀 dan semoga bisa saling kenal nantinya. Terbangun dari lamunan semu gw tiba di depan gerbang kost dan tak membuang waktu untuk sekedar memberi selamat jalan supir taxi.

Tas carrier yang tersembunyi di balik lemari gw tarik keluar, tenda, nesting, kompor, logistik, pakaian dan perlengkapan lainnya masuk satu persatu dan begitu juga Panji yang datang 10 menit setelah gw sampai di kost dan diikuti oleh Santo, kami packing bareng men-setting semua telah masuk dan memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal.

Kampung Rambutan dan Tak Ber”Budiman”nya Bis Ini

Jam 20.30 kami berangkat dari kost gw menuju terminal bus Kampung Rambutan dan harapan kami selama perjalanan adalah tidak macet, karena kebetulan hari itu adalah hari Kamis dan keesokan harinya adalah hari libur, dan dapat dipastikan Jakarta pasti macet. Namun, memang jalan kami diberikan sedikit asa, perjalanan ke terminal Kampung Rambutan kami tempuh sekitar 1 jam 10 menit saja dan terima kasih kepada bapak supir taxi yang lihai salip kanan kiri 😀 hahaha….

Hiruk pikuk dan suara kondektur riuh menggema terbawa angin ke angkasa meneriakkan tujuan bus yang akan membawa penumpang mengarungi dinginnya malam ke tempat tujuan. Disini kami bertemu dengan Benyamin (Benja), dia temen gw traveling yang ketemu di Couchsurfing trip pertama gw sama Benja adalah ke Pulau Peucang di Ujung Kulon. Benja gw kenalin ke Panji dan Santo, jadilah kami segerombolan pria pencari “jati diri” yang akan berangkat ke Gunung Papandayan dan ternyata ada puluhan laki-laki dan perempuan yang seperti kami membawa carrier tinggi, sepatu lapangan dan berjaket tebal dengan tujuan yang sama yaitu pergi ke Gunung :D.

Tunggu dan menunggu itulah pekerjaan sementara di Kampung Rambutan, ada beberapa bus tujuan Garut yang lewat di depan mata namun penuh, entah mengapa tujuan Garut penuh sekali malam ini. Hingga akhirnya pukul 11.40 bus yang bernama BUDIMAN gw hampiri dan ternyata tempat bagasi di lambung bus masih kosong. Naik ke dalam bus kondektur berkata “kedepan mas, kedepan…!!”, gw kira kosong ternyata maksudnya adalah isi barisan paling depan untuk berdiri, yap berdiri, tak adalagi tempat duduk kosong, dan kami dan penumpang lain yang tak mendapatkan kursi harus berdiri, hingga kapan? Hingga bus ini berhenti di labuhan terakhirnya Terminal Guntur di Garut, hahaha…

Waktu berjalan terasa lama…lama…lama…dan lama sekali, memang rada ngiri ketika ketika berdiri menyandarkan tangan di pegangan bus dan melihat penumpang lain tertidur pulas di jok empuk dengan posisi kepala agak menegak, hingga kondektur yang menerapkan tarif yang sama baik berdiri ataupun duduk (Rp. 50,000,-). Namun tetep prinsip gw “Tak Ada Cerita Jika Tak Menderita”, namun ini kami lalui bersama hanya untuk bisa ke Gunung Papandayan :D.

Disini Kami Dipertemukan

Pukul 03.00 WIB bus BUDIMAN yang kami tumpangi tiba di Terminal Guntur, udara separuh dingin menyerang, para pendaki terlihat lalu lalang di terminal dengan baju flannel dan carriel yang mengangkasa dengan beberapa tujuan gunung yang akan di daki, ada Papandayan hingga Gunung Cikuray. Kami beristirahat sejenak sembari melihat itinerary yang gw dapetin di internet dan ngecek GPS untuk ke Cisurupan. Gw keliling untuk cari angkutan ke Cisurupan, namun harganya rada sedikit mabok, jadi gw urungkan hingga akhirnya gw ketemu sama 6 orang rombongan yang isinya dua cowok dan 4 cewek yang juga sedang beristirahat sembari nyeruput kopi susu.

Seperti biasa gw awali peribincangan degan menanyakan dari mana, mau naik gunung apa dll. Karena gw liat ada dua orang senior di group ini, satu senior di segi usia yang kedua senior untuk urusan naik gunung (keliatan dari bawaanya :D). Nah yang senior dari segi usia ini namanya Ibu Diah tapi dia ga suka dipanggil Ibu karena lebih nyaman dipanggil Mbak Diah, weehh…dasar yah, ga mau banget dikatai uda berumur 😀 haahah peace mbakeee. Dari sana pembicaraan cair hingga kami kenal seluruh temen-temen satu group tersebut ada Reko, Dwi (Cewenya Reko), Galuh, Mbak Diah, Warda (Calon mantunya Mbak Diah 😀 ) dan ada Emil, kami putuskan untuk traveling bareng ke Gunung Papandayan (sebenernya untuk menghemat biaya transport) ahahaha….

Dari terminal Guntur kami naik angkot ke Cisurupan (Rp. 13,000/orang) dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit dan supir nya udah kaya fast furious ngeri banget. Jalan menujut ke Cisurupan kala itu sepi, sedikit berkelok kelok dan berkabut. Sepanjang jalan yang gw liat hanya garis putih aspal yang meliuk liuk mengikuti irama mobil angkot dan sebelah gw si Benja enak-enakan tidur, dalam hati gw ngomong ke Benja, emang lebih enak yah tidur duduk, kepala disenderin ke bahu gw dari pada lo kudu tidur berdiri, hahahahaha.

