Catatan Perjalanan Annapurna Base Camp [Part 1]

Hai, kembali lagi ke blog ini sekitar dua bulan belum gw update tulisan disini, dan tulisan kali ini adalah salah satu tulisan yang setiap ketikan kata yang gw tulis adalah kenangan dan pengalaman selama perjalanan gw dari Indonesia ke Nepal. Dan semoga tulisan ini bias bermanfaat buat lo semua yang mau berangkat trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) di Nepal.

Perjalanan gw ke Nepal adalah salah satu bentuk “target dan hadiah” setelah banting tuluang untuk mengerjakan thesis dan  keberhasilan lulus pasca sarjana, jadi ini adalah salah satu bentuk penyemangat gw untuk cepet-cepet selesai beresin thesis. Dan tiket untuk perjalanan pergi dan pulang dari Indonesia ke Nepal sudah gw pesan sejak bulan November 2016 dengan rajin mantengin harga tiket dari hari ke hari sehingga dapet harga Indonesia ke Nepal dengan transit di Malaysia adalah di harga Rp. 3,500,000,-. Sekilas ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani perjalanan Indonesia ke Nepal, salah satunya adalah Malindo Air, awalnya gw sangsi dan ragu sama maskapai ini, karena ada logo si singa yang citranya kurang baik di Indonesia dengan delay dll. nya hehehe.. namun Malindo Air menurut gw cukup baik untuk dengan harga tersebut karena ada LCD ada film Hollywood, Bollywood, Thamel, Indonesia dll. Dan juga dapet makan baik dari Indonesia ke Malaysia dan Malaysia ke Napal. Cukup rekomen untuk naik maskapai ini.

Seperti perjalanan gw yang udah-udah, gw cuman jalan sendiri dan sempet posting di Backpakcer Indonesia (BPI) tentang rencana perjalanan ini, namun tanggal nya tidak pas, selisih sehari. Jadi gw putuskan untuk jalan sendiri saja, dengan beberapa persiapan yaitu peta, global positioning system (GPS), obat pribadi, jacket dll.

13 April 2017 (Day 1)

Hari yang ditunggu telah tiba, penerbangan dari Indonesia – Malaysia – Nepal, taksi dari kantor (daerah Sudirman) mengantar gw ke bandar udara Soekarno – Hatta, supir taksi dengan rasa penasaran melihat apa yang gw bawa bertanya “Mau ke mana mas?”, hem gw jawab mau jalan-jalan pak hehe.. “Itu bawaannya banyak yak?”, iya pak, mau ke gunung eheh… l!@#&^%!@#*!&^@# dan obrolan berlanjut sepanjang perjalanan sampai bandara. He was a nice driver 😀 .

Penerbangan dari Soekarno-Hatta menuju Malaysia cukup lancar dan tepat waktu oleh maskapai ini, di dalam pesawat pramugari yang ramah dan tentunya makanan yang ditunggu-tunggu :D, penerbangan 2.5 jam ini tak akan terasa bosan karena ada hiburan yang disediakan. Sampai di bandar udara Kuala Lumpur (Malaysia) gw lanjut ke gate selanjutnya untuk penumpang transit, di kejauhan gerbang keberangkatan tersebut terlihat ramai dengan orang-orang Nepal yang terlihat seperti orang India.

Menunggu penerbangan Malaysia ke Nepal, gw bertemu dengan tiga orang yang wajahnya terlihat asing yang sepertinya ia adalah pendaki senior atau orang terkenal di bidang pendakian gunung. Terang saja setelah mengobrol dengan salah satu dari mereka ialah Mas Iqbal, seorang dokter yang akan ikut dalam ekspedisi ke Yala Peak di Nepal. Obrolan berlanjut, ia adalah Muhammad Gunawan atau Kang Ogun, seorang pendaki senior Indonesia yang telah berjuang melawan cancer dan akan melakukan pendakian ke Gunung Everest tahun depan (2018). Gw bersyukur bertemu orang-orang hebat dalam perjalanan ini, dan nanti di Kathmandu gw akan bareng dengan rombongan Kang Ogun di hostel hingga akan berpisah untuk keberangkatan ke Annapurna.