Sampai di Cisurupan udara tambah dingin :D, kami berhenti sejenak untuk sekedar membeli sarapan di pasar dan mencari angkutan untuk naik ke Camp David (Pos Pendakian Gunung Papandayan). Dan disini lagi gw ketemu sama dua orang pendaki yang berasal dari negeri antah berantah, iya, mereka adalah Derly dan Jay (bukan Vijay). Derly dari Depok dan si Jay dari Rawamangun dan lengkaplah pendakian kali ini dengan 12 orang :D, teman baru, keluarga baru dan perjalanan serasa akan bermakna kali ini.

Saat di Cisurupan :D

Saat di Cisurupan 😀

Dari Cisurupan ke Camp David (05.30 WIB) transportasi yang ada adalah mobil bak pick-up, dengan biaya per orang adalah Rp.20,000,-. Jalan menuju Camp David itu ngeri-ngeri nyesss, bukan karena sopir nya, namun karena jalannya yang nanjak dan berlubang, buat kami yang ada di bak bagai harus benar-benar awas jika mobil melewati lubang. Banyak canda tawa, senyum lepas terurai ke angkasa seperti melepas penatnya Jakarta yang memang semakin hari semakin penuh dengan kepulan asap kanlpot, asap rokok, jalan berlobang, preman, tukang parkir liar, joki three in one dan segala macam jenis dilema Jakarta.  Tak terasa sepintas pikiran tentang Jakarta lenyap ketika sampai di Camp David.

Cisurupan - Camp David via Mobil Pick-Up

Cisurupan – Camp David via Mobil Pick-Up

Angin kencang menghampiri tubuh ini, udara dingin menusuk kulit dan matahari tak malu-malu menyambut kami di Camp David. Terang, segar ditemani kepulan asap solfatara di Gunung Papandayan (suasana yang ingin gw ulangi lagi). Seperti biasa kawasan Gunung Papandaya dikelola oleh pemerintah melalui Dinas Kehutanan, dan kita WAJIB  mendaftarkan diri dan kelompok kita dalam buku tamu dan ingat seberapa sampah yang kita bawa, dan itulah yang harus kita bawa turun juga nanti tapi kalo bisa lebih :D. Untuk retribusi di Gunung Papandayan ini adalah sebesar Rp. 2,000,- , cukup murah bukan, dibandingkan kita nge-mall nonton bioskop atau sekedar ngopi di Starbucks dimana pemandangan disini jauh lebih indah ketimbang lo liatin “Paha” nya Cherybell atau JKT48 :D.

Continue reading

Risalah Backpacker & Backpacker “Wannabe”

Backpacker adalah suatu cara seseorang untuk traveling dengan low-cost, low-budget,  menggunakan mass transport, independent, no-fixed schedule, tas carrier menggantung, day-pack di dada dan lainnya. Dimana hal ini menjadikan trend berwisata ini terkenal bagi anak-anak muda yang mempunyai jiwa “bak kobaran api” yang membara dan tentunya dengan budget menggantung seperti saya :D.

Gambar 1. Backpack ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Gambar 1. Backpack ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Yah, menjadi seorang backpacker adalah suatu hal yang menarik, baik dari segi pengalaman, gelak tawa, peluh dan sedih dalam perjalananya. Dan salah satunya adalah pengalaman traveling ke Pangandaran – Pantai Batu Karas – Green Canyon dengan kendaraan bermotor “bebek”,  perjalanan yang memakan waktu hampir 14 jam dari Yogyakarta dengan carrier di punggung, angin malam menghantam rusuk, jalan berlubang menganga, kuburan dll. :D. Dan jadilah itu sebuah rangkaian cerita “eternal” dalam diri pribadi teman-teman seperjalanan saya waktu itu. Yah, itu adalah cara saya menghargai “Indonesia”.

Gambar 2. Travel to Green Canyon

Gambar 2. Travel to Green Canyon

Namun, tak semua orang bisa dipukul rata dalam idealism nya untuk ber-backpacker namun ingin dikatakan seorang backpacker, kenapa ?, ya, disinilah saya berpikir mengenai hal yang bernama “Backpacker Wannabe”. Seseorang yang ingin dikatakan sebagai backpacker, namun dalam perjalannya ogah ‘tersiksa’ naik kereta ekonomi lah, pengennya yang executive, kita mau nya nenda mereka maunya di hotel, kita makan sarden mereka maunya bli siap saji…huuuppsss…

Gambar 3. Backpacker hostel room

Gambar 3. Backpacker hostel room

Gambar 4. Hemm...is that yours?

Gambar 4. Hemm…is that yours?

Jadi saran saya ketika hendak ber-traveling dan mencari travelmate tanyakan baik-baik di depan ga papa kan terbuka, jujur itu memang ‘sakit’, mulai dari itinerary kita, habit kita, share cost, maunya gimana agar mixed dalam perjalanan, tidak sebaliknya. Karena terjadi perbedaan itinerary dan cara temen-temen traveling akan menyusahkan perjalanan dan nantinya waktu kita pun hanya terbuang percuma untuk misah misuh ga jelas dan ga bisa menikmati liburan kita.

Sebelum menutup, jadilah seorang traveler yang bijak bukan hanya sebagai penikmat alam namun cintailah alam, bawa trash bag lebih untuk sampah yang kalian bawa, satu dari kalian membuang sampah maka yang lain akan mengikuti, jika satu dari kalian peduli dengan sampah maka orang lain akan mengikuti juga.

Jaga Lingkungan, Lestari Indonesia.