Penerbangan dari Malaysia ke Kathmandu kurang lebih 4 jam, perjalanan lancar sedikit sekali bouncing akibat cuaca kurang baik, diluar terlihat hanya kelap kelip lampu dari ketinggian. Mata terpejam dan terbangun lagi, dan gw masih di atas sini, hingga ketinggian perlahan menurun dan mendaran di Tribuvan Airport Kathmandu (Nepal). Benar kata orang bijak, bandar udara adalah gerbang pertama untuk melihat bagaimana maju atau tidaknya negara tersebut, hal tersebut gw rasakan ketika tiba di Tribuvan, jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta atau Ngurah Rai, kita sedikit berbangga, karena bandar udara kita jauh lebih baik (Balinese Pride).

Apa saja yang diurus ketika di Bandara?

  1. Pertama urus Visa Nepal, visa di Nepal adalah Visa On Arrival (VOA) jadi langsung bisa diurus ketika di bandara, biaya tergantung lama visa yang diajukan. Gw bayar $25 USD untuk 15 hari. Untuk apply visa dengan dua cara, yaitu isi formulir di kertas atau isi formulir di personal computer yang telah disediakan. Yang harus disiapkan adalah foto ukuran paspport dan jangan lupa pasa passport yah.
  2. Setelah selesai, Visa disetujui, lanjut ke bagasi
  3. Di bandara ini juga bisa langsung menukarkan USD kamu ke NPR (Nepal Rupee), ada yang bilang rate di bandara lebih bagus ketimbang di luar. Pengalaman gw kemarin, gw ga nuker dollar di bandara, karena sudah di jemput mbak vita. Rate di Kathmandu leih baik dari Pokhara. Di Kathmandu 112 npr per 1usd, di Pokhara 100 npr per 1 usd.

Sampai keluar bandara, gw bareng dengan tim Kang Ogun, dimmana Mbak Vita (Istri Kang Ogun) telah menunggu di sedari tadi. Wah gw merasa beruntuk diselamatkan di Kathmandu dengan orang-orang baik ini. Dari bandara menuju ke Shakti Hotel di daerah Thamel (pusat backpakcer di Nepal), dan kebetulan saat itu sedang bertepatan dengan tahun baru kelender Nepal, jalanan sunggu ramai, penuh klakson, pesta dan debu tentunya hehe.

Oya, untuk reservasi hotel gw menggunakan http://www.booking.com

Kang Ogun dan Team 😀

 

14 April 2017 (Day 2) ~ Ngurus TIMS  dan ACAP

Hari ke dua di Kathmandu, pagi yang sangat cerah awan biru terlihat dari celah jendela hotel gw. Rencana hari ini adalah pergi ke Nepal Tourism Board (NTB) untuk mengurus izin (permit) untuk trekking di Nepal. Pagi itu gw dan tim kang ogun, mbak vita, mas Iqbal dan pak Frans sarapan pagi bersama di hostel, lempar cerita-cerita dan pengalaman mereka tentang tujuan pendakian kang ogun, dan mbak vita yang menjadi salah satu kartini Indonesia. Gw takjub dan bersyukur bisa berbicara sedekat ini dengan mereka, orang-orang yang sangat sulit dijumpai di Indonesia, dan akhirnya bisa sedekat ini dengan mereka.

Setelah sarapan pagi gw pergi untuk mengurus permit, berbekal informasi dari petugas hostel dan peta yang disediakan di hostel. Permit yang harus di urus di NTB adalah Trekker’s Information Management System (TIMS) dan Annapurna Conservation Area Permit (ACAP), biasa masing-masing permit adalah 2000 NPR baik untuk TIMS dan ACAP. Apa saja yang diperlukan untuk mengurus permit tersebut, yaitu foto ukuran passport 4×6 warna ataupun hitam putih tidak masalah dan passport, jika diperlukan jangan lupa bawa fotocopy passport ya. Untuk alamat NTB ada di jalan Pradarshani Marg, Kathmandu. Selain di Kathmandu, kantor NTB juga ada di Pokhara jadi tenang aja.

Nepal Tourism Board (NTB), tempat pengurusan permit TIMS dan ACAP

Bagaimana jika gw males ngurus permit?, bagi lo pada yang males ngurus permit lo bisa pake fasilitas yang biasa disediakan oleh hostel baik di Kathmandu atau di Pokhara, dengan biaya 45 usd. Jadi, semua terserah lo, mau urus sendiri atau urus pake jasa hostel.

Trekker’s Information Management System

Annapurna permit atau ACAP

Hari ini gw sempetin untuk cari kartu lokal namanya NCell, untuk biaya beli kartu dan paket internet 1GB harganya 1000 npr, dengan terlebih dahulu mengisi formulir dan foto di lembar isian. Beda dengan di Indonesia, yang lo ga usah isi formulir data diri, yang kebanyakan hanya sekedar ngisi aja hahaha. Keliling seputaran Thamel yang merupakan salah satu pusat backpacker di Nepal, sepanjang jalan yang gw liat adalah toko-toko yang menjual keperluan pendakian seperti down jacket, trekking pole, botol minum, celana quick dry, kompor dll. tapi merek tersebut kebanyakan KW atau ga asli, ada The North Face (paling banyak di palsuin), Archteryx, Mammut, Marmot, Columbia dll. Namun, jika mau cari yang asli juga ada, ada 3 atau 4 counter yang menjual barang-barang original di sekitar Thamel, ada 2 counter The North Face, 1 Marmot, 1 Black Yak, 1 Moutain Hardware tinggal pilih mau masuk kemana haha. Untuk harga, gw gak shock ketika masuk ke counter The North Face, sepatu yang di Jakarta harganya 4.2 juta bisa disana harganya 2.6 juta (separuh harga) dengan model yang sama, begitu juga dengan kacamata Julbo harganya lumayan dibandingkan di Indonesia. Hehe.. kalo mau belaja silahkan hehe.

Pagi itu di Thamel

Besok hari gw rencana untuk berangkat dari Kathmandu ke Pokhara, dimana untuk trekking di ke Annapurna Base Camp (ABC) kota terdekat untuk menuju Nayapul adalah dari Pokhara. Untuk ke Pokhara ada dua pilihan moda transportasi yaitu darat (bis) dan udara. Untuk tiket bis berkisar antara 600-900 npr dan pesawat kira-kira 80 usd (informasi temen). Nah, untuk bis ke Pokhara gw pesen di hotel dengan harga 700 npr yang akan berangkat dari Kantipath road jam 07.00 pagi, lewat dari itu sudah ga ada bis lagi. Selain beli di hostel, lo juga bisa beli langsung di Kantipath road, pastikan lo dateng agak pagi sekitar jam 06.00 am lo uda disana.

 

15 April 2017 (Day 3) ~ Bis tipu-tipu dan Ketemu Tim

Pagi ini gw bangun lebih dulu dari pada alarm hp gw, mungkin karena berasa semangat dari semalem. Mandi dan sarapan gw berangkat dari hostel kira-kira jam 06.15, dengan estimasi jalan kaki kurang lebih 10 menit. Di Kantipath road, pagi itu sudah berjejer bis-bis yang akan menuju Pokhara, kurang lebih ada 20 bis yang akan berangkat ke Pokhara pagi itu. Gw tunjukin tiket gw ke salah satu pengemudi bis dan bertanya bis gw kira-kira sebelah mana, dengan gesture yang bisa gw baca (kepala geleng-geleng), dia berkata “No bus…”, okay gw masi terima, gw jalan lagi ke supir berikutnya, sama dengan gesture geleng-geleng, satu supir lagi di bilang “Perhaps two or three bus from here”, oke gw masih jalan dan akhirnya dari ujung ke ujung dan balik lagi ke ujung bisnya ternyata ga ada, what the f*ck, the hostel guy lied to me. Dan pas itu juga gw telpon si hostel tempat gw nginep, dan baru ngomong “ Hallo good morning… “ pulsa gw abis. Anjir lah… Dan solusi terakhir adalah gw beli tiket bis lagi untuk ke Pokhara dengan harga 600 npr, lebih murah 100 npr dari pada di hostel. Khan taiiikk…

Di dalem bis, gw masih belum bisa terima dengan kejadian ini, dan gw berjanji balik ke Kathmandu, hal yang pertama gw lakukan adalah dating ke hostel itu dan minta duit gw dibalikin!!!. Tepat sekitar jam 07.00 bis mulai berangkat, bis disini dilengkapi AC dan kipas angin haha.. jadi kalo lagi musim panas AC dipake, kalo lagi musim dingin lo cukup idupin kipas angin aja. Asyiknya sejam perjalanan kita sering dapet “break” untuk buang air kecil, dan lunch break. Total 4 kali break untuk sampe di Pokhara.

Salah satu tempat istirahat bus menuju Pokhara

Jalan menuju Pokhara akan ditempuh kurang lebih 8 jam perjalanan, dengan pemandangan perbukitan dan latar belakang pegunungan beratapkan salju di kejauhan. Sepanjang perjalanan gw perhatiin berapa kali truk yang berpapasan atau yang disalip, bentuknya unik dan dengan gambar-gambar dewa (siwa, ganesha) atau symbol-simbol Hindu, dan mayoritas truk yang gw liat mereknya Tata Motors, pabrikan India.

Pemandangan perjalanan menuju Pokhara

Disalah satu tempat “break” secara tidak sengaja gw melihat seseoarang dengan sandal jepit Ando dan tshirt “Rip Curl Bali” berwarna hitam duduk di tangga ketika gw selesai buang air kecil. Gw sapa orang itu, “Hey.. is it flip-flop from Indonesia?”, orang itu terkejut dan langsung membalas “ How do you know?”, I’m from Indonesia mate. Awal obrolan itu berlanjut dengan berkenalan, dan ia adalah Tim, seorang Karibia yang tinggal di Bali karena bapaknya kerja di Timor Leste, Ibu bekerja di green school Ubud, dan dua adiknya sekolah di Green School Ubud. What the fuck mate, world so closed, so you’re living in Bali now, yes I’am. Cerita-cerita dia baru balik dari Everest Base Camp (EBC) dan mau leyeh-leyeh di Pokhara dan ga mau trekking lagi (itu kata dia sih), eh see you Tim, bis gw mau jalan.

Sampe di terminal bus di Pokhara, lo akan ketemu banyak “cab” atau taksi, yang ukurannya mini dibandingkan taksi-taksi di Indonesia. Saking mininya mungkin maksimal 4 orang jika ditambah tas carrier lo, bakalan desek-desekan didalem. Dari terminal bis ke Lakeside Pokhara (pusat nya Pokhara) paling jalan kurang lebih 2.6 km, kalo naik taksi lo bayar sekitar 400 npr, jadi coba cari barengan jadi lebih murah. Gw dapet barengan 3 bule cewe, jadi share bayar 100 npr per orang. Hehe…

Hostel gw di Pokhara namanya Peace Eye hostel yang uda gw booking sebelumnya di booking(dot)com, harganya 700 npr per malam, jadi mayan lah hehehe, ga mahal-mahal amat. Sembari duduk-duduk nunggu kamar gw dibersihin, ga sengaja gw ketemu lagi sama Tim yang lagi cari hostel. Hey Tim, see you again :D, wahh obrol dan obrol akhirnya kita akan bareng ke ABC, tapi besok setelah TIMS dan ACAP doi selesai diurus sekitar jam 10 am. Alright, jadi besok ke ABC gw ga sendiri, jadi jalan bareng Tim, yeah.. :D.

Tampak depan Peace Eye hostel

Kamar denga 2 bed, 700 npr dan kamar mandi di luar

 

16 April 2017 (Day 4) ~ Fcuk ATM and Going to New Bridge

Wahh pagi yang cerah di Pokhara, gw terbangun jam 5.30 am. Ketika pintu gerbang hostel pun belum terbuka. Gw inisiatif untuk ambil kamera dan keliling pagi2 di sekitaran danau di Pokhara. Masih sepi, dan beberapa turis sudah siap-siap dengan carrier nya untuk pergi trekking atau malah balik ke Kathmandu. Udara disini boleh di bilang kaya di bedugul segernya, banyak pepohonan dan sangat berbeda dengan di Kathmandu yang berdebu itu hahaha…  Menjelang sarapan pagi, gw bertemu dengna Tim di café kopi namanya AM/PM Coffee, ngobrol-ngobrol tentang rencana untuk hari ini yaitu, Tim ambil duit di ATM, nungguin permit dan les gho.

Menjelang jam 10 am, permit Tim sudah ditangan, namun masih kendala dengan mesin ATM yang ada di Pokhara, kata Tim, mesin ATM disini terlalu tua untuk kartunya, jadi hampir semua mesin ATM di Lakeside yang dimasuki tidak bisa diambil uangnya, jadilah kita muter-muter hingga akhirnya salah satu ATM ketika menuju Nayapul berhasil ditarik.

Menuju Nayapul dari Pokhara akan ditempuh 1.5 jam perjalanan dengan taksi, namun jika naik bis local estimasi kurang lebih 3-4 jam, karena banyak berhenti dan istirahat. Perjalanan ke Nayapul di kejauhan lo bisa liat Annapurna II dengan gagahnya, dan ini pertama kali gw liat langsung gunung ditutupin salju hehehe. Oya, tarif taksi dari Pokhara ke Nayapul itu 2000 npr, lo bisa tanya ke hostel untuk pesen taksi, dan tarif taksi fixed price.

Way to Nayapul

Sampai di Nayapul, matahari sungguh terik, beberapa jeep dan taksi ngetem di warung dimana gw dan tim turun. Trekking gw kali ini adalah langsung ke ABC dan tidak ke Poonhill, karena gw berfikir karena waktu yang gw punya tidak cukup untuk trekking ke Poonhill kemudian lanjut ke ABC. So,let’s go to ABC, target hari ini adalah bermalam di New Bridge.

Dari Nayapul perjalanan berlanjut ke Siwai, mentari sungguh menunjukkan sinarnya tak hentinya, jalanan kerikil sedikit berdebu, pinggir jalan sungai dan beberapa pendaki yang telah turun dari ABC dengan senyum lebar. Jangan lupa, di Nayapul kira-kira 1 km berjalan dari ujung jalan, akan ketemu dengan pos checkpoint untuk TIMS. Sedangkan untuk ACAP akan dilakukan pengecekan di Chomrong. Lanjut berjalan setelah pengecekan permit, beberapa menawarkan untuk naik taksi atau jeep mereka, namun dengan harga yang cukup mahal. Bayangin aja 1000 rupee satu orang untuk ke Siwai, gila aja. Namun idealisme gw sama Tim luluh juga ketika kita bisa nawar harga jeep ke Siwai jadi 400 rupee satu orang, oke mungkin ini jalan terbaik hahah…

Checkpoint TIMS

Siwai adalah tempat terakhir dimana busa, taksi dan jeep mangkal. Kalian bisa naik kendaraan ketika turun dari ABC langsung ke Nayapul atau langsung ke Pokhara. Namun jika naik jeep dan taksi harganya lebih mahal.

Dari Siwai kita mulai berjalan lagi menuju New Brigdge, kurang lebih 3 jam perjalanan menuju New Bridge. Naik dan turun sudah menjadi hal lumrah di trekking ini, pemandangan yang sangat indah awan tipis-tipis, bebatuan metamorf terpajang di dinding bukit, lembah dengan suara deru air sungai mengalir. Masuk pepohonan dengan tangga-tangga batu tersusun rapih untuk pendaki. New Bridge terlihat dari kejauhan di persimpangan jalan menuju Landrukh dengan beberapa lodge disana, tim yang lebih dulu sampai telah memesan kamar untuk kita berdua. Oya, makanan disini enak dan disini gw baru tahu jika kalian mandi, akan kena charge jika make hot water.

Kiri ke ABC via Poonhill, Kanan langsung ke ABC

Lodge di New Bridge, kalo mandi bayar yah hehe

Kapok Naik Gunung

Kata itu terumpat delapan tahun silam (2007), ketika teriknya matahari di Gunung Lawu mematahkan semangat, debu kering yang menyesakkan kerongkongan dan keringat yang terus mengucur membasahi baju compang waktu itu. Bingung juga kenapa gw naik gunung waktu itu, dari silsilah belum ada keluarga di rumah yang pernah mendaki gunung, dan rayuan maut saudara-saudara Teknik Geofisika UPN ’05 lah yang pada akhirnya gw mencoba naik gunung. Dan ini adalah pendakian pertama dan gagal sampai puncak, bukan catatan buruk sebenarnya, namun langkah pertama itu adalah awal kaki gw melangkah lebih jauh untuk berkelana.

“Peluhku menguap bersama panas yang terik menyengat badan, tenggakan segelas air putih menyegarkan hawa kala itu”

Gunung Lawu di tahun 2007, awal kaki ini melangkah untuk menjelajah

Gunung Lawu di tahun 2007, awal kaki ini melangkah untuk menjelajah

Kembali dari Gunung Lawu, sempat terpikirkan untuk tak lagi untuk mendaki gunung, karena alasan capek, lutut sakit dan nyeri ketika sudah sampai kost. Tak ada nikmatnya. Dan, di kesempatan berbeda, ada pertanyaan dari Ibu, Ary kamu ngapain naik gunung ?, Naik gunung terus kerjamu yah… Duh Ibu, itu pertanyaannya susah, cuman bisa di jawab kalo uda naik gunung, dan beberapa pertanyaan aneh dari beberapa teman-teman di Bali.

Apa sih yang menarik dari mendaki gunung? Hanya lelah yang kamu dapat, keringat dan waktu yang seharusnya kamu habiskan untk pergi ke Mall atau kumpul bareng temen-temen motormu. Man, tapi dengan apa yang telah gw lakuin hanya satu yang gw dapet dari mendaki gunung yaitu Pengalaman, yang nantinya bercabang-cabang menjadi suatu rangkaian deretan pengalaman hidup di tiap pendakian. Gunung yang sama kita daki untuk kali ke dua atau ke tiga akan mempunyai cerita yang berbeda dalam pendakiannya, lhooo kok gw jadi suka ndaki gunung gini ? ahh.. ga konsisten nih…

Saat dimana tangis haru mu itu tak memandang Pira maupun Wanita

Saat dimana tangis haru mu itu tak memandang Pira maupun Wanita

Hemmm… baiklah jujur gw menjadi salah satu manusia di bumi yang gemar mendaki semenjak turun dari pendakian pertama, ternyata pendakian pertama adalah langkah awal dari pendakian kedua, ketiga dan…… Mendaki menjadi hobby, mendaki menjadi falsafah hidup dan framework dalam mencapai sesuatu tujuan. Dari sini juga gw ketemu dengan teman pendaki yang selanjutnya menjadi sahabat dalam beberapa pendakian gunung di Jawa Barat.

Pendakian di Gunung Cikuray ; Tak saat dimana kita bisa bersama seperti ini, berbagi senyum untuk senyum berikutnya :D

Pendakian di Gunung Cikuray ; Tak saat dimana kita bisa bersama seperti ini, berbagi senyum untuk senyum berikutnya 😀

Boleh lah ya gw cerita pengalaman gw naik gunung disini biar temen-temen pada “kapok naik gunung “ lagi 😀 . Ada hal yang pertama yang gw ambil dari pendakian perdana gw di 2007, yaitu persahabatan, pengenalan karakter masing-masing kawan gw waktu itu. Iya, mulai dari sana ternyata kita tau mana yang emang fight, mana yang ngeluh but whatever dengan apa karakaternya, karena dari sanalah kami/kita bisa mendaki bersama dan turun dengan selamat karena itu menurut gw yang lebih penting dibandingkan hanya sekedar mengabadikan moment di atas sana.

Akhir kata, buat temen-temen yang sudah sering mendaki tetaplah membumi walaupun banyak gunung telah kalian “taklukan” gw yakin pengalaman-pengalaman itu akan membuat kalian lebih mempunyai pengalaman dan value di kehidupan, begitu juga buat temen-temen yang baru memulai mendaki gunung jaga dan rawatlah alam , tinggalkanlah jejak mu bukan sampah mu, bawalah cerita dan photomu bukan edelweiss yang dipetik di atas sana.

Deretan tenda warna-warni ini akan selalu menjadi kenangan dan hangatnya sapaan mereka

Deretan tenda warna-warni ini akan selalu menjadi kenangan dan hangatnya sapaan mereka (Rinjani 2014)

 

Salam Lestari –  Wijayaryputu